← Beranda
9 Perilaku yang Sulit Disembunyikan oleh Orang Egois, Bahkan Ketika Mereka Berpura-Pura Peduli Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahSenin, 25 Mei 2026 | 22.50 WIB
seseorang yang mungkin sulit disembunyikan oleh orang-orang egois./Magnific/azerbaijan_stockers

JawaPos.com - Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering bertemu dengan orang-orang yang tampak perhatian, ramah, dan penuh empati.

Mereka tahu cara berbicara dengan baik, memberikan kesan hangat, bahkan terlihat selalu siap membantu. Namun, seiring waktu, beberapa perilaku kecil mulai terlihat. Ada pola tertentu yang menunjukkan bahwa kepedulian mereka mungkin tidak sepenuhnya tulus.

Dilansir dari Expert Editor pada Jumat (22/5), psikologi menjelaskan bahwa orang yang sangat egois sering kali memiliki kebutuhan besar untuk menjaga citra diri.

Mereka ingin terlihat baik di mata orang lain, tetapi pada saat yang sama tetap menempatkan kepentingan pribadi di atas segalanya. Karena itu, meskipun mereka bisa berpura-pura peduli untuk sementara waktu, perilaku tertentu tetap sulit disembunyikan.

Artikel ini membahas sembilan perilaku yang sering muncul pada orang-orang yang sangat egois menurut sudut pandang psikologi.

1. Mereka Selalu Mengarahkan Percakapan Kembali pada Diri Sendiri

Salah satu tanda paling umum dari orang yang sangat egois adalah kecenderungan untuk menjadikan diri mereka pusat setiap percakapan.

Awalnya mereka mungkin tampak mendengarkan. Mereka mengangguk, memberi respons singkat, atau bahkan bertanya sesuatu. Namun, tidak lama kemudian, topik pembicaraan kembali berputar tentang pengalaman, masalah, pencapaian, atau pendapat mereka sendiri.

Misalnya, ketika seseorang bercerita tentang kesulitannya di tempat kerja, orang egois mungkin merespons dengan:

“Itu belum seberapa dibanding yang pernah aku alami.”

Atau ketika orang lain membagikan kabar bahagia:

“Aku juga pernah melakukan hal yang lebih besar dari itu.”

Dalam psikologi sosial, perilaku ini berkaitan dengan kebutuhan validasi diri yang tinggi. Mereka ingin terus merasa penting dan relevan. Akibatnya, mereka sulit benar-benar hadir untuk mendengarkan orang lain.

Orang yang tulus peduli biasanya mampu memberi ruang bagi orang lain untuk berbicara tanpa merasa perlu menjadi pusat perhatian.

2. Mereka Membantu Hanya Jika Ada Keuntungan untuk Diri Sendiri

Orang egois sering terlihat dermawan atau suka membantu. Namun, jika diperhatikan lebih dekat, bantuan tersebut biasanya memiliki motif tersembunyi.

Mereka membantu ketika:

Ada kemungkinan mendapat pujian
Bisa meningkatkan citra diri
Membuat orang lain merasa berutang budi
Ada keuntungan sosial atau finansial
Mereka ingin dianggap sebagai “orang baik”

Dalam psikologi, ini sering dikaitkan dengan perilaku manipulatif yang dibungkus dalam tindakan prososial.

Bukan berarti semua bantuan harus sepenuhnya tanpa keuntungan emosional. Namun, perbedaannya terletak pada niat utama. Orang yang benar-benar peduli membantu karena mereka ingin meringankan beban orang lain. Sebaliknya, orang egois lebih fokus pada apa yang bisa mereka dapatkan dari tindakan tersebut.

Ketika keuntungan itu hilang, kepedulian mereka biasanya ikut menghilang.

3. Mereka Sulit Mengakui Kesalahan

Salah satu ciri paling menonjol dari pribadi egois adalah ketidakmampuan untuk menerima bahwa mereka bisa salah.

