← Beranda
Orang yang Menertawakan Lelucon Mereka Sendiri, Biasanya Memiliki 7 Ciri Kepribadian Ini Menurut Psikologi
Irfan Ferdiansyah• Senin, 11 Mei 2026 | 16.25 WIB
seseorang yang menertawakan lelucon dirinya sendiri./Magnific/The Yuri Arcurs Collection

JawaPos.com - Tertawa atas lelucon sendiri sering dianggap hal sederhana, bahkan kadang dianggap “lucu sendiri”. Namun dalam psikologi, perilaku ini bisa memberi gambaran menarik tentang cara seseorang memproses emosi, berpikir, dan berinteraksi secara sosial.

Bukan berarti setiap orang yang melakukan ini memiliki “ciri tertentu secara mutlak”, tetapi ada pola kepribadian yang sering muncul berdasarkan studi tentang humor, regulasi emosi, dan kecerdasan sosial.

Dilansir dari Expert Editor pada Jumat (8/5), terdapat tujuh ciri kepribadian yang sering dikaitkan dengan orang yang mudah menertawakan leluconnya sendiri.

1. Memiliki Humor Internal yang Kuat

Orang seperti ini cenderung memiliki “dunia humor internal” yang aktif. Mereka tidak selalu membutuhkan respons orang lain untuk menganggap sesuatu lucu.

Dalam psikologi humor, ini berkaitan dengan kemampuan self-generated humor, yaitu kemampuan menciptakan atau menikmati humor dari pikiran sendiri tanpa stimulus eksternal.

Mereka sering memproses situasi sehari-hari dengan sudut pandang yang ringan atau absurd, sehingga tawa bisa muncul bahkan sebelum orang lain bereaksi.

2. Cenderung Ekstrovert atau Sosial Terbuka

Banyak orang yang tertawa atas leluconnya sendiri memiliki tingkat keterbukaan sosial yang tinggi. Mereka nyaman mengekspresikan emosi secara spontan, termasuk tawa.

Dalam konteks kepribadian Big Five, ini sering berkaitan dengan trait extraversion dan openness to experience.

Mereka tidak terlalu memikirkan “apakah ini akan dinilai aneh”, sehingga ekspresi diri lebih bebas dan alami.

3. Regulasi Emosi yang Baik

Tertawa, bahkan pada lelucon sendiri, bisa menjadi bentuk regulasi emosi. Orang dengan kemampuan ini biasanya lebih mudah mengelola stres atau ketegangan.

Humor berfungsi sebagai mekanisme koping. Saat seseorang bisa menemukan kelucuan dalam pikirannya sendiri, itu menunjukkan kemampuan untuk meredakan tekanan secara mandiri.

Ini sering ditemukan pada individu yang memiliki resiliensi emosional lebih tinggi.

4. Imajinatif dan Kreatif

Orang yang mudah menertawakan pikirannya sendiri biasanya memiliki imajinasi aktif. Mereka mampu membentuk skenario mental yang lucu, bahkan tanpa stimulus eksternal.

Kreativitas ini tidak hanya dalam seni atau humor, tetapi juga dalam cara mereka memandang situasi.

Mereka sering menghubungkan hal-hal yang tidak biasa, yang bisa menghasilkan sudut pandang humoris spontan.

5. Tidak Terlalu Bergantung pada Validasi Sosial

Salah satu ciri penting adalah rendahnya ketergantungan pada validasi orang lain dalam hal humor.

Mereka tidak selalu menunggu orang lain tertawa untuk merasa bahwa sesuatu itu lucu.

Ini menunjukkan tingkat self-validation yang cukup kuat, di mana pengalaman emosional tidak sepenuhnya bergantung pada respons sosial.

6. Memiliki Kecerdasan Sosial yang Fleksibel

Meski terlihat “tertawa sendiri”, banyak dari mereka sebenarnya memiliki kecerdasan sosial yang baik.

Mereka memahami konteks sosial, tetapi memilih untuk mengekspresikan humor secara spontan. Dalam banyak kasus, ini justru membantu mencairkan suasana.

Namun, dalam beberapa situasi formal, mereka juga tahu kapan harus menahan diri. Ini menunjukkan fleksibilitas sosial, bukan ketidaksadaran.

7. Lebih Mudah Merasa Nyaman dengan Diri Sendiri

Orang yang bisa tertawa atas pikirannya sendiri biasanya memiliki tingkat kenyamanan diri yang cukup baik.

Mereka tidak terlalu takut terlihat aneh atau berbeda. Bahkan, mereka bisa menikmati momen-momen “konyol” tanpa merasa perlu menyembunyikannya.

Dalam psikologi, ini sering dikaitkan dengan konsep self-acceptance, yaitu penerimaan diri tanpa terlalu banyak penilaian negatif.

Kesimpulan

Tertawa pada lelucon sendiri bukan sekadar kebiasaan unik, tetapi bisa mencerminkan berbagai aspek psikologis seperti kreativitas, regulasi emosi, dan cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Namun penting untuk diingat, tidak ada satu ciri pun yang bersifat mutlak atau diagnostik. Perilaku manusia selalu dipengaruhi oleh konteks, budaya, dan situasi sosial.

Pada akhirnya, kemampuan untuk menemukan humor dalam pikiran sendiri juga bisa menjadi tanda bahwa seseorang cukup nyaman dengan dirinya—dan itu bukan hal yang buruk.

EDITOR: Hanny Suwindari