← Beranda
Lebih Menyukai Teh daripada Kopi? Anda Mungkin Memiliki 9 Ciri Berikut Ini Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahSelasa, 26 Mei 2026 | 22.25 WIB
seseorang yang tidak layak dipertahankan dalam hidup./Magnific/pressfoto

JawaPos.com - Di berbagai belahan dunia, perdebatan tentang teh dan kopi hampir tidak pernah selesai. Sebagian orang merasa tidak bisa memulai hari tanpa aroma kopi yang kuat, sementara sebagian lainnya justru menemukan kenyamanan dalam secangkir teh hangat yang menenangkan.

Pilihan minuman ini sering dianggap sekadar soal rasa. Namun, dalam dunia psikologi, preferensi terhadap makanan dan minuman ternyata bisa mencerminkan aspek tertentu dari kepribadian seseorang. Cara kita memilih sesuatu yang sederhana—termasuk teh atau kopi—sering dipengaruhi oleh kebutuhan emosional, pola berpikir, kebiasaan hidup, hingga cara kita menghadapi stres.

Tentu saja, tidak semua pencinta teh memiliki karakter yang sama. Psikologi bukan alat untuk mengkotak-kotakkan manusia secara mutlak. Akan tetapi, berbagai penelitian tentang kebiasaan, preferensi, dan perilaku menunjukkan adanya pola menarik yang cukup konsisten.

Dilansir dari Expert Editor pada Minggu (24/5), jika Anda termasuk orang yang lebih memilih teh dibanding kopi, ada kemungkinan Anda memiliki beberapa ciri berikut ini.

1. Anda Cenderung Lebih Tenang dalam Menghadapi Situasi

Teh sering diasosiasikan dengan suasana santai, reflektif, dan penuh ketenangan. Tidak heran jika banyak pencinta teh memiliki kecenderungan untuk tidak mudah panik ketika menghadapi tekanan.

Dalam psikologi, individu yang menikmati ritual sederhana seperti menyeduh teh biasanya memiliki kemampuan regulasi emosi yang lebih baik. Mereka menikmati proses, bukan hanya hasil akhir.

Berbeda dengan kopi yang identik dengan energi cepat dan produktivitas tinggi, teh lebih sering dikaitkan dengan ritme hidup yang stabil. Orang yang menyukai teh umumnya tidak terburu-buru mengambil keputusan dan lebih nyaman berpikir sebelum bertindak.

Mereka juga cenderung menjadi pendengar yang baik. Ketika orang lain sedang emosional, pencinta teh sering tampil sebagai sosok yang mampu menenangkan suasana.

2. Anda Menikmati Kesederhanaan

Banyak pencinta teh tidak terlalu tertarik pada hal-hal yang terlalu mencolok. Mereka lebih menghargai kenyamanan kecil dalam kehidupan sehari-hari.

Secangkir teh hangat di sore hari, hujan yang turun perlahan, atau waktu tenang tanpa gangguan sering terasa jauh lebih berharga dibanding kemewahan yang berlebihan.

Secara psikologis, ini berkaitan dengan kemampuan menikmati momen sederhana atau yang dikenal sebagai “savoring”. Orang yang mampu menikmati hal kecil biasanya memiliki tingkat kepuasan hidup yang lebih baik.

Mereka tidak selalu mengejar validasi sosial. Kebahagiaan mereka sering berasal dari pengalaman personal yang tenang dan bermakna.

3. Anda Lebih Introspektif

Pencinta teh sering memiliki sisi reflektif yang kuat. Mereka senang memikirkan banyak hal secara mendalam, termasuk emosi, hubungan, dan tujuan hidup.

Dalam banyak budaya, minum teh memang identik dengan momen kontemplasi. Tradisi minum teh di Jepang, China, maupun Inggris menekankan suasana hening dan kesadaran penuh terhadap momen saat ini.

Secara psikologis, orang yang introspektif biasanya lebih memahami diri sendiri. Mereka cenderung sadar terhadap emosi pribadi dan mampu mengenali apa yang sebenarnya mereka rasakan.

Namun, sisi reflektif ini juga kadang membuat mereka terlalu banyak berpikir. Mereka bisa menghabiskan waktu lama untuk mempertimbangkan keputusan karena ingin memastikan semuanya terasa tepat.

4. Anda Tidak Terlalu Menyukai Drama

Jika Anda lebih memilih teh daripada kopi, ada kemungkinan Anda termasuk orang yang menghindari konflik yang tidak perlu.

Bukan berarti Anda lemah atau tidak berani menghadapi masalah. Namun, Anda cenderung memilih kedamaian dibanding pertengkaran yang melelahkan.

Dalam psikologi kepribadian, orang seperti ini biasanya memiliki tingkat agreeableness yang cukup tinggi. Mereka menghargai hubungan harmonis dan berusaha menjaga suasana tetap nyaman.

Karena itu, pencinta teh sering dianggap mudah diajak bicara, tidak agresif, dan cukup sabar menghadapi berbagai tipe orang.

5. Anda Menghargai Rutinitas yang Menenangkan

Ada alasan mengapa banyak orang memiliki ritual minum teh tertentu. Mulai dari memilih jenis teh, menunggu air panas, hingga menikmati aromanya perlahan.

Rutinitas kecil seperti ini memberi rasa stabilitas secara psikologis.

Orang yang menyukai teh sering merasa nyaman dengan pola hidup yang teratur. Mereka mungkin menikmati pagi yang tenang, jadwal yang rapi, dan waktu istirahat yang berkualitas.

Psikologi modern menunjukkan bahwa ritual sederhana dapat membantu menurunkan stres dan meningkatkan rasa kontrol terhadap hidup.

Karena itu, pencinta teh sering terlihat lebih stabil secara emosional dibanding orang yang hidup dalam ritme terlalu cepat.

