JawaPos.com – Dalam sebuah pernikahan, ketidakseimbangan pembagian pekerjaan rumah adalah masalah nyata yang berdampak besar pada kesehatan hubungan jangka panjang.
Secara psikologi, pasangan yang terus-menerus mencari validasi atas tugas-tugas domestik dasar mencerminkan ketidakdewasaan emosional yang perlu disadari.
Perilaku ini bukan hanya soal pekerjaan rumah, melainkan juga tentang dinamika kekuasaan dan ekspektasi yang tidak seimbang dalam hubungan.
Dilansir dari laman YourTango pada Kamis (28/5), berikut sepuluh tanda bahwa pasanganmu menginginkan penghargaan berlebihan atas hal-hal yang seharusnya dilakukan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.
1. Menunggu ditonton sebelum mulai bersih-bersih
Penelitian menunjukkan bahwa perempuan yang memiliki pasangan tidak terlibat di rumah cenderung mengalami lebih banyak tekanan psikologis dan ketidakpuasan pernikahan.
Pasangan seperti ini tidak pernah proaktif melakukan pekerjaan rumah ketika tidak ada yang melihat mereka melakukannya.
Mereka membutuhkan pengakuan dan pujian, bahkan jika itu harus diraih dengan mengorbankan kenyamanan dan keseimbangan pasangannya.
2. Membenarkan istirahat dengan menyebut semua yang sudah dilakukan
Ketika diminta membantu, pasangan seperti ini selalu menyebutkan daftar panjang hal yang sudah mereka lakukan sebagai alasan untuk tidak membantu.
Padahal pasangan yang meminta bantuan kemungkinan besar merasakan kelelahan yang sama, bahkan lebih, dari apa yang dirasakan mereka.
Respons "iya, dengan senang hati" seharusnya lebih mudah diberikan kepada orang yang dicintai daripada pembenaran panjang yang melelahkan.
3. Menolak menghabiskan waktu sendirian
Orang yang membutuhkan pengakuan terus-menerus biasanya beroperasi dari tempat yang penuh ketidakamanan dan ketidaknyamanan internal yang mendalam.
Mereka bergantung pada kehadiran pasangan bukan hanya untuk menyelesaikan tugas, tetapi juga untuk merasa lebih baik tentang diri mereka sendiri.
Ketidakmampuan untuk merasa tenang dalam kesendirian adalah cerminan dari ketergantungan emosional yang tidak sehat dalam hubungan.
4. Jarang mengambil tanggung jawab tambahan
Meskipun sangat menyukai pujian atas hal-hal kecil, pasangan tipe ini tidak akan pernah secara sukarela mengambil tanggung jawab lebih dari yang minimum.
Mereka mencintai pengakuan, bukan ketidaknyamanan, sehingga upaya ekstra untuk meringankan beban pasangan bukan sesuatu yang akan mereka lakukan.
Dinamika ini menciptakan hubungan yang sangat tidak seimbang di mana satu pihak terus bekerja keras sementara yang lain menunggu diapresiasi.
5. Bersikap pasif-agresif dan mudah murung
Ketika tidak mendapatkan perhatian yang mereka andalkan, pasangan yang tidak dewasa ini menjadi mudah murung dan bersikap pasif-agresif.
Perilaku ini sering kali berakar pada perasaan kecewa dan sedih yang tidak bisa mereka ungkapkan secara dewasa dan langsung.
Alih-alih mengatakan apa yang mereka butuhkan, mereka memberikan diam yang menyakitkan atau sindiran kecil sebagai cara melampiaskan rasa tidak puas.
6. Selalu menghitung siapa berbuat apa
Hubungan yang transaksional dibangun di atas kebiasaan menghitung kontribusi masing-masing pihak dan menggunakannya sebagai alat tawar-menawar.
Ungkapan "kamu berutang padaku" jauh lebih sering terdengar daripada "aku butuh dukunganmu," karena mereka tidak percaya pada ketulusan tanpa syarat.
Harga diri yang bergantung pada validasi luar membuat mereka terus barter untuk mendapatkan rasa aman, bahkan dalam hubungan yang seharusnya penuh kepercayaan.
7. Terus-menerus memancing pujian
Psikolog Joachim I. Krueger menjelaskan bahwa orang dengan rasa tidak aman yang dalam sering memancing pujian dengan cara yang halus namun manipulatif.
Alih-alih melakukan sesuatu demi mendukung pasangan secara tulus, tindakan mereka selalu diarahkan untuk mendapatkan pengakuan sebesar mungkin.
Pola ini dengan jelas menunjukkan bahwa prioritas mereka adalah melindungi ego mereka sendiri, bukan benar-benar hadir untuk orang yang mereka cintai.
8. Menghindari pekerjaan yang dilakukan di luar pengawasan
Selain enggan bekerja saat tidak ada yang menonton, mereka juga menghindari tugas-tugas yang harus diselesaikan di ruang privat tanpa audiens.
Mencuci mobil di garasi atau menyelesaikan laundry sendirian bukanlah pilihan menarik bagi mereka karena tidak ada yang akan melihat dan memberi pujian.
Motivasi utama mereka adalah tepuk tangan, dan jika tidak ada yang memperhatikan, upaya itu terasa tidak bernilai bagi mereka.
9. Menjadikan setiap usaha kecil sebagai pertunjukan besar
Daripada diam-diam menyelesaikan pekerjaan rumah, setiap tindakan kecil mereka berubah menjadi drama yang membutuhkan perhatian dan pengakuan penuh.
Studi tahun 2021 menemukan bahwa pencarian kepastian yang terus-menerus justru memperparah berbagai masalah kesehatan mental, termasuk depresi.
Kebiasaan menjadikan tugas sehari-hari sebagai pertunjukan karakter hanya menambah tekanan pada pasangan yang sebenarnya sudah kelelahan.
10. Membuat tugas sederhana tampak jauh lebih sulit dari kenyataannya
Mereka secara konsisten melebih-lebihkan waktu dan usaha yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan rumah yang sebenarnya sangat sederhana.
Dengan membuat tugas tampak lebih besar dan lebih rumit, mereka berharap mendapatkan pujian yang lebih besar dari yang sebenarnya layak mereka terima.
Pola manipulasi kecil ini secara bertahap mengikis kepercayaan dan keintiman dalam hubungan yang seharusnya dibangun atas dasar kerja sama yang setara.