JawaPos.com - Pernahkah Anda merasa tidak bisa memejamkan mata jika suasana kamar benar-benar sunyi? Bagi sebagian orang, menyalakan TV sebagai suara latar adalah "syarat wajib" agar bisa terlelap. Namun, menurut kacamata psikologi dan medis, kebiasaan ini bukan sekadar preferensi, melainkan sinyal adanya masalah pada kondisi tubuh dan gaya hidup Anda.
Tidur dengan TV menyala sering kali menjadi pelarian saat pikiran tidak bisa tenang atau tubuh merasa lelah yang tidak wajar. Sayangnya, cahaya biru (blue light) dari layar justru menekan hormon melatonin, yang membuat kualitas tidur Anda merosot tajam. Alhasil, meski sudah memejamkan mata berjam-jam, Anda tetap bangun dalam keadaan lemas.
Dilansir dari YourTango, Kamis (30/4), ada alasan medis dan psikologis mengapa seseorang merasa butuh rangsangan eksternal untuk bisa tidur. "Ada beberapa alasan medis mengapa seseorang mungkin merasa lelah meskipun sudah cukup tidur," kata Dr. Chirag Shah, seorang dokter ahli gangguan tidur.
Jika Anda termasuk orang yang hobi tidur ditemani suara televisi, berikut adalah 10 perilaku dan kondisi kesehatan yang biasanya Anda alami:
1. Ketidakseimbangan Hormon dan Tiroid
Kelelahan yang membuat Anda bergantung pada TV bisa jadi bersumber dari hormon yang tidak stabil. Bagi pria, rendahnya kadar testosteron sering menjadi penyebab utama kurangnya energi di siang hari. Sementara itu, masalah pada kelenjar tiroid yang mengatur metabolisme juga bisa menguras tenaga Anda hingga titik terendah.
“Memeriksa kadar testosteron bisa menjadi langkah awal yang baik untuk menemukan penyebab rendahnya energi di siang hari,” saran Shah. “Ketika kelenjar tiroid kurang aktif, ia tidak dapat menjalankan perannya dengan baik dalam menjaga agar proses proses tubuh kita berjalan dengan kecepatan penuh," sambung Shah.
2. Kurangnya Paparan Cahaya Alami
Banyak orang yang bekerja di ruangan tertutup tanpa jendela cenderung sulit tidur di malam hari tanpa bantuan TV. Hal ini disebabkan oleh gangguan ritme sirkadian tubuh. Otak membutuhkan sinyal cahaya matahari yang jelas untuk membedakan waktu aktif dan waktu istirahat secara alami.
“Paparan cahaya menstimulasi otak dan tubuh, membuat kita lebih terjaga dan waspada,” jelas perawat terdaftar Rebecca Lee. Tanpa paparan cahaya yang cukup di siang hari, tubuh Anda akan kesulitan memproduksi melatonin secara maksimal di malam hari tanpa bantuan stimulus luar seperti cahaya televisi.
3. Gangguan Pernapasan saat Tidur
Dengkuran keras bukan sekadar gangguan bagi orang di sebelah Anda, tapi tanda masalah serius seperti apnea tidur. Penderita kondisi ini sering kali merasa butuh TV untuk mengalihkan perhatian dari rasa tidak nyaman saat mencoba bernapas dengan benar di malam hari, meski mereka tidak menyadarinya.
“Penderita apnea tidur seringkali tidur cukup lama di malam hari, tetapi mendengkur dengan keras, sering terbangun, dan juga membangunkan orang lain dengan dengkuran mereka,” kata dokter keluarga Crystal Bowe. Gangguan ini membuat tidur tidak berkualitas dan meningkatkan rasa lelah yang kronis.
4. Gaya Hidup Kurang Gerak
Mungkin terdengar kontradiktif, tapi kurang olahraga justru membuat Anda merasa lebih lelah. Gaya hidup sedentari melemahkan sistem kardiovaskular, sehingga tubuh tidak punya "cadangan" energi yang cukup. Akibatnya, otak mencari cara instan untuk merasa rileks, salah satunya dengan menonton TV hingga tertidur.