6. Anda Cenderung Lebih Empatik

Pencinta teh sering memiliki kepekaan emosional yang tinggi terhadap orang lain.

Mereka mudah memahami suasana hati seseorang, mampu membaca perubahan ekspresi, dan biasanya peduli pada kenyamanan orang di sekitar.

Sifat ini membuat mereka sering menjadi tempat curhat.

Dalam psikologi sosial, empati berkaitan erat dengan kemampuan membangun hubungan interpersonal yang sehat. Orang empatik tidak hanya mendengarkan kata-kata, tetapi juga memahami emosi di baliknya.

Tidak mengherankan jika banyak pencinta teh lebih menyukai percakapan mendalam dibanding obrolan yang terlalu dangkal.

7. Anda Lebih Menyukai Kualitas daripada Kuantitas

Pencinta teh sering memiliki pendekatan hidup yang lebih selektif.

Mereka mungkin tidak memiliki lingkaran pertemanan yang sangat besar, tetapi hubungan yang dimiliki biasanya dekat dan bermakna.

Mereka juga cenderung memilih pengalaman yang benar-benar memberi nilai emosional dibanding sekadar mengikuti tren.

Dalam psikologi, ini berkaitan dengan orientasi intrinsik—yaitu kecenderungan mencari kepuasan dari makna dan pengalaman pribadi, bukan sekadar pengakuan eksternal.

Karena itu, banyak pencinta teh tampak lebih nyaman menjalani hidup sesuai ritme mereka sendiri.

8. Anda Memiliki Sisi Kreatif yang Kuat

Banyak orang kreatif menikmati teh saat bekerja, membaca, menulis, atau berpikir.

Suasana tenang yang diciptakan teh membantu otak memasuki kondisi fokus yang lebih rileks. Berbeda dengan kopi yang sering memberikan lonjakan energi cepat, teh cenderung memberi efek yang lebih stabil.

Dalam beberapa studi, kombinasi kafein dan L-theanine dalam teh diketahui membantu meningkatkan fokus tanpa membuat seseorang terlalu gelisah.

Itulah sebabnya sebagian pencinta teh merasa lebih mudah mendapatkan ide ketika menikmati secangkir teh hangat.

Mereka juga cenderung menghargai estetika, detail kecil, dan suasana yang nyaman.

9. Anda Cenderung Menikmati Kehidupan dengan Lebih Lambat

Di dunia yang serba cepat, memilih teh terkadang mencerminkan keinginan untuk memperlambat ritme hidup.

Pencinta teh sering memahami bahwa tidak semua hal harus dilakukan terburu-buru.

Mereka menikmati proses, menghargai jeda, dan tidak selalu merasa harus produktif setiap saat.

Secara psikologis, kemampuan untuk melambat ini sangat penting bagi kesehatan mental. Orang yang mampu menikmati waktu istirahat biasanya memiliki tingkat burnout yang lebih rendah.

Mereka memahami bahwa hidup bukan hanya soal pencapaian, tetapi juga tentang menikmati perjalanan.

Mengapa Preferensi Minuman Bisa Berkaitan dengan Kepribadian?

Psikologi modern menjelaskan bahwa pilihan sehari-hari sering dipengaruhi oleh kebutuhan emosional dan pola perilaku.

Misalnya:

Orang yang mencari stimulasi tinggi mungkin lebih tertarik pada kopi.
Orang yang menyukai ketenangan cenderung menikmati teh.
Individu yang menghargai ritual biasanya lebih menikmati proses menyeduh minuman.
Preferensi rasa juga dapat dipengaruhi oleh pengalaman masa kecil, budaya, dan lingkungan sosial.

Namun penting dipahami bahwa ini bukan aturan mutlak.

Tidak semua pencinta teh adalah introvert yang tenang. Tidak semua pencinta kopi adalah pribadi yang agresif atau sibuk.

Kepribadian manusia terlalu kompleks untuk disimpulkan hanya dari satu kebiasaan.

Akan tetapi, preferensi kecil seperti ini memang sering memberi petunjuk menarik tentang bagaimana seseorang menjalani hidup.

Teh dan Efek Psikologisnya

Selain berkaitan dengan kebiasaan dan simbol budaya, teh juga memiliki efek fisiologis yang dapat memengaruhi suasana hati.

Banyak jenis teh mengandung:

L-theanine yang membantu relaksasi
Antioksidan yang mendukung kesehatan tubuh
Kafein dalam jumlah lebih ringan dibanding kopi

Kombinasi ini sering menciptakan sensasi tenang namun tetap fokus.

Tidak heran jika banyak orang menjadikan teh sebagai bagian dari rutinitas self-care mereka.

Bahkan dalam beberapa budaya Asia, minum teh dianggap sebagai praktik mindfulness—cara sederhana untuk hadir sepenuhnya di momen saat ini.

Pada Akhirnya, Ini Bukan Sekadar Soal Minuman

Pilihan antara teh dan kopi memang terlihat sederhana. Namun di baliknya, ada pola kebiasaan, emosi, dan preferensi hidup yang menarik untuk dipahami.

Jika Anda lebih menyukai teh, mungkin Anda memang termasuk orang yang:

lebih tenang,
reflektif,
empatik,
menikmati kesederhanaan,
dan menghargai hidup yang berjalan lebih perlahan.

Dan di tengah dunia yang semakin sibuk, kemampuan untuk menikmati secangkir teh sambil memberi ruang bagi diri sendiri mungkin justru menjadi kekuatan yang jarang dimiliki banyak orang.

Karena terkadang, ketenangan adalah bentuk kecerdasan emosional yang paling sederhana—namun paling sulit ditemukan.

EDITOR: Hanny Suwindari