← Beranda
Seni Melepaskan Diri Secara Emosional: 7 Cara untuk Tidak Terlalu Peduli dengan Apa yang Dipikirkan Orang Lain Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahSenin, 15 Juni 2026 | 22.28 WIB
seseorang yang tidak peduli apa yang dipikirkan orang lain./Magnific/freepik

JawaPos.com - Banyak orang menjalani hidup seolah-olah berada di bawah sorotan yang tak pernah padam. Setiap keputusan, penampilan, hingga pilihan hidup sering kali diukur berdasarkan kemungkinan penilaian orang lain.

Akibatnya, seseorang menjadi mudah cemas, sulit menjadi diri sendiri, dan terus-menerus mencari persetujuan dari lingkungan.

Padahal, menurut psikologi, terlalu memikirkan apa yang dipikirkan orang lain dapat menguras energi mental dan menghambat kebahagiaan. Bukan berarti kita harus menjadi pribadi yang cuek atau mengabaikan masukan orang lain sepenuhnya.

Yang diperlukan adalah kemampuan untuk melepaskan keterikatan emosional secara sehat terhadap penilaian yang tidak benar-benar penting.

Dilansir dari Expert Editor pada Minggu (14/6), terdapat tujuh cara yang dapat membantu Anda berhenti terlalu peduli terhadap pendapat orang lain dan menjalani hidup dengan lebih tenang.

1. Sadari bahwa kebanyakan orang lebih sibuk memikirkan diri mereka sendiri

Fenomena yang dikenal dalam psikologi sebagai spotlight effect menjelaskan bahwa manusia cenderung melebih-lebihkan seberapa besar orang lain memperhatikan dirinya.

Ketika Anda melakukan kesalahan kecil atau merasa tidak percaya diri, kemungkinan besar orang lain tidak terlalu memikirkannya. Mereka justru lebih sibuk dengan masalah, kekhawatiran, dan kehidupan mereka sendiri.

Memahami hal ini dapat membantu mengurangi rasa takut akan penilaian orang lain. Anda tidak sedang menjadi pusat perhatian setiap saat seperti yang dibayangkan pikiran Anda.

2. Pisahkan kritik yang membangun dan opini yang tidak penting

Tidak semua pendapat memiliki nilai yang sama. Salah satu tanda kedewasaan emosional adalah mampu membedakan antara kritik yang membantu perkembangan diri dan komentar yang hanya berasal dari preferensi atau penilaian subjektif orang lain.

Tanyakan kepada diri sendiri:

Apakah orang ini benar-benar mengenal saya?
Apakah pendapatnya dapat membantu saya menjadi lebih baik?
Apakah kritik tersebut berdasarkan fakta atau sekadar opini?

Jika jawabannya tidak, Anda tidak perlu membawa komentar itu ke dalam hati.

3. Berhenti menjadikan penerimaan orang lain sebagai sumber harga diri

Menurut psikologi, orang yang menggantungkan harga dirinya pada validasi eksternal cenderung lebih rentan terhadap kecemasan dan stres.

Jika kebahagiaan Anda bergantung pada pujian, maka kritik kecil pun dapat menghancurkan kepercayaan diri.

Sebaliknya, bangunlah harga diri dari dalam diri sendiri. Hargai pencapaian, nilai, dan usaha yang telah Anda lakukan tanpa harus selalu menunggu pengakuan dari orang lain.

Ketika Anda mengetahui nilai diri sendiri, pendapat orang lain tidak lagi memiliki kekuatan yang terlalu besar.

4. Ingat bahwa Anda tidak dapat menyenangkan semua orang

Salah satu sumber kelelahan emosional terbesar adalah keinginan untuk membuat semua orang puas.

Namun kenyataannya, tidak ada manusia yang disukai oleh semua orang. Bahkan tokoh-tokoh paling terkenal dan sukses sekalipun memiliki penggemar sekaligus pengkritik.

Jika Anda terus berusaha memenuhi ekspektasi setiap orang, Anda hanya akan kehilangan identitas diri sendiri.

Psikologi menunjukkan bahwa individu yang memiliki batasan pribadi yang sehat lebih mampu mempertahankan kesejahteraan mental dan menjalani hidup dengan lebih autentik.

5. Fokus pada hal yang dapat Anda kendalikan

Anda tidak dapat mengendalikan pikiran, komentar, atau penilaian orang lain. Namun Anda dapat mengendalikan:

Sikap Anda.
Cara Anda merespons kritik.
Pilihan hidup yang Anda buat.
Nilai dan tujuan yang Anda pegang.

Berfokus pada hal-hal yang berada dalam kendali membuat pikiran menjadi lebih tenang dan mengurangi kecenderungan untuk terus memikirkan opini orang lain.

Pendekatan ini juga sejalan dengan prinsip psikologi modern dan filosofi Stoikisme yang menekankan pentingnya mengarahkan energi pada hal-hal yang bisa kita pengaruhi.

6. Latih kemampuan menerima ketidaksempurnaan

Banyak orang terlalu takut dihakimi karena mereka ingin terlihat sempurna. Padahal, kesempurnaan adalah standar yang tidak realistis.

Menurut psikologi, menerima kekurangan diri merupakan bagian penting dari self-compassion atau belas kasih terhadap diri sendiri.

Tidak masalah jika sesekali Anda melakukan kesalahan, tampil tidak sempurna, atau membuat keputusan yang tidak disetujui semua orang.

Kesalahan tidak membuat Anda gagal sebagai manusia. Justru melalui ketidaksempurnaan, seseorang belajar dan berkembang.

Semakin Anda menerima diri sendiri, semakin kecil pengaruh penilaian orang lain terhadap kebahagiaan Anda.

7. Bangun kehidupan yang sesuai dengan nilai pribadi Anda

Orang yang hidup berdasarkan nilai dan tujuan pribadinya cenderung lebih tahan terhadap tekanan sosial.

Tanyakan kepada diri sendiri:

Apa yang benar-benar penting bagi saya?
Kehidupan seperti apa yang ingin saya bangun?
Nilai apa yang ingin saya pegang?

Ketika Anda memiliki arah yang jelas, pendapat orang lain tidak akan mudah menggoyahkan keputusan Anda.

Pada akhirnya, hidup yang dijalani demi memenuhi ekspektasi orang lain sering kali membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri. Sebaliknya, hidup yang selaras dengan nilai dan keyakinan pribadi akan menghadirkan rasa damai yang lebih mendalam.

Pada akhirnya, Anda tidak perlu mendapatkan persetujuan semua orang

Seni melepaskan diri secara emosional bukan berarti menjadi orang yang dingin atau tidak peduli sama sekali terhadap orang lain. Ini adalah kemampuan untuk memahami bahwa kebahagiaan dan harga diri tidak seharusnya ditentukan oleh komentar, penilaian, atau ekspektasi orang lain.

Dengan menyadari bahwa kebanyakan orang tidak terlalu memikirkan kita, memilah kritik yang bermanfaat, membangun harga diri dari dalam, serta fokus pada nilai-nilai pribadi, Anda dapat menjalani hidup dengan lebih bebas dan autentik.

Karena pada akhirnya, orang lain akan selalu memiliki pendapat. Namun, bagaimana Anda memilih untuk menjalani hidup, tetaplah menjadi keputusan Anda sendiri.

EDITOR: Hanny Suwindari