JawaPos.com - Ketahuilah, setiap orang layak mendapatkan kemanusiaan dari individu lain sepenuhnya, bukan perhatian yang terpecah-pecah setelah ponsel mengirimkan notifikasi.
Tentu, godaan melihat notifikasi akan muncul saat itu, tapi orang-orang dengan kualitas tertentu tidak akan meraih ponsel mereka. Ini adalah bentuk kesopanan dan rasa hormat yang jarang sekali ditemui saat ini.
Dilansir JawaPos.com dari geediting pada Rabu (15/4), orang yang mampu menahan diri untuk tidak melihat ponsel saat orang lain berbicara memiliki delapan kualitas diri berikut ini yang tidak dimiliki sembarang orang.
1. Orientasi Seluruhnya kepada Pembicara
Perhatikanlah orang yang benar-benar tidak melihat ponsel selama percakapan. Seluruh tubuhnya pasti mengarah ke arah pembicara. Bukan hanya kepala, namun juga bahu, dada, bahkan kaki mereka.
Penelitian dari para ahli saraf menunjukkan, keselarasan fisik ini memicu neuron cermin diantara orang yang saling berhadapan, sehingga tercipta koneksi emosional yang lebih dalam.
2. Pola Kontak Mata Alami
Psikolog menyebut orang yang tidak melihat atau memeriksa ponsel selama percakapan sebagai 'pola tatapan yang tepat'. Kontak mata yang baik bukan berarti menatap seseorang dengan intens, melainkan cukup hadir untuk membiarkan tatapan mengali secara alami.
Ini terjadi pada orang yang mengabaikan ponsel mereka saat orang lain berbicara. Mereka menatap orang yang sedang berbicara sekitar 60 - 70 persen dari waktu mereka mendengarkan.
Lalu, mereka memutus kontak mata secara alami untuk memproses informasi, bukan untuk melirik notifikasi.
3. Ekspresi Wajah yang Responsif
Wajah menjadi cermin hidup dari percakapan. Tersenyum pada bagian yang lucu, mengerutkan alis pada bagian yang membingungkan, bahkan terkejut yang tulus pada bagian yang pantas.
Ekspresi mikro seperti itu terjadi secara otomatis ketika seseorang sepenuhnya terlibat pada percakapan.
Sementara orang yang sering memeriksa ponsel saat percakapan berlangsung sering kali menunjukkan apa yang disebut 'wajah notifikasi', yakni ekspresi kosong, sedikit tegang yang tetap membeku, terlepas dari apa yang sedang dikatakan orang yang di hadapannya.
Mungkin mereka sesekali mengangguk, tapi wajah mereka menceritakan kisah yang berbeda.
4. Pengakuan Verbal yang Aktif
Orang yang tidak melihat ponsel saat orang lain berbicara memberikan umpan balik verbal yang kaya. Bukan hanya 'ya' atau 'mm-hmm', tapi respons aktual, seperti 'Itu pasti membuatmu frustasi' atau 'Apa yang terjadi selanjutnya?'.
Ini membuktikan bahwa orang tersebut sedang memroses, bukan sekadar mendengar. Orang tersebut sedang membangun model mental tentang pengalaman orang yang berbicara.
Studi mengungkapkan, jenis keterlibatan dari mendengarkan aktif seperti ini memperkuat hubungan lebih dari perilaku percakapan lainnya.
5. Ingatan akan Detail Percakapan
Perhatian penuh kesadaran secara dramatis meningkatkan daya ingat. Prinsip yang sama untuk percakapan. Orang yang mampu menahan diri untuk tidak melihat ponsel selama percakapan berlangsung akan meningkatkan detail spesifik beberapa minggu kemudian, seperti mereka akan membahas buku yang diceritakan.
Ini bukan tentang memiliki daya ingat yang superior, namun otak mereka secara alami mengkodekan informasi lebih dalam saat mereka sepenuhnya hadir dalam percakapan.
Percakapan telah menjadi bagian dari pengalaman hidup mereka, bukan sekadar kebisingan latar belakang.
6. Toleransi Keheningan yang Sabar
Percakapan yang berlangsung alami pasti memiliki jeda, karena seseorang butuh waktu untuk menemukan kata yang tepat atau emosi yang muncul membutuhkan waktu sejenak untuk diproses.
Sebagian orang menganggapnya buang-buang waktu, tapi orang yang tidak melihat ponsel saat percakapan merasa nyaman dengan keheningan ini.
Mereka tidak terburu-buru mengisinya atau menggunakannya sebagai kesempatan untuk memeriksa notifikasi. Keheningan tersebut menjadi bentuk persahabatan.
7. Kedalaman Pertanyaan dan Tindak Lanjut
Orang yang tidak memeriksa ponsel saat orang lain berbicara biasanya mengajukan pertanyaan lebih baik, karena mereka menggali lebih dalam, misalnya 'Bagaimana Kamu menanganinya?'.
Bahkan, mereka ingat untuk kembali ke topik yang belum selesai. Hal ini mustahil dipertahankan jika sebagian perhatian seseorang terfokus pada ponsel.
8. Kehadiran dan Kerentanan Emosional
Sinyal rasa hormat yang paling mendalam mungkin yang paling sulit diukur, yakni ketersediaan emosional. Ketika seseorang berbagi sesuatu yang sulit, orang yang tidak memeriksa ponsel saat orang lain berbicara turut merasakan ketidaknyamanan tersebut.
Mereka menawarkan sesuatu yang semakin langka, berupa pengalaman yang disaksikan. Mereka memvalidasi dengan kehadiran mereka.