Bahkan ketika bukti sudah jelas, mereka cenderung:

Membela diri secara berlebihan
Menyalahkan situasi
Menyalahkan orang lain
Mengubah cerita
Menganggap dirinya korban

Menurut psikologi, orang dengan ego tinggi sering melihat pengakuan kesalahan sebagai ancaman terhadap harga diri mereka.

Karena itu, mereka lebih memilih mempertahankan citra sempurna daripada bersikap jujur dan bertanggung jawab.

Padahal, kemampuan mengakui kesalahan adalah tanda kematangan emosional. Orang yang sehat secara emosional memahami bahwa membuat kesalahan tidak mengurangi nilai dirinya sebagai manusia.

4. Mereka Hanya Peduli Saat Sedang Membutuhkan Sesuatu

Pola ini sering terlihat dalam hubungan pertemanan, keluarga, maupun percintaan.

Orang egois bisa tiba-tiba sangat perhatian ketika mereka membutuhkan bantuan, dukungan, koneksi, atau perhatian emosional. Mereka akan aktif menghubungi, bersikap hangat, dan menunjukkan kepedulian.

Namun setelah kebutuhan mereka terpenuhi, intensitas perhatian itu menurun drastis.

Psikologi hubungan menyebut pola ini sebagai hubungan transaksional, yaitu hubungan yang didasarkan pada keuntungan pribadi, bukan koneksi emosional yang sehat.

Hubungan seperti ini sering membuat orang lain merasa dimanfaatkan. Mereka merasa hanya dicari ketika sedang dibutuhkan.

Kepedulian yang tulus biasanya konsisten, bukan hanya muncul ketika ada kepentingan tertentu.

5. Mereka Kurang Memiliki Empati yang Mendalam

Empati adalah kemampuan memahami dan merasakan apa yang dialami orang lain.

Orang egois kadang mampu meniru empati secara sosial. Mereka tahu kapan harus berkata:

“Aku mengerti perasaanmu.”

Namun dalam praktiknya, mereka sering gagal menunjukkan empati yang benar-benar mendalam.

Contohnya:

Mereka cepat bosan mendengar masalah orang lain
Mereka meremehkan perasaan orang lain
Mereka mengalihkan pembicaraan ke diri sendiri
Mereka memberi respons dingin ketika tidak ada manfaat pribadi
Mereka tidak benar-benar hadir secara emosional

Menurut psikologi, empati membutuhkan kemampuan keluar dari fokus diri sendiri. Inilah yang sulit dilakukan oleh orang yang sangat egois.

Karena perhatian mereka terlalu terpusat pada kebutuhan pribadi, mereka kesulitan memahami dunia emosional orang lain secara utuh.

6. Mereka Sangat Membutuhkan Pengakuan dan Pujian

Orang yang sangat egois sering memiliki kebutuhan besar untuk dikagumi.

Mereka ingin:

Dipuji
Dianggap paling hebat
Mendapat perhatian
Diakui kontribusinya
Menjadi pusat apresiasi

Bahkan ketika melakukan sesuatu yang tampaknya baik, mereka sering berharap ada pengakuan yang mengikuti.

Jika tidak mendapat apresiasi, mereka bisa merasa kesal, kecewa, atau mengungkit kembali apa yang sudah mereka lakukan.

Dalam psikologi, kebutuhan validasi eksternal yang berlebihan sering berkaitan dengan rasa aman diri yang rapuh. Karena itu, mereka terus mencari penguatan dari luar.

Masalahnya, kebutuhan akan pengakuan ini dapat membuat hubungan terasa melelahkan. Orang lain akhirnya merasa harus terus menjaga ego mereka.

7. Mereka Sulit Benar-Benar Bahagia untuk Kesuksesan Orang Lain

Orang egois sering menunjukkan reaksi aneh ketika orang lain berhasil.

Di permukaan mereka mungkin memberi ucapan selamat, tetapi di balik itu muncul:

Rasa iri
Kompetisi tersembunyi
Keinginan membandingkan diri
Upaya mengecilkan pencapaian orang lain

Misalnya, ketika teman mendapatkan promosi kerja, mereka mungkin berkata:

“Ya, mungkin karena dia dekat dengan atasan.”

