← Beranda
Ingin Orang Benar-Benar Mendengarkan Anda? Berhentilah Mengucapkan 7 Frasa Ini Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahSelasa, 5 Mei 2026 | 23.38 WIB
seseorang yang benar-benar didengarkan oleh orang lain./Magnific/freepik

JawaPos.com - Komunikasi bukan hanya soal apa yang Anda katakan, tetapi juga bagaimana Anda mengatakannya.

Tanpa disadari, beberapa frasa yang sering kita gunakan justru bisa melemahkan pesan, mengurangi kredibilitas, atau bahkan membuat orang lain berhenti mendengarkan.

Dalam perspektif psikologi komunikasi, kata-kata tertentu dapat memicu resistensi, kebosanan, atau kesan tidak percaya diri.

Jika Anda ingin didengar, dipahami, dan dihargai, ada baiknya mulai memperhatikan kebiasaan verbal Anda.

Dilansir dari Expert Editor pada Senin (4/5), terdapat tujuh frasa yang sebaiknya Anda kurangi—atau hentikan—beserta alasannya.

1. “Mungkin saya salah, tapi…”

Frasa ini terdengar rendah hati, namun sering kali justru melemahkan pesan Anda sendiri. Secara psikologis, Anda sedang memberi sinyal bahwa pendapat Anda tidak cukup kuat untuk dipertahankan.

Mengapa bermasalah:
Otak pendengar cenderung langsung “menurunkan prioritas” informasi yang datang dengan keraguan.

Alternatif:
Langsung sampaikan poin Anda dengan jelas:

“Saya melihatnya dari sudut pandang ini…”

2. “Saya cuma bilang…”

Frasa ini biasanya muncul saat Anda merasa tidak didengar atau disalahpahami. Namun, penggunaan kata “cuma” membuat pernyataan Anda terdengar defensif dan pasif-agresif.

Mengapa bermasalah:
Alih-alih memperjelas, ini justru bisa memicu konflik karena terdengar seperti pembelaan diri.

Alternatif:

“Yang ingin saya sampaikan adalah…”

3. “Seharusnya kamu…”

Ini adalah salah satu frasa paling memicu resistensi. Dalam psikologi, ini termasuk bentuk directive language yang bisa membuat orang merasa dihakimi.

Mengapa bermasalah:
Orang cenderung menolak ketika merasa diperintah atau disalahkan.

Alternatif:

“Bagaimana kalau kita coba cara ini?”

4. “Saya tahu ini bodoh, tapi…”

Mirip dengan poin pertama, Anda sedang merendahkan ide Anda sendiri sebelum orang lain sempat menilainya.

Mengapa bermasalah:
Otak pendengar akan langsung mengasosiasikan ide Anda sebagai sesuatu yang tidak layak dipertimbangkan.

Alternatif:

“Saya punya ide yang mungkin menarik untuk dipertimbangkan…”

5. “Semua orang juga bilang begitu”

Menggunakan “semua orang” adalah bentuk generalisasi berlebihan.

Mengapa bermasalah:
Secara psikologis, ini bisa dianggap manipulatif karena tidak berbasis fakta yang jelas.

Alternatif:

“Beberapa orang yang saya temui berpikir bahwa…”

6. “Terserah kamu”

Sekilas terdengar memberi kebebasan, tetapi sering kali mengandung nada pasif-agresif.

Mengapa bermasalah:
Pendengar bisa merasa Anda tidak benar-benar peduli atau malah menyimpan ketidaksetujuan tersembunyi.

Alternatif:

“Saya punya preferensi, tapi saya terbuka untuk diskusi.”

7. “Ini gampang kok”

Frasa ini sering digunakan untuk menyemangati, tetapi efeknya bisa sebaliknya.

Mengapa bermasalah:
Jika seseorang merasa kesulitan, kalimat ini justru membuat mereka merasa tidak kompeten.

Alternatif:

“Memang butuh waktu, tapi saya yakin kamu bisa.”

Kenapa Hal Ini Penting?

Dalam psikologi komunikasi, cara penyampaian pesan sangat memengaruhi bagaimana pesan itu diterima. Kata-kata yang terlalu defensif, merendahkan diri, atau menghakimi dapat mengaktifkan respons emosional negatif seperti penolakan, rasa tidak nyaman, atau bahkan kehilangan respek.

Sebaliknya, komunikasi yang jelas, tegas, dan penuh empati akan:

Meningkatkan kredibilitas Anda
Membuat orang lebih terbuka terhadap ide Anda
Memperkuat hubungan interpersonal

Penutup

Mengubah kebiasaan berbicara memang tidak instan. Namun, dengan sedikit kesadaran dan latihan, Anda bisa meningkatkan kualitas komunikasi secara signifikan. Mulailah dengan memperhatikan frasa-frasa kecil yang sering Anda gunakan—karena di situlah letak perbedaannya.

Jika Anda ingin didengar, jangan hanya fokus pada isi pesan. Perhatikan juga bagaimana Anda membungkusnya. Kata-kata yang tepat bukan hanya menyampaikan pikiran, tetapi juga membangun pengaruh.

EDITOR: Hanny Suwindari