“Gaya hidup kurang gerak mungkin merupakan penyebab terbesar kelelahan,” kata Lee. Dengan lebih banyak bergerak, sistem muskuloskeletal tubuh akan menguat dan membantu Anda mendapatkan rasa kantuk alami yang lebih sehat tanpa perlu bantuan layar kaca.
5. Dehidrasi Tersembunyi
Dehidrasi ringan sering kali tidak disadari namun berdampak besar pada kualitas istirahat. Kurangnya cairan membuat volume darah menurun dan jantung bekerja lebih keras. Rasa tidak nyaman akibat dehidrasi seperti sakit kepala atau mulut kering sering membuat orang menyalakan TV sebagai mekanisme pengalihan.
“Ketika tubuh Anda mengalami dehidrasi, volume darah secara keseluruhan menurun, sehingga tubuh Anda harus bekerja lebih keras untuk mengirimkan oksigen dan nutrisi ke seluruh tubuh,” kata Lee. Air putih yang cukup adalah kunci agar tubuh tidak perlu bekerja ekstra saat Anda seharusnya beristirahat.
6. Konsumsi Alkohol yang Salah Kaprah
Minum alkohol sebelum tidur mungkin membuat Anda cepat mengantuk, tapi itu adalah jebakan. Alkohol merusak fase tidur REM, yaitu fase tidur terdalam yang berfungsi memulihkan fungsi otak. Inilah alasan mengapa orang yang minum alkohol tetap merasa butuh stimulasi suara TV untuk merasa "terlelap".
“Banyak orang suka bersantai setelah seharian beraktivitas dengan minum satu atau dua gelas minuman beralkohol di malam hari. Sayangnya, minuman tersebut justru bisa membuat seseorang merasa lebih lelah keesokan paginya,” jelas Dr. Shah.
7. Efek Samping Kafein yang Tertunda
Kopi mungkin membantu Anda melewati siang hari, tapi ia meninggalkan jejak di malam hari. Kafein memblokir reseptor adenosin, zat kimia yang menandakan tubuh lelah. Saat efek kopi hilang, rasa lelah itu datang sekaligus, membuat otak "kaget" dan butuh distraksi TV untuk meredakan ketegangan.
“Tubuh Anda masih memproduksi adenosin, tetapi efeknya tertunda, sehingga Anda merasakannya sekaligus setelah efek kafein mereda,” kata Lee. Gangguan pola alami ini membuat Anda ketergantungan pada rangsangan eksternal agar bisa mematikan pikiran.
8. Pola Makan yang Kurang Nutrisi
Apa yang Anda makan sangat menentukan tingkat energi Anda. Karbohidrat sederhana menyebabkan lonjakan gula darah yang diikuti penurunan drastis, membuat Anda merasa lunglai. Kurangnya zat besi dan vitamin D juga membuat tubuh selalu merasa dalam mode "hemat energi".
Ahli gizi Shelley Rael memperingatkan bahwa diet yang tidak tepat bisa menguras tenaga. “Saya punya klien yang sering tertidur di tengah hari karena dia sedang menjalani salah satu diet tren terbaru dan tubuhnya tidak mendapatkan cukup energi,” ungkapnya.
9. Durasi Tidur yang Tidak Ideal
Tidur terlalu sebentar atau terlalu lama sama-sama berisiko merusak jam biologis. Tidur malam yang ideal mencakup siklus yang teratur. Jika siklus ini kacau, tubuh akan merasa bingung dan membutuhkan bantuan suara atau cahaya untuk bisa memasuki mode istirahat.
Rebecca Lee merekomendasikan sekitar tujuh setengah jam tidur sebagai angka ideal. “Ketika Anda tidur terlalu lama, jam biologis Anda akan terganggu dan sel-sel tidak memberi tahu tubuh bahwa sudah waktunya untuk bangun,” tambahnya.
10. Kebiasaan Psikologis sebagai Pengalih Perhatian
Bagi banyak orang, TV berfungsi sebagai pelarian dari kesunyian yang membawa pikiran-pikiran cemas. Suara latar membantu menutupi ketidaknyamanan emosional atau fisik. Meski terasa membantu, stimulasi cahaya layar sebenarnya adalah penghambat utama bagi jam biologis Anda untuk pulih secara total.