JawaPos.com – Menjadi workaholic sering dianggap sebagai tanda dedikasi tinggi, padahal psikologi menunjukkan dampaknya jauh lebih merusak dari yang disadari.
Terlalu terfokus pada kerja menciptakan ketidakseimbangan yang pada akhirnya berujung pada burnout dan kerusakan di berbagai area kehidupan.
Riset membuktikan bahwa produktivitas tertinggi justru datang dari mereka yang menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan aspek kehidupan lainnya.
Dilansir dari laman YourTango pada Rabu (17/6), berikut empat tanda yang berulang kali dilakukan oleh seseorang yang hidupnya benar-benar hanya berputar di sekitar pekerjaan semata.
1. Terlalu serius menanggapi umpan balik dan kritik
Tidak ada seorangpun yang sempurna dalam setiap aspek pekerjaan, dan umpan balik adalah bagian alami dari pertumbuhan profesional.
Namun bagi mereka yang terlalu beridentifikasi dengan pekerjaan, kritik sekecil apapun terasa seperti serangan terhadap harga diri mereka.
Di dalam diri mereka tertanam keyakinan bahwa rasa berharga hanya bisa dipertahankan jika mereka memberikan segalanya tanpa celah.
Ketika umpan balik datang dan mengusik gambaran sempurna itu, respons yang muncul adalah defensif bukan reflektif.
Padahal secara objektif, kritik konstruktif adalah salah satu alat paling efektif untuk mengetahui area yang perlu dikembangkan lebih lanjut.
Ketidakmampuan menerima umpan balik dengan lapang dada justru memperlambat pertumbuhan profesional yang ingin sangat mereka capai.
2. Tidak bisa memutus koneksi dari pekerjaan
Membawa pekerjaan ke mana-mana, bahkan ke acara keluarga atau pertemuan dengan teman, bukan tanda produktivitas melainkan ketidakmampuan melepaskan diri.
Kesan yang ingin ditampilkan mungkin adalah dedikasi, namun yang terjadi justru kehabisan ruang untuk berpikir secara kreatif dan inovatif.
Ide-ide segar dan terobosan baru hampir selalu lahir dari momen-momen istirahat ketika pikiran diberi kebebasan untuk mengembara.
Tanpa jeda yang nyata, seseorang akan terus terjebak dalam urusan teknis dan tidak pernah naik ke level berpikir yang lebih strategis.
Data dari awal 2025 menunjukkan bahwa hampir 74 persen tenaga kerja di Amerika mengalami gejala burnout setidaknya pada tingkat moderat.
Ketidakmampuan disconnect bukan hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga menguras orang-orang di sekitar yang menginginkan kehadiran penuh.
3. Menjadikan karier sebagai satu-satunya identitas diri
Mengidentifikasi diri secara berlebihan dengan satu peran tunggal adalah fondasi yang sangat rapuh untuk membangun rasa diri yang sehat.
Seseorang menjalani banyak peran dalam kehidupannya setiap hari, dan keseluruhannya berkontribusi pada pengalaman hidup yang kaya dan bermakna.
Ketika hampir semua peran itu hanya dijalankan di tempat kerja, cara pandang terhadap diri sendiri menjadi sangat sempit dan tidak seimbang.
Jika pekerjaan suatu hari hilang, entah karena PHK atau perubahan industri, orang seperti ini akan kehilangan seluruh identitas sekaligus.
Pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti apa yang benar-benar disukai atau apa yang memberi kebahagiaan sejati sering tidak bisa mereka jawab.
Memperluas definisi diri di luar pekerjaan adalah langkah kesehatan psikologis yang krusial dan sering kali diabaikan oleh para workaholic.
4. Kesulitan menjaga hubungan yang sehat di luar pekerjaan
Hubungan dengan keluarga dan teman adalah aset kehidupan yang nilainya jauh melampaui pencapaian karier apapun yang pernah diraih.
Namun workaholic sering menempatkan hubungan-hubungan ini di urutan terbawah prioritas, dan orang-orang terdekat pun merasakannya.
Sindiran halus dari keluarga atau teman tentang kebiasaan kerja yang berlebihan adalah sinyal yang seharusnya tidak diabaikan begitu saja.
Ahli terapi pernikahan dan keluarga menyebut workaholisme sebagai ancaman nyata bagi hubungan, namun kerap tidak terdeteksi karena justru dipuji masyarakat.
Tidak seperti kecanduan lain yang mudah dikenali, obsesi terhadap kerja justru sering dianggap sebagai sesuatu yang patut dikagumi secara sosial.
Ketika pekerjaan terus mengambil porsi yang seharusnya menjadi milik hubungan, koneksi emosional yang bermakna perlahan tapi pasti akan memudar.