← Beranda
10 Ungkapan yang Hanya Sering Digunakan oleh Orang-Orang Egois: Apa yang Diungkapkan Psikologi tentang Jati Diri Mereka?
Irfan Ferdiansyah• Rabu, 10 Juni 2026 | 02.37 WIB
seseorang yang mengungkapkan bahwa dirinya egois./Magnific/stockking

JawaPos.com - Setiap orang tentu pernah memikirkan dirinya sendiri. Itu adalah hal yang normal. Namun, ketika kepentingan pribadi selalu ditempatkan di atas kebutuhan, perasaan, dan hak orang lain, sikap tersebut dapat berkembang menjadi perilaku egois.

 Menariknya, psikologi menunjukkan bahwa sifat egois tidak hanya terlihat dari tindakan, tetapi juga dari cara seseorang berbicara.

Pilihan kata dan ungkapan tertentu sering kali mencerminkan pola pikir yang berpusat pada diri sendiri. Meski satu kalimat saja tidak cukup untuk menilai kepribadian seseorang, jika ungkapan-ungkapan ini muncul berulang kali dan disertai pola perilaku yang sama, hal tersebut dapat menjadi petunjuk mengenai karakter seseorang yang sebenarnya.

Dilansir dari Expert Editor pada Selasa (9/6), terdapat 10 ungkapan yang sering digunakan oleh orang-orang egois menurut sudut pandang psikologi.

1. "Pokoknya aku maunya begini"

Kalimat ini menunjukkan kurangnya kemauan untuk berkompromi. Orang yang terlalu egois cenderung menganggap keinginannya sebagai prioritas utama dan sulit menerima sudut pandang orang lain.

Dalam psikologi, kemampuan berkompromi merupakan bagian dari kecerdasan emosional. Seseorang yang selalu memaksakan kehendak biasanya memiliki empati yang rendah dan lebih fokus pada kepuasan pribadi.

2. "Itu bukan urusanku"

Batasan pribadi memang penting, tetapi orang yang egois sering menggunakan kalimat ini untuk menghindari tanggung jawab atau menolak membantu orang lain, bahkan ketika mereka sebenarnya mampu.

Psikologi sosial menunjukkan bahwa individu dengan tingkat empati yang tinggi cenderung memiliki rasa kepedulian yang lebih besar terhadap lingkungan sekitarnya.

3. "Aku sudah bilang dari awal"

Ungkapan ini sering diucapkan bukan untuk membantu, tetapi untuk menunjukkan bahwa dirinya lebih benar daripada orang lain.

Alih-alih memberikan solusi, orang yang egois lebih tertarik untuk membuktikan bahwa mereka tidak pernah salah. Kebutuhan untuk selalu merasa benar merupakan salah satu ciri kepribadian yang berorientasi pada diri sendiri.

4. "Kalau bukan karena aku, semuanya tidak akan berhasil"

Pernyataan seperti ini menunjukkan kecenderungan untuk mengambil semua pujian dan mengabaikan kontribusi orang lain.

Psikologi menyebut perilaku ini sebagai kebutuhan akan pengakuan yang berlebihan. Orang seperti ini sering kali sulit mengapresiasi kerja sama dan lebih suka menjadi pusat perhatian.

5. "Aku tidak peduli apa kata orang"

Sekilas, kalimat ini terdengar seperti tanda kepercayaan diri. Namun, dalam beberapa kasus, ungkapan tersebut dapat menjadi tanda bahwa seseorang tidak mempertimbangkan dampak perilakunya terhadap orang lain.

Kepercayaan diri yang sehat tetap disertai kemampuan menghormati dan mempertimbangkan perasaan orang lain.

6. "Masalahmu bukan masalahku"

Orang yang egois sering menjaga jarak secara emosional dan kurang menunjukkan kepedulian terhadap kesulitan yang dialami orang lain.

Psikologi menjelaskan bahwa empati merupakan fondasi penting dalam hubungan yang sehat. Kurangnya empati sering membuat seseorang tampak dingin dan hanya peduli pada kepentingannya sendiri.

7. "Aku berhak mendapatkan yang terbaik"

Memiliki standar tinggi bukanlah sesuatu yang salah. Namun, jika seseorang merasa dirinya selalu lebih layak daripada orang lain, hal tersebut dapat menunjukkan rasa superioritas.

Orang dengan pola pikir seperti ini sering merasa dunia harus memenuhi keinginannya tanpa memikirkan kebutuhan orang lain.

8. "Aku tidak salah, mereka yang salah"

Kesulitan mengakui kesalahan adalah salah satu tanda utama sifat egois.

Dalam psikologi, kemampuan mengakui kesalahan menunjukkan kedewasaan emosional. Sebaliknya, orang yang selalu menyalahkan orang lain cenderung menggunakan mekanisme pertahanan diri untuk menjaga citra dirinya.

9. "Aku sudah melakukan banyak hal untukmu"

Kalimat ini sering digunakan untuk membuat orang lain merasa berutang budi.

Bantuan yang tulus biasanya tidak disertai tuntutan atau pengingat terus-menerus. Orang yang egois kadang menggunakan kebaikan sebagai alat untuk mendapatkan kendali atau keuntungan tertentu.

10. "Yang penting aku bahagia"

Kebahagiaan memang penting, tetapi jika kebahagiaan pribadi selalu dikejar dengan mengorbankan orang lain, maka hal tersebut dapat menjadi bentuk keegoisan.

Psikologi menekankan bahwa kesejahteraan yang sehat tidak hanya berfokus pada diri sendiri, tetapi juga mempertimbangkan hubungan sosial dan dampaknya terhadap orang lain.

Apakah Orang yang Mengucapkan Kalimat-Kalimat Ini Pasti Egois?

Tidak selalu. Satu atau dua ungkapan yang muncul sesekali bukan berarti seseorang memiliki kepribadian egois. Faktor emosi, stres, atau situasi tertentu juga dapat memengaruhi cara seseorang berbicara.

Namun, jika kalimat-kalimat tersebut menjadi kebiasaan dan disertai pola perilaku seperti selalu ingin menang sendiri, sulit berempati, enggan mengakui kesalahan, serta hanya memikirkan kepentingan pribadi, psikologi memandangnya sebagai tanda adanya orientasi diri yang berlebihan.

Pada akhirnya, cara seseorang berbicara sering kali menjadi jendela menuju pola pikir dan karakternya. Semakin seseorang mampu mendengarkan, berempati, dan menghargai orang lain, semakin sehat pula hubungan yang dibangunnya. 

Karena hubungan yang kuat tidak dibangun hanya dengan memikirkan diri sendiri, tetapi juga dengan memahami bahwa setiap orang memiliki kebutuhan, perasaan, dan nilai yang sama pentingnya.

EDITOR: Hanny Suwindari