← Beranda
Terkadang Anda Merasa Kurang Berprestasi dalam Hidup? Ucapkan Selamat Tinggal pada 5 Kebiasaan Harian Ini Menurut Psikologi
Irfan Ferdiansyah• Kamis, 7 Mei 2026 | 22.16 WIB
seseorang yang kurang berprestasi dalam hidup./Magnific/alexandrumusuc

JawaPos.com - Pernah merasa hidup berjalan di tempat? Anda bekerja, beraktivitas, bahkan sibuk sepanjang hari—namun di dalam hati muncul perasaan bahwa Anda belum benar-benar “berprestasi” atau mencapai sesuatu yang berarti.

Perasaan ini sangat umum, dan kabar baiknya: sering kali penyebabnya bukan kurangnya kemampuan, melainkan kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari.

Dalam psikologi, kebiasaan harian memiliki pengaruh besar terhadap cara kita berpikir, merasa, dan bertindak. Tanpa disadari, beberapa kebiasaan justru menghambat perkembangan diri dan membuat kita merasa stagnan.

Jika Anda ingin mulai merasa lebih produktif, percaya diri, dan berprestasi, langkah pertama adalah mengenali kebiasaan yang perlu ditinggalkan.

Dilansir dari Expert Editor pada Rabu (6/5), terdapat lima kebiasaan harian yang sebaiknya Anda ucapkan selamat tinggal—dan alasannya menurut perspektif psikologi.

1. Terlalu Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Di era media sosial, membandingkan diri menjadi kebiasaan yang hampir otomatis. Anda melihat pencapaian orang lain—karier, keuangan, penampilan, atau gaya hidup—lalu tanpa sadar merasa tertinggal.

Secara psikologis, ini dikenal sebagai social comparison. Dalam dosis kecil, perbandingan bisa memotivasi. Namun jika dilakukan terus-menerus, efeknya justru merusak harga diri dan membuat Anda merasa tidak cukup baik.

Masalahnya, Anda hanya melihat “highlight” kehidupan orang lain, bukan proses atau kesulitan mereka. Akibatnya, standar yang Anda gunakan menjadi tidak realistis.

Apa yang bisa dilakukan?
Alihkan fokus dari orang lain ke diri sendiri. Bandingkan diri Anda hari ini dengan versi Anda di masa lalu. Kemajuan kecil tetaplah kemajuan.

2. Menunda-Nunda (Prokrastinasi) yang Dianggap “Sepele”

Banyak orang berpikir menunda pekerjaan adalah hal biasa. “Nanti saja,” “Masih ada waktu,” atau “Tunggu mood datang” menjadi alasan sehari-hari.

Namun dalam psikologi, prokrastinasi bukan sekadar masalah manajemen waktu—ini berkaitan dengan regulasi emosi. Kita menunda karena ingin menghindari rasa tidak nyaman, seperti bosan, takut gagal, atau cemas.

Masalahnya, kebiasaan ini menciptakan siklus negatif:
menunda → merasa bersalah → stres → semakin menunda.

Apa yang bisa dilakukan?
Mulai dari langkah kecil. Gunakan prinsip “5 menit”—kerjakan sesuatu hanya selama lima menit. Biasanya, setelah mulai, Anda akan lebih mudah melanjutkan.

3. Terlalu Keras pada Diri Sendiri

Banyak orang percaya bahwa menjadi keras pada diri sendiri akan membuat mereka lebih sukses. Namun penelitian psikologi justru menunjukkan sebaliknya.

Self-criticism yang berlebihan dapat menurunkan motivasi, meningkatkan kecemasan, dan bahkan membuat seseorang lebih mudah menyerah. Alih-alih berkembang, Anda justru terjebak dalam rasa tidak pernah cukup.

Sebaliknya, self-compassion (berbelas kasih pada diri sendiri) terbukti meningkatkan ketahanan mental dan produktivitas.

Apa yang bisa dilakukan?
Perlakukan diri Anda seperti Anda memperlakukan teman dekat. Jika mereka gagal, Anda tidak akan menghina mereka—Anda akan mendukung mereka. Lakukan hal yang sama untuk diri sendiri.

4. Mengabaikan Istirahat dan Keseimbangan Hidup

Ironisnya, banyak orang merasa tidak berprestasi justru karena terlalu memaksakan diri. Mereka bekerja tanpa henti, mengorbankan tidur, dan menganggap istirahat sebagai kemalasan.

Padahal, otak manusia membutuhkan jeda untuk memproses informasi, memulihkan energi, dan tetap fokus. Tanpa istirahat yang cukup, produktivitas justru menurun, dan Anda lebih mudah merasa lelah secara mental.

Dalam jangka panjang, ini bisa menyebabkan burnout—kondisi kelelahan emosional yang serius.

Apa yang bisa dilakukan?
Jadwalkan istirahat seperti Anda menjadwalkan pekerjaan. Tidur cukup, ambil jeda, dan beri ruang untuk aktivitas yang Anda nikmati.

5. Hidup dengan “Autopilot” Tanpa Tujuan Jelas

Kebiasaan terakhir ini sering tidak disadari: menjalani hari tanpa arah yang jelas. Anda bangun, bekerja, pulang, lalu mengulanginya lagi—tanpa benar-benar tahu apa yang ingin dicapai.

Secara psikologis, manusia membutuhkan makna (sense of purpose) untuk merasa puas dengan hidup. Tanpa tujuan, aktivitas sehari-hari terasa kosong, meskipun Anda sebenarnya sibuk.

Apa yang bisa dilakukan?
Luangkan waktu untuk refleksi. Tanyakan pada diri sendiri:

Apa yang benar-benar penting bagi saya?
Apa yang ingin saya capai dalam jangka panjang?

Tujuan tidak harus besar. Bahkan arah sederhana sudah cukup untuk memberi makna pada aktivitas harian Anda.

Penutup: Perubahan Besar Dimulai dari Kebiasaan Kecil

Merasa kurang berprestasi bukan berarti Anda gagal—sering kali itu hanya sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu disesuaikan dalam pola hidup Anda.

Kebiasaan harian, sekecil apa pun, membentuk kualitas hidup Anda secara keseluruhan. Dengan melepaskan lima kebiasaan di atas, Anda memberi ruang bagi pertumbuhan, kepercayaan diri, dan rasa pencapaian yang lebih nyata.

Mulailah dari satu kebiasaan terlebih dahulu. Tidak perlu sempurna, yang penting konsisten. Karena pada akhirnya, hidup yang terasa “berprestasi” bukan tentang seberapa cepat Anda sampai, tetapi seberapa sadar Anda melangkah.

EDITOR: Hanny Suwindari