← Beranda
11 Kebiasaan Finansial Orang yang Selalu Miskin meski Berpenghasilan Tinggi Menurut Psikologi
Mohammad Maulana IqbalKamis, 11 Juni 2026 | 18.07 WIB
Kebiasaan finansial orang selalu miskin meski berpenghasilan tinggi menurut psikologi (Magnific/User18526052)

JawaPos.com - Psikologi keuangan menjelaskan bahwa memiliki uang banyak tidak selalu berarti seseorang bebas dari kebiasaan finansial yang membuatnya selalu miskin.

Luka finansial yang belum sembuh dari masa lalu secara tidak sadar terus memengaruhi cara seseorang mengelola uang dan membuat keputusan keuangan setiap harinya.

Orang yang selalu miskin meski berpenghasilan tinggi biasanya memiliki pola kebiasaan finansial tertentu yang bisa dikenali dan diubah dengan kesadaran yang tepat.

Dilansir dari laman YourTango pada Kamis (11/6), berikut  sebelas kebiasaan finansial yang secara konsisten dimiliki oleh orang-orang yang tetap miskin meski penghasilan mereka sebenarnya lebih dari cukup.

Baca Juga: 9 Kebiasaan yang Mencerminkan Pola Pikir Kekurangan Uang Menurut Psikologi

1. Tidak menetapkan tujuan keuangan yang jelas

Tanpa peta tujuan finansial, seseorang terus terjebak dalam siklus hidup dari gaji ke gaji meski penghasilan mereka sebenarnya sudah sangat mencukupi kebutuhan.

Para ahli dari University of Chicago merekomendasikan aturan 50/20/30, yaitu 50 persen untuk kebutuhan, 20 persen untuk tabungan dan utang, serta 30 persen untuk keinginan.

2. Tidak terorganisir dalam mengelola keuangan

Orang yang tidak terorganisir tidak pernah benar-benar tahu berapa uang yang mereka miliki dan terus membeli apa yang diinginkan tanpa kesadaran finansial.

Melacak pengeluaran dan membangun anggaran adalah langkah pertama yang memberi seseorang kendali nyata atas masa depan finansial mereka.

3. Tidak mampu menetapkan batasan finansial

Memberikan lebih dari kemampuan finansial yang dimiliki karena tidak berani menetapkan batas hanya menguras dompet dan menciptakan kebencian dalam hubungan.

Pelatih keuangan Kylie Lipinski menjelaskan bahwa batasan finansial adalah batas yang melindungi kesehatan keuangan dan memungkinkan seseorang memprioritaskan tujuan hidupnya.

4. Dikuasai oleh kecemasan finansial yang berlebihan

Kecemasan finansial sering muncul sebagai penghindaran, seperti menunda membuka tagihan atau mengabaikan saldo rekening karena takut melihat kenyataannya.

Pekerja sosial klinis Cheryl Gerson menjelaskan bahwa uang bukan sekadar angka melainkan simbol keberlangsungan hidup yang membuatnya sangat sarat emosi dan kecemasan.

Baca Juga: 10 Kebiasaan Orang Cerdas di Tempat Kerja yang Mendorong Karier Mereka Menurut Psikologi

5. Menghindari tanggung jawab atas keputusan keuangan sendiri

Menyalahkan faktor eksternal atas kesulitan finansial tanpa mau memeriksa pola pengeluaran sendiri hanya membuat seseorang terus terjebak dalam masalah yang sama.

Dokter Kristen Fuller menjelaskan bahwa akuntabilitas adalah menerima tanggung jawab atas tindakan dan membedakannya secara jelas dari rasa malu yang merusak.

6. Takut mempelajari literasi keuangan

Ketakutan terhadap hal yang tidak diketahui tentang uang mendorong seseorang untuk menghindari mempelajari keterampilan finansial yang sebenarnya sangat bisa dikuasai.

Membuat tujuan kecil yang bisa dikelola adalah cara paling efektif untuk mengatasi rasa takut dan meraih kemenangan-kemenangan kecil yang membangun kepercayaan diri finansial.

7. Mengandalkan kepemilikan materi untuk membuktikan nilai diri

Ketika seseorang tidak memiliki rasa nilai diri yang kuat, mereka menggunakan barang-barang mahal sebagai bukti eksternal bahwa mereka berharga dan sukses.

Sebuah studi dalam Journal of Research in Personality menemukan bahwa orang yang menghabiskan uang untuk benda daripada pengalaman cenderung merasa kurang bahagia dalam hidupnya.

8. Terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain

CEO YourTango Andrea Miller menjelaskan bahwa budaya perbandingan menjebak seseorang dalam siklus perasaan kurang karena perhatian terus tertuju pada apa yang tidak dimiliki.

Menumbuhkan rasa syukur adalah cara paling efektif melawan budaya perbandingan karena ketika benar-benar bersyukur, sangat sulit merasakan kelangkaan secara bersamaan.

9. Menyamakan kekayaan dengan kesuksesan hidup

Mendefinisikan kesuksesan semata dari jumlah uang mendorong seseorang untuk menghabiskan uang demi terlihat kaya daripada benar-benar membangun kekayaan jangka panjang.

Orang yang menyamakan kekayaan dengan kesuksesan lebih menghargai angka di rekening daripada hubungan bermakna dan pengalaman yang sesungguhnya memberi kebahagiaan nyata.

10. Tidak bisa memisahkan emosi dari keputusan pengeluaran

Pelatih keuangan Pegi Burdick menjelaskan bahwa cara seseorang membelanjakan uang berakar dari isu masa kecil, termasuk pesan tersembunyi tentang rasa tidak layak mendapat hal baik.

Memisahkan tindakan dari emosi membantu seseorang mendapatkan kontrol nyata atas pengeluaran yang selama ini digerakkan oleh luka batin yang belum sembuh.

11. Mengutamakan kenyamanan daripada kendali yang disengaja

Memilih kenyamanan instan seperti selalu pesan makanan atau naik taksi online terasa kecil saat ini namun terus menumpuk menjadi pengeluaran besar yang tidak disadari.

Dorongan untuk menghabiskan uang demi kenyamanan perlahan menjadi otomatis sehingga semakin sulit untuk melihat dampak nyatanya terhadap kondisi finansial jangka panjang.

Baca Juga: 11 Kebiasaan yang Merusak Otak dan Menurunkan Kesehatan Mental serta Fungsi Kognitif secara Psikologi

EDITOR: Candra Mega Sari