JawaPos.com – Generasi Z merupakan kelompok yang lahir pada rentang tahun 1997 hingga 2012. Mereka dikenal sebagai generasi muda dengan pola pikir dinamis serta menjadi generasi pertama yang tumbuh sepenuhnya di era digital.
Kedekatan dengan teknologi membuat Gen Z sangat akrab dengan internet dan media sosial dalam kehidupan sehari-hari. Namun, di balik kemudahan tersebut, ada berbagai tantangan yang juga mereka hadapi.
Mulai dari kecanduan media sosial, tekanan ekonomi, hingga ketidakpastian kondisi global menjadi faktor yang kerap memicu rasa cemas dan kekhawatiran pada generasi ini.
Melansir Astrotalk, berikut tujuh alasan utama yang membuat Gen Z lebih mudah merasa cemas dan overthinking.
Baca Juga: Gen Z Ingin Umroh tapi Uang Selalu Habis? Ini 7 Cara Keluar dari ‘Game Over’ Finansial
1. Kewalahan dengan media sosial
Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia Gen Z.
Menghabiskan waktu luang dengan menjelajahi platform media sosial mengakibatkan perbandingan dengan 'kehidupan sempurna' orang lain.
Ini menyebabkan keraguan diri, FOMO, dan isolasi.
2. Ketidakpastian ekonomi
Gaji yang stagnan, utang besar, dan pekerjaan ekonomi lepas yang tidak stabil membuat mereka merasa tidak yakin tentang ketidakstabilan ekonomi di masa depan.
Bahkan mereka takut tidak akan pernah memiliki rumah atau pensiun dengan nyaman.
3. Ketakutan terhadap perubahan iklim
Sebagai generasi yang mewarisi krisis iklim Bumi, Gen Z menyaksikan bencana akibat perubahan iklim seperti kebakaran hutan, banjir, dan gelombang panas yang hebat.
Selain itu, kecemasan ekologis menjadi sumber kekhawatiran lain bagi generasi yang ingin mengubah dunia.
4. Trauma pascapandemi
Pandemi COVID-19 membuat Gen Z terkurung di dalam ruangan.
Mereka menghabiskan masa sekolah secara daring dan kehilangan momen-momen penting meninggalkan bekas emosional yang mendalam pada generasi ini.
Bekerja dalam mode hibrida dan menghadapi perilaku cemas secara sosial merupakan tantangan lain yang membuat mereka selalu terhubung tetapi terputus secara emosional.
5. Kelebihan informasi
Kehidupan mereka dibombardir dengan berita tanpa henti tentang perang, politik, dan lainnya, semua berkat algoritma yang dirancang untuk memicu kemarahan.
Akibatnya, terjadilah doom scrolling dan kelumpuhan berbasis rasa takut.
6. Pola asuh dan perfeksionisme
Bagi Gen Z, kesempurnaan sering dikaitkan dengan tekanan orang tua, yang membesarkan mereka dengan aspirasi akademis, ekstrakurikuler, dan karier yang lebih tinggi.
7. Takut berinteraksi tatap muka
Generasi digital native lebih menyukai interaksi melalui layar daripada koneksi interpersonal di kehidupan nyata.
Aplikasi kencan dan budaya ghosting mendorong hubungan yang dangkal, sementara pekerjaan jarak jauh memperburuk isolasi.