JawaPos.com - Dalam kehidupan sehari-hari, tidak semua orang yang ingin menunjukkan pencapaiannya akan melakukannya secara terang-terangan.
Banyak orang memahami bahwa membual secara langsung dapat menimbulkan kesan negatif, seperti arogan, haus perhatian, atau merasa lebih unggul dari orang lain. Karena itu, mereka memilih cara yang lebih halus untuk menyampaikan keberhasilan, status, atau kemampuan mereka.
Dalam psikologi sosial, perilaku ini sering disebut sebagai humblebragging atau "membual secara terselubung". Istilah ini merujuk pada tindakan menyampaikan kelebihan diri dengan cara yang tampak rendah hati, mengeluh, atau sekadar berbagi pengalaman, padahal tujuan utamanya adalah mendapatkan pengakuan sosial.
Menariknya, penelitian menunjukkan bahwa humblebragging sering kali justru lebih mudah dikenali daripada yang dibayangkan pelakunya. Orang lain dapat menangkap pesan tersembunyi di balik kata-kata yang terdengar sederhana tersebut.
Dilansir dari Expert Editor pada Jumat (12/6), terdapat sembilan frasa yang sering digunakan orang untuk pamer tanpa terdengar seperti sedang membual, beserta penjelasan psikologis di baliknya.
1. "Aku sebenarnya tidak terlalu pintar, cuma beruntung saja."
Sekilas, kalimat ini terdengar rendah hati. Namun sering kali kalimat tersebut muncul setelah seseorang menceritakan prestasi besar, seperti mendapatkan promosi, memenangkan kompetisi, atau meraih nilai tertinggi.
Secara psikologis, frasa ini berfungsi sebagai perlindungan sosial. Seseorang ingin mendapatkan pengakuan atas keberhasilannya tanpa dianggap sombong. Dengan mengaitkan kesuksesan pada keberuntungan, mereka tetap dapat menyampaikan pencapaiannya sambil mempertahankan citra rendah hati.
Namun pendengar biasanya tetap menangkap inti pesannya: "Saya baru saja mencapai sesuatu yang luar biasa."
2. "Aku capek banget, proyek ini bikin aku hampir tidak punya waktu istirahat."
Keluhan tentang kesibukan sering kali menjadi bentuk status simbol modern. Dalam banyak budaya kerja, menjadi sangat sibuk dianggap sebagai tanda bahwa seseorang penting, dibutuhkan, dan memiliki tanggung jawab besar.
Penelitian psikologi menunjukkan bahwa orang sering menghubungkan kesibukan dengan kesuksesan. Karena itu, ketika seseorang terus-menerus menyoroti jadwalnya yang padat, pesan tersembunyi yang ingin disampaikan bisa jadi adalah:
"Saya memiliki banyak pekerjaan karena saya bernilai tinggi."
3. "Aku kaget bisa diterima di sana."
Frasa ini sering terdengar ketika seseorang diterima di universitas bergengsi, perusahaan ternama, atau program yang sangat kompetitif.
Di permukaan, kalimat tersebut menunjukkan kerendahan hati. Namun secara tidak langsung, fokus percakapan tetap tertuju pada pencapaian besar yang baru saja diraih.
Pendengar akhirnya lebih mengingat fakta bahwa orang tersebut berhasil diterima daripada rasa "kaget" yang ia ungkapkan.
4. "Aku tidak tahu kenapa banyak orang meminta saranku."
Kalimat ini terdengar seperti kebingungan yang tulus. Tetapi di baliknya terdapat pesan implisit bahwa banyak orang menghargai pengetahuan, pengalaman, atau keahlian yang dimiliki pembicara.
Psikolog menyebut teknik ini sebagai bentuk validasi tidak langsung. Seseorang tidak mengatakan dirinya ahli, tetapi menunjukkan bahwa orang lain memperlakukannya seperti seorang ahli.
Dengan cara ini, citra kompeten terbentuk tanpa perlu mengatakannya secara eksplisit.
5. "Aku malu sebenarnya membagikan ini."
Media sosial dipenuhi kalimat semacam ini sebelum seseorang mengunggah pencapaian besar, penghargaan, sertifikat, atau momen prestisius lainnya.
Ungkapan "malu" berfungsi sebagai penyangga emosional. Jika orang lain menganggap unggahan tersebut terlalu pamer, pembicara dapat berlindung di balik klaim bahwa dirinya sebenarnya enggan membagikannya.
