JawaPos.com — Dalam kehidupan sehari-hari, tidak semua konflik muncul dalam bentuk kemarahan yang terbuka. Ada orang yang justru menunjukkan ketidaksenangan melalui cara-cara halus yang sulit dikenali, namun tetap berdampak pada hubungan sosial dan profesional.
Perilaku seperti ini sering kali membuat orang di sekitarnya merasa tidak nyaman tanpa benar-benar memahami penyebabnya. Situasi tersebut dapat terjadi di lingkungan kerja, pertemanan, bahkan dalam keluarga, sehingga sulit dibedakan apakah itu sekadar sikap biasa atau bentuk manipulasi emosional.
Secara psikologis, perilaku pasif-agresif merupakan bentuk ekspresi kemarahan secara tidak langsung, seperti sindiran halus, sikap dingin, atau tindakan yang sengaja menghambat tugas. Kondisi ini sering tidak disadari oleh pelaku maupun korban, sehingga terus berulang tanpa penyelesaian yang jelas.
Dilansir dari Your Tango, Senin (27/4), perilaku pasif-agresif dapat muncul dalam bentuk tindakan kecil yang berulang, seperti sindiran terselubung, diam yang disengaja, hingga ketidakmauan menyelesaikan tugas.
Studi juga menunjukkan bahwa pola ini sering menjadi sumber konflik interpersonal yang tidak terselesaikan karena sifatnya yang tidak langsung. Untuk lebih jelasnya, berikut lima perilaku yang menunjukkan tanda pasif agresif pada seseorang:
1. Memberi Perlakuan ‘Mendiamkan’ atau ‘Silent Treatment’ yang Tidak Konsisten
Perilaku ini tidak selalu berupa mengabaikan secara total, tetapi bisa berbentuk respons yang tidak konsisten.
Seseorang mungkin sesekali tidak merespons sapaan atau komentar tanpa alasan yang jelas. Hal ini membuat orang lain bingung apakah itu disengaja atau kebetulan.
Dalam lingkungan kerja, sikap ini dapat terlihat ketika seseorang tidak mengakui kehadiran atau kontribusi rekan tertentu.
Karena tidak terjadi secara terus-menerus, perilaku ini sulit dibuktikan namun tetap meninggalkan kesan negatif. Akibatnya, hubungan profesional menjadi canggung dan tidak nyaman.
2. Melontarkan Sindiran Halus yang Terselubung
Sindiran tidak selalu berbentuk ejekan langsung. Dalam banyak kasus, pujian dapat disisipkan dengan perbandingan yang merendahkan orang lain.
Misalnya, mengapresiasi hasil kerja seseorang tetapi sekaligus menyebut orang lain lebih unggul secara implisit.
Selain itu, komentar yang menyinggung latar belakang pendidikan atau pengalaman juga bisa menjadi bentuk sindiran halus.
Karena disampaikan secara tidak langsung, banyak orang baru menyadarinya setelah memikirkannya lebih dalam. Hal ini membuat korban merasa direndahkan tanpa adanya konflik terbuka.
3. Bersikap Murung atau Tidak Stabil Tanpa Penjelasan
Sikap murung yang ditunjukkan tanpa alasan jelas dapat memengaruhi suasana di sekitar. Seseorang yang bersikap dingin, jarang tersenyum, atau merespons secara negatif dapat menciptakan atmosfer tidak nyaman.
Di lingkungan kerja, hal ini bisa berdampak pada produktivitas tim karena komunikasi menjadi tidak cair.
Orang lain pun sering merasa harus berhati-hati dalam berbicara. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat merusak dinamika sosial secara perlahan.
4. Menunjukkan Sikap Keras Kepala Secara Terselubung
Keras kepala sebenarnya bisa menjadi sifat positif jika digunakan untuk mempertahankan prinsip. Namun dalam konteks pasif-agresif, sikap ini digunakan untuk menolak kerja sama secara tidak langsung.
Seseorang mungkin tampak memiliki alasan kuat, tetapi sebenarnya bertujuan menghambat atau mengganggu orang lain.
Mereka tidak menolak secara terbuka, namun tetap tidak mengubah sikapnya meski situasi membutuhkan fleksibilitas. Hal ini sering menimbulkan frustrasi dalam kerja tim.
5. Sering Tidak Menyelesaikan Tugas yang Diberikan
Kebiasaan menunda atau tidak menyelesaikan tugas dapat menjadi tanda pasif-agresif jika terjadi berulang tanpa alasan jelas.
Dalam konteks pekerjaan, hal ini dapat membebani orang lain yang harus menanggung tanggung jawab tambahan.
Meski bisa disebabkan oleh stres atau masalah pribadi, pola yang konsisten tanpa penjelasan sering kali menunjukkan sikap disengaja.
Akibatnya, kepercayaan dalam tim menjadi menurun. Jika dibiarkan, hal ini dapat mengganggu kinerja secara keseluruhan.
Perilaku pasif-agresif sering kali tidak terlihat secara langsung, tetapi dampaknya bisa sangat merusak hubungan interpersonal.
Mengenali tanda-tandanya sejak awal menjadi penting agar tidak terjadi kesalahpahaman berkepanjangan. Dalam banyak kasus, menjaga jarak profesional dan membatasi interaksi menjadi langkah paling aman untuk mengurangi dampak negatifnya.