JawaPos.com - Di dunia yang serba cepat dan penuh kesibukan, kita sering mengabaikan kesejahteraan mental.
Kita lupa bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.
Kebiasaan-kebiasaan tertentu nyatanya memengaruhi kesehatan emosional sedemikian rupa sehingga seiring waktu, otak kita memasuki mode bertahan hidup.
Ini bisa menyebabkan kesehatan mental memburuk dengan kecemasan, penurunan kognitif, dan pola yang menguras energi secara keseluruhan.
Baca Juga: 8 Kebiasaan Orang Sukses yang Selalu Tahan Banting, Nomor 8 Sering Dilupakan
Melansir English jagran, berikut lima kebiasaan yang diam-diam merusak kesehatan mental Anda.
1. Berusaha menyenangkan orang lain
Kebiasaan menyenangkan orang lain muncul ketika Anda terus-menerus memprioritaskan kebutuhan, pendapat, dan persetujuan orang lain di atas kebutuhan, pendapat, dan persetujuan sendiri.
Ketika mengatakan tidak menjadi lebih sulit daripada menanggung beban stres dan panik.
Kebiasaan ini biasanya didorong oleh rasa takut akan penolakan atau konflik.
Bagaimana cara memperbaikinya?
Bangun batasan yang sehat, pahami bahwa orang lain bukanlah tanggung jawab Anda dan tidak apa-apa mengecewakan orang lain sesekali untuk melindungi energi dan kesejahteraan mental Anda.
2. Memeriksa ponsel di pagi hari
Mengecek ponsel Anda di pagi hari dapat menyebabkan gangguan, yang semuanya berkaitan dengan apa yang orang lain lakukan dalam hidup mereka.
Juga dapat membuat otak Anda berada dalam mode siaga tinggi karena Anda tidak mendapatkan pagi yang tenang untuk mengatur sistem saraf agar dapat memulai hari dengan baik.
Terburu-buru menyelesaikan semuanya dan hampir tidak memenuhi tenggat waktu, semua ini menyebabkan perasaan lelah.
Bagaimana cara memperbaikinya?
Setiap pagi setelah bangun tidur, luangkan waktu 30 menit tanpa layar, lakukan peregangan ringan, baca sesuatu, rencanakan hari Anda, atau sekadar nikmati kopi, lalu mulailah hari Anda.
3. Menghindari perasaan sendiri
Ketika Anda menghindari perasaan sendiri dalam waktu lama, otak Anda mulai belajar bahwa perasaan itu tidak aman.
Anda harus merasakan dan mengetahui mengapa Anda merasakan hal itu.
Menyadari perasaan Anda juga termasuk melewati rasa sakit emosional dan kemudian belajar untuk kembali menjalani hidup.
Karena jika menghindari perasaan dalam waktu lama, hal itu menjadi tak tertahankan ketika Anda harus menghadapinya.
Bagaimana cara memperbaikinya?
Secara perlahan dan bertahap, belajarlah untuk mengakui perasaan Anda. Berhenti sejenak dan renungkan mengapa Anda merasa seperti itu dan bagaimana mengatasinya.
4. Mengeluh dan tidak mencari solusi
Kita semua mengeluh dan melampiaskan perasaan membantu ketika segala sesuatunya tidak berjalan sesuai keinginan.
Namun, kebiasaan mengeluh dalam jangka panjang melatih otak untuk terus-menerus mencari apa yang salah daripada benar-benar mencari solusi, yang menyebabkan lebih banyak hal negatif.
Bagaimana cara memperbaikinya?
Mengubah perspektif bukanlah hal mudah, tetapi ubahlah cara Anda membicarakannya kepada orang lain, cari tahu mengapa Anda merasa seperti itu.
Jika Anda tidak dapat menemukan solusi, bicaralah dengan orang tepercaya dan mintalah dukungan saat dibutuhkan.
5. Isolasi
Tidak setiap hari kita suka bersosialisasi, tetapi isolasi yang berkepanjangan membuat otak merasa bahwa hubungan sosial tidak aman.
Ini mungkin membuat kita sendirian hampir sepanjang waktu, tidak mampu berbagi perasaan dengan siapa pun.
Kita membutuhkan orang-orang yang kita percayai. Dengan cara yang sama, orang lain juga membutuhkan kita.
Bagaimana cara memperbaikinya?
Berusahalah untuk berinteraksi dengan orang lain. Anda tidak perlu melakukan percakapan panjang, tetapi interaksi kecil dan santai pun bisa bermanfaat.