JawaPos.com – Depresi adalah gangguan yang memengaruhi ratusan juta orang di seluruh dunia tanpa memandang usia atau latar belakang.
Kondisi kesehatan mental ini memang tidak dipilih oleh siapapun, namun bukan berarti seseorang tidak punya kendali atas perjalanannya.
Sejumlah penelitian mengungkap bahwa ada kebiasaan sehari-hari yang tanpa disadari dapat memperburuk kondisi kejiwaan seseorang secara signifikan.
Psikologi modern telah mengidentifikasi tujuh pola perilaku yang tampak biasa namun ternyata memiliki kaitan erat dengan memburuknya gangguan ini.
Dilansir dari laman YourTango pada Selasa (28/4), Berikut tujuh kebiasaan yang memperburuk depresi dan kesehatan mental kata psikologi.
1. Pola makan yang buruk
Apa yang dikonsumsi setiap hari ternyata memiliki dampak langsung terhadap kondisi emosional dan suasana hati seseorang.
Sebuah studi yang diterbitkan di American Journal of Psychiatry menemukan bahwa pola makan ala Barat yang kaya makanan olahan dan gula dikaitkan dengan tingkat kecemasan yang lebih tinggi.
Para peneliti menduga bahwa komposisi mikrobioma dalam sistem pencernaan memainkan peran penting dalam memengaruhi kondisi kejiwaan seseorang.
Mengurangi konsumsi makanan olahan seperti roti putih dan kue-kue manis serta beralih ke makanan segar alami bisa menjadi langkah awal yang bermanfaat.
2. Gangguan tidur
Kualitas dan durasi tidur memiliki hubungan yang sangat erat dengan kondisi emosional dan stabilitas suasana hati seseorang.
Insomnia maupun kebiasaan bangun terlalu pagi adalah pola yang umum ditemukan pada individu yang mengalami gangguan mood berkepanjangan.
Gangguan pola tidur tidak hanya menjadi gejala, tetapi juga bisa memicu atau memperburuk episode gangguan suasana hati yang lebih serius.
Menjaga waktu tidur dan bangun yang konsisten serta menghindari layar digital beberapa jam sebelum tidur terbukti membantu memperbaiki kualitas istirahat.
3. Penggunaan media sosial yang berlebihan
Aktivitas digital yang berlebihan seperti scrolling media sosial, menonton video, hingga chatting terus-menerus dikaitkan dengan meningkatnya risiko gangguan mood.
Perasaan tidak mendapat respons yang diharapkan di media sosial bisa memunculkan rasa rendah diri dan perasaan terisolasi dari lingkungan sosial.
Di sisi lain, bagi sebagian orang yang merasa kesepian, media sosial justru bisa sedikit membantu karena menyediakan ruang untuk bersosialisasi secara virtual.
Jika media sosial lebih sering membuat perasaan memburuk daripada membaik, mengambil jeda panjang dari platform tersebut adalah pilihan yang bijak.
4. Manajemen stres yang buruk
Situasi penuh tekanan tidak memengaruhi semua orang dengan cara yang sama, dan perbedaan ini sebagian besar ditentukan oleh faktor genetik.
Sebuah studi menemukan bahwa gen yang mengatur kadar serotonin di otak berperan besar dalam menentukan seberapa rentan seseorang terhadap tekanan.
Meski gen tidak bisa diubah, kebiasaan mengelola stres bisa dilatih dan diperbaiki untuk meminimalkan dampaknya pada kondisi emosional.
Meditasi mindfulness yang berfokus pada pernapasan dan kesadaran akan momen saat ini terbukti efektif dalam meredakan tekanan psikologis berdasarkan penelitian ilmiah.
5. Kurang terpapar cahaya matahari
Berkurangnya paparan sinar matahari terutama di musim dingin atau pada kondisi dengan sedikit cahaya alami berkaitan dengan penurunan suasana hati.
Beberapa penelitian mencatat adanya korelasi antara perubahan musim dan panjang jam siang hari dengan fluktuasi kondisi emosional seseorang.
Paparan cahaya matahari di pagi hari terbukti lebih efektif dalam memperbaiki suasana hati dibandingkan paparan di siang atau sore hari.
Mendapatkan sinar matahari yang cukup setiap hari adalah langkah sederhana yang tidak membutuhkan biaya namun bisa memberi manfaat nyata bagi kondisi emosional.
6. Kebiasaan merokok
Merokok sudah lama diketahui berbahaya bagi kesehatan fisik, namun dampaknya terhadap kondisi emosional juga tidak kalah serius.
Sebuah studi tahun 2014 menemukan bahwa mereka yang berhenti merokok melaporkan suasana hati yang lebih positif dan kualitas hidup yang lebih baik.
Nikotin memang memberikan efek menenangkan sementara, namun saat efeknya hilang, tubuh mengalami gejala putus zat berupa iritabilitas dan kecemasan.
Naik turunnya suasana hati akibat ketergantungan nikotin ini justru menciptakan siklus yang memperberat kondisi emosional dalam jangka panjang.
7. Konsumsi alkohol yang berlebihan
Mengonsumsi alkohol dalam jumlah banyak diketahui dapat memicu episode gangguan suasana hati yang bersifat sementara maupun berkepanjangan.
Banyak orang menggunakan alkohol sebagai pelarian dari perasaan tidak nyaman, padahal alkohol sendiri memiliki efek menekan sistem saraf pusat.
Alih-alih meredakan perasaan negatif, konsumsi alkohol berlebih justru memperparah kondisi emosional yang sudah terganggu sejak awal.
Membatasi konsumsi alkohol pada takaran wajar, yakni satu gelas per hari untuk perempuan dan dua gelas untuk laki-laki, adalah batas aman yang dianjurkan.