JawaPos.com – Psikologi menjelaskan bahwa orang dewasa yang tidak matang emosional memiliki cara-cara khas untuk menghindari tanggung jawab atas kesalahan yang mereka buat.
Menghindari tanggung jawab dengan mengorbankan kesejahteraan orang lain adalah tanda ketidakdewasaan emosi yang tidak bisa terus dimaklumi begitu saja.
Setiap orang memiliki kendali atas hidupnya sendiri dan memiliki kapasitas untuk berkembang melalui penyembuhan dan akuntabilitas yang jujur.
Dilansir dari laman YourTango pada Minggu (7/6), berikut sembilan cara orang dewasa tidak matang emosional menghindari tanggung jawab yang perlu dikenali berdasarkan sudut pandang psikologi.
1. Menyalahkan orang lain atas semua masalah
Orang yang tidak memiliki kecerdasan emosional untuk merefleksikan diri akan selalu menemukan orang lain atau situasi eksternal sebagai penyebab masalah mereka.
Menghadapi kesalahan sendiri memang tidak nyaman, namun justru tantangan inilah yang mendorong pertumbuhan dan perkembangan diri yang sesungguhnya.
Keterampilan regulasi emosi membantu seseorang melewati ketidaknyamanan itu dan belajar darinya, alih-alih menutup diri sepenuhnya dari kenyataan.
2. Membuat segala macam alasan pembenar
Ketika tidak bisa meyakinkan orang lain bahwa mereka tidak bersalah, orang yang tidak matang emosi akan mencari cara untuk membenarkan tindakan mereka.
Bahkan jika itu berarti mengecilkan rasa sakit orang lain, mereka akan melakukan apapun untuk melindungi narasi dan kenyamanan diri mereka sendiri.
Mereka lebih memilih menghilangkan rasa tanggung jawab dari kehidupan mereka daripada mengakui sesuatu yang membuat mereka merasa lemah dan kecil.
3. Mencari simpati dan belas kasihan orang lain
Orang dengan mentalitas korban hampir selalu sangat tidak matang secara emosional dan tidak mampu mengelola ketidaknyamanan yang datang dari mengakui kesalahan.
Mereka lebih suka berpura-pura bahwa setiap ketidaknyamanan kecil dalam hidup mereka selalu disebabkan oleh orang lain atau keadaan di luar kendali mereka.
Dengan cara ini mereka bisa mencari perhatian dan simpati, daripada didorong untuk mengambil tindakan dan menyelesaikan masalah mereka sendiri.
4. Menyerang orang lain dengan bahasa yang merendahkan
Orang narsis yang tidak bisa melarikan diri atau memanipulasi pikiran orang lain akan bereaksi dengan kemarahan saat langsung dihadapkan pada kesalahan mereka.
Mereka menjadi pasif-agresif dan merendahkan orang lain karena merasa tidak berdaya, yang memicu kemarahan defensif yang mendorong orang menjauh.
Mereka ingin orang lain merasa takut untuk meminta pertanggungjawaban, sehingga ledakan emosi dan pertengkaran panas menjadi senjata andalan mereka.
5. Pura-pura memiliki standar moral yang tinggi
Orang yang paling tidak matang sering kali mengucapkan kata-kata tentang siapa diri mereka dan nilai-nilai apa yang mereka pegang sebagai perisai terakhir.
Mereka terus mendorong orang lain untuk mempercayai niat baik mereka, menolak siapapun yang tidak memberikan kepercayaan buta kepada mereka.
Kenyataannya, mereka tidak menyadari bahwa sekadar mengklaim memiliki nilai-nilai baik tidak otomatis membuat klaim tersebut menjadi kebenaran yang nyata.
6. Melakukan gaslighting kepada semua orang di sekitar
Orang yang tidak aman dan tidak matang emosi mungkin melakukan gaslighting kepada orang-orang di sekitar mereka untuk menyangkal dan mengaburkan situasi.
Tujuan utama mereka adalah membuat semua orang lain merasa bingung dan mempertanyakan realitas agar mereka bisa mengendalikan cara orang memandang mereka.
Selalu ada pertanyaan yang dimanipulasi dan keraguan diri yang dijadikan senjata untuk menghancurkan orang lain karena ketidakmampuan mengelola insekuritas sendiri.
7. Marah dan bersikap defensif secara berlebihan
Bagi orang yang narsis dengan rasa diri yang sangat rapuh, menghindari tanggung jawab bukan hanya soal pertahanan tetapi benar-benar tentang kemarahan yang mendalam.
Mereka sangat hipersensitif terhadap penilaian dan kritik yang dirasakan sehingga akan melakukan apapun untuk membuat orang lain tidak aman saat meminta pertanggungjawaban.
Kemarahan dan emosi yang tidak terkontrol ini biasanya mendorong orang-orang di sekitar mereka untuk berjalan di atas kulit telur daripada meminta akuntabilitas.
8. Memblokir dan mengabaikan orang yang meminta pertanggungjawaban
Orang yang tidak matang menghindari tanggung jawab dengan menolak merespons pesan atau tidak hadir di situasi di mana mereka mungkin dimintai pertanggungjawaban.
Alih-alih menjadi rentan dan jujur, mereka menghindari dan menyangkal sampai semua orang lupa atau menyerah menunggu permintaan maaf yang tidak pernah datang.
Dalam beberapa kasus, mereka juga memanipulasi orang secara langsung dengan perlakuan diam atau stonewalling yang membiarkan ekspektasi orang lain berlalu begitu saja.
9. Berbohong untuk mengendalikan narasi tentang diri mereka
Pembohong kronis mengubah narasi dan menceritakan kebohongan untuk mengendalikan citra mereka, meski ini menguras lebih banyak energi emosional jangka panjang.
Mereka berpegang erat pada identitas yang ingin mereka tampilkan, baik sebagai orang yang selalu benar atau sebagai korban, agar tidak perlu meminta maaf.
Mereka tidak memiliki rasa diri yang kuat dan autentik, sehingga penilaian orang lain dan ekspektasi akuntabilitas terasa sangat mengancam di tingkat yang sangat dalam.