JawaPos.com — Overthinking adalah kondisi ketika pikiran terus berputar tanpa henti, membuat kita membayangkan skenario terburuk atau menyesali masa lalu berulang kali.
Kondisi ini tidak hanya menimbulkan rasa cemas, tetapi juga bisa berdampak pada kesehatan mental.
Dilansir dari Verywell Mind pada November 2023, Salah satu hal yang membuat overthinking semakin melelahkan adalah adanya pola pikir destruktif.
Pola pikir ini sering kali membuat seseorang sulit berpikir jernih dan terjebak dalam lingkaran kekhawatiran yang tidak ada ujungnya.
Penasaran apa saja bentuk pola pikir yang destruktif? Berikut beberapa jenis pola pikir destruktif yang umum terjadi saat overthinking, serta cara mengenalinya.
Baca Juga: Jepang Gunakan Jalur Komunikasi Langsung ke Iran soal Selat Hormuz
1. Catastrophizing
Overthinking sering terjadi dan terpikirkan di dalam kepala. Saat pikiran-pikiran ini berputar di dalam kepala, otak kita tidak bisa memikirkan masalah secara rasional.
Catastrophizing – sama seperti judulnya – membuat suatu masalah seperti halnya akhir dari segalanya.
Ketika kepala tidak bisa memikirkan masalah dengan rasional, masalah terlihat lebih besar dari seharusnya.
Hal ini membuat seseorang kesulitan dalam mencari solusi dari masalah yang dipikirkan.
Jika tidak cepat ditanggapi, pola pikir ini akan menjadi awal dari gejala gangguan mental seperti gangguan kecemasan (anxiety) dan insomnia.
Baca Juga: Kesaksian Ketua RT Soal Ledakan Mirip Bom di Waru Sidoarjo, 3 Pekerja Luka Berat
2. All or Nothing
Pola pikir all or nothing, mengkategorisasikan semua skenario, interaksi dan masalah dalam hitam dan putih, benar dan salah.
Pemikiran seperti “jika saya bukan karyawan terbaik bulan ini maka saya bukanlah karyawan yang baik” adalah salah satu contoh dari pemikiran all or nothing.
Pola pikir ini membuat seseorang semakin rentan terhadap overthinking. Padahal hampir semua hal jatuh di area abu-abu dengan alasan dan faktor yang mendukung di baliknya.
3. Overgeneralizing
Pernah mengalami suatu kejadian buruk lalu merasa hal serupa akan selalu terjadi? Itulah overgeneralizing.
Pola pikir ini muncul ketika seseorang menarik kesimpulan luas hanya dari satu pengalaman negatif, lalu menerapkannya ke situasi lain yang tidak berhubungan.
Misalnya, sekali gagal dalam sesuatu kesempatan, seseorang dengan pola pikir overgeneralizing akan merasa akan selalu gagal di setiap kesempatan yang datang pada mereka.
Hal ini tidak sepenuhnya salah kita. Otak secara otomatis membentuk pola pikir ini sebagai mekanisme pertahanan dengan tujuan melindungi kita dari bahaya.
Namun hal ini justru menimbulkan ketakutan berlebih dan membuat kita lebih rentan terhadap overthinking.
4. Discounting the Positive
Mirip dengan catastrophizing, pola pikir ini membuat seseorang terlalu fokus pada masalah hingga menyingkirkan hal-hal positif yang sebenarnya ada.
Akibatnya, setiap pencapaian atau pengalaman baik terasa tidak berarti. Inilah yang membuat overthinking terasa semakin berat dan sulit diatasi.
Akhir Kata
Dilansir dari Verywell Mind, salah satu teknik yang dapat membantu menjauhkan pikiran negatif adalah cognitive reframing
Mungkin terdengar rumit tetapi simpelnya, cognitive reframing bertujuan supaya Anda dapat melihat sebuah kejadian dengan perspektif yang lebih positif.
Dengan mengetahui bentuk bentuk dari pola pikir yang buruk, Anda dapat menjauhi kritik negatif terhadap diri Anda sendiri.
Jika Anda merasa merasa bahwa pikiran negatif Anda terlalu sulit untuk dihadapi sendirian, mencari bantuan dari psikolog profesional sangat disarankan.