Padahal tujuan utama unggahan tersebut tetap sama: menunjukkan pencapaian kepada publik.
6. "Aku bahkan tidak belajar terlalu keras."
Frasa ini sering muncul setelah seseorang memperoleh hasil yang mengesankan.
Dari sudut pandang psikologi, kalimat ini dapat meningkatkan persepsi kemampuan alami. Pesan yang tersirat adalah:
"Saya berhasil bukan karena bekerja lebih keras dari orang lain, tetapi karena saya memang memiliki kemampuan yang baik."
Bagi sebagian orang, terlihat berbakat secara alami dianggap lebih mengesankan daripada terlihat bekerja keras.
7. "Aku tidak menyangka bisa menghasilkan sebanyak itu."
Saat membicarakan pendapatan, keuntungan bisnis, atau hasil investasi, beberapa orang menggunakan kalimat seperti ini.
Meskipun terdengar seperti ekspresi keterkejutan, informasi yang paling menonjol tetaplah jumlah pencapaian finansial yang mereka peroleh.
Dalam komunikasi sosial, teknik ini memungkinkan seseorang membagikan kesuksesan ekonomi tanpa harus secara langsung berkata, "Saya menghasilkan banyak uang."
8. "Masalahnya, ekspektasi orang terhadapku sekarang terlalu tinggi."
Kalimat ini tampak seperti keluhan. Namun di baliknya terdapat pesan bahwa pembicara dianggap sangat kompeten atau sukses oleh lingkungan sekitarnya.
Ini adalah salah satu bentuk humblebragging yang paling umum. Orang tersebut menyampaikan tekanan yang ia rasakan, tetapi secara bersamaan memberi tahu orang lain bahwa dirinya memiliki reputasi yang tinggi.
Dengan kata lain, keluhan menjadi kendaraan untuk menyampaikan status sosial.
9. "Aku cuma berbagi pengalaman, siapa tahu bisa menginspirasi."
Tentu tidak semua orang yang mengucapkan kalimat ini sedang pamer. Banyak yang memang ingin berbagi secara tulus.
Namun dalam beberapa situasi, frasa ini digunakan sebagai pembuka sebelum menceritakan serangkaian pencapaian pribadi yang mengesankan.
Secara psikologis, tujuan sosialnya adalah mengurangi kemungkinan kritik. Ketika cerita dibingkai sebagai upaya membantu atau menginspirasi orang lain, pembicara tampak lebih altruistik daripada sekadar mencari pujian.
Mengapa Orang Melakukan Ini?
Menurut psikologi, kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan adalah hal yang normal. Manusia adalah makhluk sosial yang ingin dihargai, diterima, dan dianggap kompeten oleh kelompoknya.
Masalahnya, masyarakat juga cenderung tidak menyukai orang yang terlihat terlalu membanggakan diri. Akibatnya, banyak orang berada dalam dilema: mereka ingin pencapaiannya diketahui, tetapi tidak ingin dicap sombong.
Humblebragging muncul sebagai jalan tengah. Seseorang dapat menyampaikan keberhasilannya sambil tetap mempertahankan citra rendah hati.
Ironisnya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa orang lain sering kali lebih menyukai mereka yang berbicara jujur tentang pencapaiannya daripada mereka yang mencoba menyembunyikan kebanggaan di balik keluhan atau kerendahan hati yang dibuat-buat.
Kesimpulan
Pamer tidak selalu terdengar seperti pamer. Dalam banyak kasus, ia muncul dalam bentuk yang jauh lebih halus: keluhan tentang kesibukan, ekspresi keterkejutan atas kesuksesan, atau pernyataan yang tampak rendah hati.
Frasa-frasa seperti "Aku cuma beruntung", "Aku kaget bisa diterima", atau "Ekspektasi orang terlalu tinggi" sering menjadi cara untuk menunjukkan prestasi tanpa terlihat sedang membual.
Memahami pola ini membantu kita lebih peka terhadap komunikasi sosial di sekitar kita. Yang terpenting, tidak ada yang salah dengan merasa bangga atas pencapaian diri sendiri.
Terkadang, kejujuran yang tulus tentang keberhasilan justru lebih dihargai daripada kerendahan hati yang digunakan sebagai topeng untuk mencari pengakuan.