← Beranda
7 Sinyal Anda Mengalami Quarter Life Crisis meski Terlihat Baik-baik Saja
Emilia Nailun NajaSelasa, 12 Mei 2026 | 04.50 WIB
ilustrasi orang yang mengalami quarter life crisis. (Freepik)

 

 

 

JawaPos.com-Tidak sedikit anak muda yang terlihat menjalani hidup seperti biasa. Kuliah, bekerja, atau mulai mandiri, tetapi diam-diam merasa kosong dan bingung dengan arah hidupnya. Kondisi tersebut dikenal sebagai quarter life crisis (QLC) atau krisis seperempat abad, yaitu fase krisis yang muncul di usia dewasa awal ketika seseorang mulai mempertanyakan banyak hal dalam hidupnya.

Berdasarkan jurnal Early Adult Crisis Episodes in Emerging Adulthood yang ditulis oleh Oliver C. Robinson dan dipublikasikan di Journal of Emerging Adulthood (2025), Indonesia mencatat angka tertinggi dibanding tujuh negara lain dengan prevalensi mencapai 77,1 persen. Artinya, sekitar tiga dari empat anak muda pernah mengalami fase ini, terutama di usia 20–29 tahun, dengan durasi yang bisa berlangsung hingga satu sampai dua tahun.

Berikut tujuh sinyal yang sering muncul, meski dari luar tampaknya baik-baik saja:

1. Sering merasa tidak cukup baik

Penilaian terhadap diri sendiri cenderung negatif, bahkan ketika sudah mencapai sesuatu. Perasaan tidak cukup pintar, tidak cukup sukses, atau tidak sebaik orang lain muncul berulang. Dalam penelitian tersebut, evaluasi diri negatif menjadi salah satu tanda paling dominan dalam QLC.

 

2. Cemas berlebihan terhadap masa depan

Kekhawatiran tentang karier, keuangan, atau kehidupan pribadi muncul terus-menerus dan sulit dikendalikan. Rasa cemas ini tidak selalu disertai solusi, sehingga justru membuat pikiran semakin penuh dan tidak tenang.

 

3. Merasa hidup seperti berjalan di tempat

Rutinitas tetap dijalani, tetapi muncul perasaan terjebak. Aktivitas terasa monoton dan tidak membawa perubahan berarti. Dalam studi, kondisi ini disebut sebagai locked-in, yaitu situasi ketika seseorang merasa tidak punya pilihan untuk keluar dari kondisi yang dijalani.

 

4. Mulai mempertanyakan tujuan hidup

Target yang dulu dikejar, seperti lulus kuliah atau mendapatkan pekerjaan, tidak lagi terasa memuaskan setelah tercapai. Kondisi ini berkaitan dengan arrival fallacy, yaitu anggapan bahwa pencapaian tertentu akan membawa kebahagiaan, tetapi kenyataannya tidak selalu demikian.

 

5. Terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain

Melihat pencapaian orang lain, terutama di media sosial, memicu perasaan tertinggal. Perbandingan ini sering kali tidak seimbang karena hanya melihat sisi terbaik orang lain, sehingga memperkuat rasa tidak puas terhadap diri sendiri.

 

6. Tekanan dari keluarga terasa semakin besar

Di Indonesia, faktor keluarga menjadi pemicu utama. Tuntutan untuk sukses, membantu kondisi finansial, atau memenuhi ekspektasi tertentu bisa menambah beban. Situasi ini membuat krisis tidak hanya berasal dari diri sendiri, tetapi juga dari lingkungan terdekat.

Baca Juga: Quarter Life Crisis di Usia 20-an: Kenapa Banyak yang Mengalaminya dan Bagaimana Cara Mengatasi Fase Sulit Ini?

Baca Juga: 6 Perbedaan Cara Cowok dan Cewek Hadapi Quarter Life Crisis, Siapa yang Lebih Cepat Menemukan Jati Diri?

7. Mudah lelah secara emosional

Kelelahan muncul bukan karena aktivitas fisik, tetapi karena tekanan mental yang terus berlangsung. Perasaan lelah ini bisa datang tanpa alasan jelas dan sering kali disertai kehilangan motivasi. Dalam konteks QLC, kondisi ini berkaitan dengan akumulasi stres dan ketidakpastian dalam jangka waktu panjang. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan