← Beranda
5 Dampak Buruk Overthinking Menurut Psikologi, Nomor 4 Sering Dialami Tanpa Kita Sadari
Aria Maulana SatriyoSelasa, 7 April 2026 | 20.21 WIB
Ilustrasi overthinking/freepik

JawaPos.com – Pernahkah kamu merasa capek sendiri karena terlalu banyak mikir hal-hal kecil sampai berlarut-larut? 

Kebiasaan ini dikenal dengan istilah overthinking, dan meski sering dianggap wajar, ternyata ada banyak dampak buruk overthinking yang jarang disadari.

Menurut psikologi, overthinking bukan sekadar “kebiasaan mikir terlalu banyak,” tapi sebuah pola pikir berulang yang bisa menguras energi mental, memicu stres, bahkan mengganggu kualitas hidup sehari-hari. 

Sayangnya, banyak orang tidak sadar bahwa overthinking diam-diam merusak ketenangan pikiran, emosi, hingga kesehatan fisik mereka.

Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 73% orang berusia 25–35 tahun mengalami overthinking secara kronis, dan kondisi ini terbukti berkaitan dengan meningkatnya tingkat kecemasan serta depresi menurut Amaha. 

Usia 25–35 dikenal sebagai masa produktif—di mana tuntutan karier, hubungan, dan masa depan sedang tinggi-tingginya—sehingga wajar jika kelompok usia ini lebih rentan terjebak dalam pola overthinking yang merugikan kesehatan mental.

Kalau selama ini kamu merasa sulit tidur karena kepikiran sesuatu, sering khawatir berlebihan, atau terus memutar ulang kejadian di kepala, mungkin kamu sedang mengalami salah satu efek dari overthinking. 

Mari kita bahas lebih dalam tentang 5 dampak buruk overthinking yang dilansir dari Houston Methodist dan Verywell Mind, supaya kamu lebih peka mengenali tanda-tandanya.

1. Sulit Fokus – Pikiran Terjebak pada Satu Hal Saja

Overthinking membuat otak Anda seperti kaset yang terus memutar hal yang sama. Akibatnya, sulit untuk memikirkan hal lain selain masalah tersebut. 

Kondisi ini tidak hanya mengganggu produktivitas, tetapi juga membuat Anda kehilangan kesempatan untuk melihat solusi dari sudut pandang yang lebih luas.

2. Tidak Bisa Santai – Tubuh dan Pikiran Selalu Tegang

Banyak orang mengira hanya pikiran yang sibuk saat overthinking, padahal tubuh juga ikut terpengaruh. Anda menjadi sulit bersantai, bahkan ketika sedang beristirahat. 

Otot terasa kaku, jantung berdebar, hingga sulit tidur karena pikiran enggan berhenti bekerja.

3. Cemas yang Berkepanjangan – Selalu Merasa Ada yang Salah

Overthinking erat kaitannya dengan kecemasan. Pikiran yang terus berputar memunculkan rasa khawatir berlebihan, seolah-olah selalu ada ancaman atau masalah besar di depan mata. 

Jika dibiarkan, kecemasan ini bisa berkembang menjadi gangguan kecemasan (anxiety disorder).

4. Kelelahan Mental – Energi Terkuras Hanya untuk Memikirkan

Berpikir berlebihan tanpa henti membuat otak cepat lelah. Anda mungkin merasa tidak melakukan banyak hal secara fisik, tetapi tetap kehabisan energi. 

Kelelahan mental ini bisa membuat suasana hati mudah turun, sulit konsentrasi, dan menurunkan motivasi dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

5. Pikiran Negatif yang Menumpuk – Sulit Melihat Hal Positif

Semakin sering Anda overthinking, semakin mudah pikiran negatif menguasai diri. Hal kecil bisa terasa besar, dan kesalahan kecil tampak seperti kegagalan besar. 

Dalam jangka panjang, pola pikir ini dapat merusak rasa percaya diri, bahkan memicu depresi jika tidak segera diatasi.

Catatan Penting! Overthinking Bukan Gangguan Mental, tetapi Bisa Memicunya

Perlu dipahami bahwa overthinking sendiri bukanlah gangguan mental. Walaupun sering kali membuat seseorang merasa cemas, overthinking tidak sama dengan kecemasan klinis. 

Namun, kebiasaan ini bisa berperan dalam memicu atau mempertahankan berbagai masalah kesehatan mental.

