← Beranda
Terungkap Usai Puluhan Tahun Terpendam! Kebiasaan Makan Malam yang Tampak Sepele Ternyata Berakar dari Luka Masa Kecil yang Tak Pernah Sembuh
Zulfa Putri HardiyatiRabu, 22 April 2026 | 17.48 WIB
Terungkap Setelah Puluhan Tahun Terpendam: Kebiasaan Makan Malam yang Tampak Sepele Ternyata Berakar dari Luka Masa Kecil yang Tak Pernah Sembuh (CANVA)

JawaPos.com - Banyak kebiasaan dalam hidup yang terlihat sederhana di permukaan, namun menyimpan cerita panjang yang tidak pernah benar-benar selesai. Salah satunya adalah kebiasaan makan di malam hari.

 Bagi sebagian orang, ini hanya rutinitas kecil atau sekadar keinginan sesaat. Namun bagi yang lain, kebiasaan ini bisa menjadi cerminan dari luka emosional yang tertanam sejak lama, bahkan sejak masa kanak-kanak.

Dalam kehidupan yang terus berjalan, tidak semua orang menyadari bahwa tubuh dan pikiran sering kali menyimpan “ingatan” dari pengalaman masa lalu. Rasa aman, kenyamanan, hingga ketakutan akan kekurangan dapat muncul dalam bentuk kebiasaan yang berulang tanpa disadari.

Menurut kisah yang bersumber dari YourTango.com, seorang wanita yang telah berusia 60 tahun akhirnya menemukan bahwa kebiasaan makan larut malam yang ia alami selama puluhan tahun ternyata bukan sekadar kebiasaan biasa, melainkan bagian dari respons emosional yang berakar dari trauma masa kecilnya.

1.      Dorongan Makan Malam yang Sulit Dikendalikan

Wanita ini merasakan dorongan makan di malam hari yang begitu kuat, seolah tidak bisa dilawan. Meski ia sudah mencoba berbagai cara seperti menahan diri atau memilih makanan sehat, keinginan itu tetap datang.

Bahkan ketika ia mencoba mengabaikannya, justru muncul kecemasan yang semakin besar hingga akhirnya ia menyerah dan makan, lalu merasa bersalah setelahnya.

2. Pencerahan yang Datang dari Kenangan Masa Kecil

Perubahan besar terjadi ketika ia mulai mengingat kembali masa kecilnya. Ia menyadari bahwa dulu ia sering tidur dalam keadaan lapar karena kurangnya perhatian terhadap kebutuhan makan.

Pengalaman ini secara tidak sadar tertanam dalam dirinya, menciptakan rasa takut akan kekurangan yang terbawa hingga dewasa.

3. Trauma Emosional yang Tidak Mudah Disembuhkan

Meskipun sudah memahami penyebabnya, ia tidak serta-merta bisa menghentikan kebiasaan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa luka emosional tidak bisa diselesaikan hanya dengan kesadaran. Trauma yang sudah mengakar membutuhkan waktu panjang untuk benar-benar diproses dan disembuhkan.

4. Rasa Malu yang Memperburuk Keadaan

Selama bertahun-tahun, ia menyembunyikan kebiasaannya karena merasa malu. Namun justru sikap tertutup ini memperkuat pola yang ada. Rasa malu membuatnya semakin tertekan, sehingga dorongan makan semakin sulit dikendalikan dan menciptakan lingkaran yang berulang.

5. Keberanian untuk Terbuka sebagai Titik Balik

Perubahan mulai terjadi ketika ia akhirnya berani bercerita kepada pasangannya. Dukungan dan empati yang ia terima membantu mengurangi beban emosional yang selama ini ia pendam sendiri. Dari sinilah proses penyembuhan mulai berjalan lebih nyata.

6. Proses Panjang untuk Mengambil Kembali Kendali Diri

Ia mulai belajar membedakan antara rasa lapar fisik dan dorongan emosional. Sedikit demi sedikit, ia melatih dirinya untuk tidak selalu menuruti keinginan tersebut. Meski membutuhkan waktu bertahun-tahun, ia akhirnya mulai merasakan perubahan dan mampu mengurangi kebiasaan makan malam secara signifikan.

Pada akhirnya, kisah ini menjadi pengingat bahwa banyak kebiasaan yang kita anggap sepele ternyata memiliki akar yang jauh lebih dalam.

 Perubahan tidak selalu datang dengan cepat, terutama jika berkaitan dengan luka emosional dari masa lalu. Namun dengan kesadaran, keberanian untuk terbuka, dan proses yang konsisten, setiap orang memiliki kesempatan untuk menemukan kembali kendali atas dirinya.

Kebebasan sejati bukan hanya tentang mampu melakukan sesuatu, tetapi juga tentang memiliki pilihan—untuk berhenti, untuk memahami diri sendiri, dan untuk tidak lagi dikendalikan oleh bayang-bayang masa lalu.

EDITOR: Hanny Suwindari