JawaPos.com - Banyak orang merasa sudah berhemat ketika berbelanja. Diskon diburu, barang murah dipilih, dan promo dimanfaatkan semaksimal mungkin.
Namun, menurut psikologi perilaku konsumen, tidak semua keputusan yang “terlihat hemat” benar-benar menguntungkan. Justru, beberapa kebiasaan ini diam-diam membuat pengeluaran jadi lebih besar dalam jangka panjang.
Mengapa ini bisa terjadi? Karena otak manusia sering dipengaruhi oleh bias kognitif, emosi, dan ilusi penghematan.
Dilansir dari Expert Editor pada Kamis(9/4), terdapat tujuh kebiasaan belanja yang tampak bijak, tetapi sebenarnya bisa merugikan.
1. Terlalu Fokus pada Diskon Besar
Melihat label “Diskon 50%” seringkali langsung memicu dorongan membeli. Secara psikologis, ini dikenal sebagai anchoring effect, di mana harga awal dijadikan patokan sehingga harga diskon terasa sangat murah.
Masalahnya:
Kita membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan
Pengeluaran total tetap meningkat karena frekuensi belanja bertambah
Intinya: Hemat bukan berarti membeli lebih murah, tapi membeli hanya yang diperlukan.
2. Membeli dalam Jumlah Besar (Bulk Buying) Tanpa Perencanaan
Promo “beli 2 gratis 1” atau harga grosir sering terlihat menguntungkan. Namun, psikologi menunjukkan adanya loss aversion, yaitu rasa takut kehilangan kesempatan hemat.
Akibatnya:
Barang terbuang karena kedaluwarsa
Uang terikat pada barang yang tidak segera digunakan
Konsumsi justru meningkat karena stok berlebih
3. Memilih Barang Termurah Tanpa Memperhatikan Kualitas
Ini salah satu jebakan paling umum. Secara mental, kita merasa puas karena berhasil mengeluarkan uang lebih sedikit.
Namun dalam jangka panjang:
Barang cepat rusak → harus beli lagi
Biaya per penggunaan justru lebih mahal
Fenomena ini dikenal sebagai false economy, yaitu penghematan semu yang berujung pada biaya lebih besar.
4. Menggunakan Promo Gratis Ongkir untuk Membeli Lebih Banyak
Gratis ongkir sering membuat orang menambah barang ke keranjang agar mencapai minimum pembelian.
Secara psikologis:
Otak menganggap ongkir sebagai “kerugian” yang harus dihindari
Padahal, tambahan barang bisa jauh lebih mahal daripada ongkir itu sendiri
Akhirnya, kita membelanjakan lebih banyak demi “menghemat” sesuatu yang sebenarnya kecil.
5. Belanja Saat Emosi (Stress Buying)
Banyak orang merasa belanja adalah bentuk self-reward. Ini berkaitan dengan dopamine reward system dalam otak.
Masalahnya:
Keputusan jadi impulsif
Barang yang dibeli sering tidak benar-benar dibutuhkan
Rasa puas hanya sementara, tapi pengeluaran permanen
Dalam jangka panjang, ini bisa menjadi kebiasaan yang mahal.
6. Terjebak Program Loyalitas dan Poin
Program poin, cashback, dan membership sering membuat orang merasa sedang “mengumpulkan keuntungan”.
Namun:
Kita terdorong belanja lebih sering demi poin
Nilai poin seringkali kecil dibanding uang yang dikeluarkan
Ini disebut gamification effect, di mana belanja terasa seperti permainan, bukan keputusan finansial rasional.
7. Membeli Karena Takut Kehabisan (FOMO – Fear of Missing Out)
Kalimat seperti “stok terbatas” atau “flash sale hanya hari ini” memicu kecemasan kehilangan kesempatan.
Secara psikologis:
Otak lebih takut kehilangan daripada mendapatkan keuntungan
Keputusan jadi terburu-buru dan tidak rasional
Akibatnya:
Barang dibeli tanpa pertimbangan matang
Sering menyesal setelah membeli
Kesimpulan
Banyak kebiasaan yang terlihat hemat sebenarnya hanya “trik psikologis” yang memanfaatkan cara kerja otak manusia. Hemat yang sesungguhnya bukan soal harga murah, tetapi soal keputusan yang tepat dan sadar.
Prinsip sederhana yang bisa dipegang:
Tanyakan: “Apakah saya benar-benar butuh ini?”
Hitung nilai jangka panjang, bukan hanya harga sekarang
Hindari keputusan saat emosi atau terburu-buru
Dengan memahami psikologi di balik perilaku belanja, kita bisa membuat keputusan yang lebih bijak dan benar-benar menghemat dalam jangka panjang.