Atau:

“Kerjaannya juga sebenarnya tidak terlalu sulit.”

Menurut psikologi, individu yang terlalu berpusat pada diri sendiri sering melihat keberhasilan orang lain sebagai ancaman terhadap harga dirinya.

Karena itu, mereka sulit memberikan dukungan yang benar-benar tulus.

Sebaliknya, orang yang matang secara emosional mampu ikut senang melihat orang lain berkembang tanpa merasa nilainya berkurang.

8. Mereka Sering Menggunakan Rasa Bersalah untuk Mengendalikan Orang Lain

Manipulasi emosional adalah salah satu perilaku yang sering muncul pada pribadi egois.

Salah satu bentuk yang paling umum adalah membuat orang lain merasa bersalah.

Contohnya:

“Setelah semua yang aku lakukan untukmu…”
“Kamu berubah sejak tidak mengikuti keinginanku.”
“Kalau kamu benar-benar peduli, kamu pasti mau melakukan ini.”

Tujuan dari kalimat seperti ini adalah menciptakan tekanan emosional agar orang lain mengikuti keinginan mereka.

Dalam psikologi, perilaku ini termasuk bentuk emotional manipulation.

Orang yang benar-benar peduli biasanya menghargai batasan dan kebebasan orang lain. Mereka tidak menggunakan rasa bersalah sebagai alat kontrol.

9. Mereka Peduli pada Citra Diri Lebih dari Ketulusan

Banyak orang egois sangat fokus pada bagaimana mereka terlihat di mata orang lain.

Mereka ingin dianggap:

Baik hati
Murah hati
Bijaksana
Peduli
Dewasa

Karena itu, mereka bisa sangat pandai membangun citra sosial.

Namun, ada perbedaan besar antara kepedulian yang tulus dan kepedulian yang hanya bertujuan menjaga reputasi.

Misalnya, mereka mungkin bersikap sangat baik di depan publik tetapi berubah dingin ketika tidak ada orang yang melihat.

Psikologi menjelaskan bahwa individu yang terlalu berorientasi pada citra sering menjadikan hubungan sebagai alat untuk memperkuat identitas diri.

Akibatnya, hubungan terasa dangkal dan kurang memiliki kehangatan emosional yang nyata.

Mengapa Perilaku Ini Sulit Disembunyikan?

Meskipun seseorang bisa berpura-pura peduli dalam jangka pendek, perilaku asli biasanya muncul melalui pola yang konsisten.

Psikologi menunjukkan bahwa kepribadian seseorang tercermin bukan hanya dari kata-kata, tetapi juga dari:

Cara mereka memperlakukan orang saat tidak membutuhkan apa-apa
Respons mereka ketika tidak mendapat keuntungan
Kemampuan mereka mendengarkan
Cara mereka menghadapi kesalahan
Sikap mereka terhadap keberhasilan orang lain

Orang yang benar-benar peduli cenderung menunjukkan empati, konsistensi, dan ketulusan tanpa perlu terus mencari keuntungan pribadi.

Sebaliknya, orang yang sangat egois sering kesulitan mempertahankan topeng kepedulian dalam jangka panjang karena fokus utama mereka tetap kembali pada diri sendiri.

Penutup

Tidak semua orang yang sesekali menunjukkan sifat egois berarti buruk. Pada tingkat tertentu, setiap manusia memiliki kebutuhan untuk memikirkan dirinya sendiri.

Namun, ketika seseorang terus-menerus menempatkan kepentingan pribadi di atas empati, kejujuran, dan hubungan yang sehat, pola perilaku tersebut biasanya mulai terlihat.

Memahami tanda-tanda ini penting agar kita dapat membangun hubungan yang lebih sehat, menjaga batasan emosional, dan mengenali perbedaan antara kepedulian yang tulus dan kepedulian yang hanya bersifat manipulatif.

Pada akhirnya, ketulusan tidak hanya terlihat dari kata-kata manis, tetapi dari konsistensi perilaku seseorang ketika tidak ada keuntungan pribadi yang bisa mereka dapatkan.

EDITOR: Hanny Suwindari