Beberapa gangguan yang kerap dikaitkan dengan overthinking antara lain:

  • Depresi

  • Generalized Anxiety Disorder (GAD)

  • Obsessive-Compulsive Disorder (OCD)

  • Panic Disorder

  • Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD)

  • Social Anxiety Disorder (SAD)

Artinya, semakin lama seseorang terjebak dalam pola pikir yang berlebihan, semakin besar pula risikonya untuk mengembangkan gangguan psikologis yang lebih serius.

Strategi Mengatasi Overthinking Menurut Psikologi

Overthinking memang bisa membuat pikiran terasa penuh dan melelahkan. 

Namun, kabar baiknya adalah ada beberapa strategi praktis yang dapat membantu Anda mengurangi kebiasaan ini. 

Berikut adalah beberapa langkah yang direkomendasikan psikolog untuk melawan overthinking:

1. Jangan Habiskan Energi untuk Hal-Hal Kecil

Setiap hari kita membuat ribuan keputusan, tetapi tidak semuanya penting. Jika Anda terus-menerus memikirkan detail kecil, otak akan cepat lelah. 

Cobalah fokus pada keputusan yang benar-benar berpengaruh terhadap hidup Anda, dan lepaskan hal-hal yang tidak memiliki dampak besar. 

Dengan begitu, energi mental dapat digunakan lebih efektif.

2. Gabungkan Analisis Logis dengan Intuisi

Overthinking sering muncul ketika kita dihadapkan pada keputusan besar. Anda boleh saja menganalisis, mencari informasi, dan mempertimbangkan segala kemungkinan. 

Namun, jangan lupakan intuisi. Penelitian menunjukkan bahwa keputusan yang diambil dengan memadukan logika dan perasaan sering kali lebih tepat dibanding hanya mengandalkan analisis berlebihan.

3. Tetapkan Batas Waktu dalam Membuat Keputusan

Semakin lama Anda menunda, semakin besar peluang terjebak dalam lingkaran overthinking.

Untuk mengatasinya, buatlah batas waktu yang jelas kapan keputusan harus diambil. 

Pada keputusan besar, beri jeda dengan beristirahat sejenak agar pikiran lebih jernih, tetapi jangan biarkan prosesnya berlarut-larut.

4. Kendalikan yang Bisa Dikendalikan, Lepaskan yang Tidak Bisa

Sering kali overthinking terjadi karena kita memikirkan hal-hal di luar kendali.

Saat menyadari diri sedang “terjebak di kepala sendiri”, tanyakan: apakah pikiran ini bisa diubah menjadi solusi konkret? 

Jika jawabannya tidak, artinya Anda sedang memikirkan sesuatu yang memang tidak bisa dikendalikan. 

Belajarlah menerima hal-hal tersebut, dan arahkan energi pada aspek hidup yang masih bisa diperbaiki.

5. Gunakan Aktivitas Relaksasi untuk Menenangkan Pikiran

Jika Anda termasuk pribadi yang mudah cemas, penting untuk menemukan cara meredam reaktivitas tersebut. 

Aktivitas seperti meditasi, yoga, atau teknik pernapasan sederhana dapat membantu tubuh dan pikiran lebih rileks. 

Dengan begitu, ketika overthinking muncul, Anda memiliki “rem” yang dapat menahan agar pikiran tidak terus berputar tanpa henti.

Akhir Kata

Overthinking mungkin terlihat sepele, tetapi dampaknya terhadap kesehatan mental tidak bisa diabaikan. 

Jika dibiarkan, kebiasaan ini dapat membuat hidup terasa penuh tekanan, melelahkan, dan bahkan memicu berbagai gangguan psikologis. 

Karena itu, cobalah untuk mulai menerapkan strategi sederhana seperti membatasi pikiran pada hal-hal penting, mengandalkan intuisi, menetapkan batas waktu, hingga melatih relaksasi.

Namun, jika Anda merasa overthinking sudah terlalu parah—misalnya sulit berhenti memikirkan sesuatu, mengalami gangguan tidur, atau merasa hidup tidak lagi terkendali—maka langkah terbaik adalah mencari bantuan profesional. 

Psikiater atau psikolog dapat membantu Anda dengan terapi yang terbukti efektif, salah satunya Cognitive Behavioral Therapy (CBT).

Melalui CBT, Anda akan belajar mengenali pola pikir negatif yang memicu overthinking, lalu menggantinya dengan cara berpikir yang lebih sehat dan konstruktif. 

Dengan dukungan profesional, kebiasaan overthinking bukan lagi beban, tetapi tantangan yang bisa diatasi menuju hidup yang lebih tenang dan seimbang. 

EDITOR: Hanny Suwindari