← Beranda
7 Balasan Cerdas Menghadapi 'Kasar Berkedok Bercanda' Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?
Irfan FerdiansyahSelasa, 5 Mei 2026 | 23.30 WIB
seseorang yang cerdas menghadapi orang yang kasar berkedok bercanda./Magnific/The Yuri Arcurs Collection

JawaPos.com - Dalam interaksi sosial, kita sering menjumpai tipe orang yang melontarkan komentar menyakitkan, lalu dengan cepat berlindung di balik kalimat seperti, “Santai aja, kan cuma bercanda,” atau “Aku orangnya blak-blakan.” Sekilas terlihat ringan, tapi sebenarnya perilaku ini bisa berdampak besar pada kesehatan mental dan harga diri orang lain.

Dalam psikologi, fenomena ini sering dikaitkan dengan aggressive humor (humor agresif) atau bentuk komunikasi pasif-agresif—di mana seseorang menyampaikan kritik atau serangan secara terselubung agar terhindar dari tanggung jawab emosional.

Alih-alih diam atau terpancing emosi, ada cara-cara cerdas untuk merespons.

Dilansir dari Expert Editor pada Senin (4/5), terdapat tujuh pendekatan yang bisa kamu gunakan.

1. “Kalau itu bercanda, aku nggak merasa itu lucu.”

Balasan ini sederhana tapi kuat. Kamu tidak menyerang balik, hanya menyatakan dampak.

Secara psikologis, ini disebut assertive communication—menyampaikan perasaan tanpa menyalahkan. Orang yang terbiasa “bercanda kasar” sering tidak siap ketika dampaknya diungkap dengan tenang.

Efeknya: membuat mereka sadar bahwa “candaan” mereka tidak universal.

2. “Boleh jujur, tapi tetap bisa sopan kan?”

Banyak orang menggunakan “kejujuran” sebagai alasan untuk tidak berempati.

Padahal, dalam psikologi komunikasi, kejujuran yang sehat tetap mempertimbangkan social intelligence—kemampuan membaca situasi dan perasaan orang lain.

Balasan ini menegaskan bahwa jujur ≠ bebas menyakiti.

3. “Maksudnya kamu apa ya ngomong begitu?”

Ini adalah teknik reflektif. Kamu tidak langsung menyerang, tapi meminta klarifikasi.

Orang yang berbicara kasar sering mengandalkan ambiguitas. Ketika diminta menjelaskan, mereka jadi harus bertanggung jawab atas ucapannya.

Efeknya: mengurangi ruang untuk “bersembunyi” di balik candaan.

4. “Kalau itu cara bercandamu, mungkin kita beda selera.”

Balasan ini menetapkan batas tanpa konflik.

Dalam teori psikologi, ini termasuk boundary setting—menentukan apa yang bisa dan tidak bisa kamu terima dalam interaksi sosial.

Pesannya jelas: kamu tidak melarang mereka, tapi kamu juga tidak ikut bermain di aturan mereka.

5. “Aku lebih nyaman kalau kita saling menghargai.”

Ini menggeser fokus dari serangan ke nilai.

Pendekatan ini efektif karena tidak menyerang individu, tapi mengangkat standar hubungan. Dalam psikologi hubungan, ini disebut value-based communication.

Efeknya: membuat percakapan naik level, bukan sekadar adu argumen.

6. “Kalau kamu terus bilang ‘cuma bercanda’, kedengarannya seperti pembenaran.”

Balasan ini cukup tajam, tapi masih rasional.

Kamu mengidentifikasi pola perilaku mereka. Dalam psikologi, ini membantu menghentikan deflection—mekanisme menghindari tanggung jawab.

Efeknya: memaksa mereka melihat kebiasaan mereka sendiri.

7. Diam + ekspresi datar (strategi non-verbal)

Tidak semua harus dibalas dengan kata-kata.

Dalam banyak kasus, tidak memberikan reaksi justru menghilangkan “hadiah” yang mereka cari (perhatian atau reaksi emosional). Ini dikenal sebagai teknik extinction dalam psikologi perilaku.

Efeknya: candaan kasar kehilangan “panggung”.

Kenapa Orang Melakukan Ini?

Memahami motifnya bisa membantu kamu merespons dengan lebih tenang:

Insecure: menjatuhkan orang lain untuk merasa lebih tinggi
Kurang empati: tidak peka terhadap dampak kata-kata
Lingkungan terbiasa kasar: menganggap itu normal
Cari perhatian atau dominasi sosial

Namun penting diingat: memahami alasan bukan berarti membenarkan perilaku.

Penutup

Menghadapi orang yang “kasar tapi ngaku bercanda” bukan soal membalas lebih keras, tapi soal mengendalikan respon dengan cerdas dan tegas.

Kuncinya:

Jangan ikut bermain di level mereka
Tetapkan batas dengan tenang
Gunakan komunikasi asertif
Pilih kapan perlu bicara, kapan cukup diam

Karena pada akhirnya, bukan tugasmu untuk menyesuaikan diri dengan perilaku yang tidak sehat—melainkan menjaga ruangmu tetap aman secara emosional.

EDITOR: Hanny Suwindari