← Beranda
8 Tanda Seseorang Berpura-Pura Memiliki Lebih Banyak Uang daripada yang Sebenarnya Menurut Psikologi
Irfan Ferdiansyah• Rabu, 1 April 2026 | 00.06 WIB
seseorang yang berpura-pura memiliki banyak uang. (Freepik/stockking)

JawaPos.com - Dalam kehidupan sosial, status ekonomi sering kali menjadi simbol keberhasilan. Tidak sedikit orang yang merasa perlu terlihat “lebih mampu” daripada kondisi sebenarnya demi mendapatkan pengakuan, rasa hormat, atau bahkan sekadar penerimaan dari lingkungan. Fenomena ini dalam psikologi sering dikaitkan dengan kebutuhan validasi eksternal dan citra diri.

Namun, bagaimana kita bisa mengenali seseorang yang mungkin berpura-pura memiliki lebih banyak uang? Dilansir dari Expert Editor pada Selasa (31/3), terdapat delapan tanda yang sering muncul menurut sudut pandang psikologi.

1. Terlalu Fokus pada Penampilan Luar

Salah satu tanda paling umum adalah perhatian berlebihan terhadap penampilan fisik dan barang yang terlihat. Mereka cenderung menggunakan pakaian bermerek, gadget terbaru, atau aksesori mahal—bahkan jika itu di luar kemampuan finansialnya.

Dalam psikologi, ini berkaitan dengan impression management, yaitu usaha seseorang mengontrol bagaimana orang lain melihat dirinya. Penampilan dijadikan alat untuk membangun citra “sukses”.

2. Sering Membicarakan Uang atau Kesuksesan

Orang yang benar-benar mapan secara finansial biasanya tidak perlu terus-menerus membicarakan kekayaannya. Sebaliknya, seseorang yang berpura-pura justru sering menyelipkan topik uang, bisnis, atau pencapaian dalam percakapan.

Hal ini bisa menjadi bentuk kompensasi psikologis untuk menutupi rasa tidak aman (insecurity) terkait kondisi keuangannya.

3. Gaya Hidup Tidak Seimbang dengan Realitas

Mereka mungkin sering makan di tempat mahal, liburan mewah, atau membeli barang mahal—namun di sisi lain terlihat kesulitan dalam hal-hal dasar seperti membayar tagihan tepat waktu.

Psikologi menyebut ini sebagai cognitive dissonance, yaitu ketidaksesuaian antara realitas dan citra yang ingin ditampilkan. Untuk menjaga citra, mereka rela mengorbankan kestabilan finansial.

4. Mengandalkan Utang untuk Gaya Hidup

Banyak orang yang terlihat “kaya” sebenarnya hidup dari utang—baik kartu kredit, pinjaman online, atau cicilan berlebihan. Mereka menggunakan uang yang belum dimiliki untuk menciptakan ilusi kemapanan.

Ini sering dipicu oleh tekanan sosial dan keinginan untuk tidak tertinggal dari lingkungan sekitar (social comparison theory).

5. Sangat Sensitif terhadap Persepsi Orang Lain

Mereka cenderung sangat peduli dengan bagaimana orang lain melihat mereka. Kritik kecil tentang gaya hidup atau status bisa memicu reaksi defensif.

Dalam psikologi, ini menunjukkan harga diri yang rapuh (fragile self-esteem), di mana identitas diri sangat bergantung pada pengakuan eksternal.

6. Sering Membesar-besarkan Cerita

Cerita tentang pekerjaan, penghasilan, atau pengalaman sering dilebih-lebihkan. Mereka mungkin mengklaim memiliki koneksi penting atau proyek besar yang sebenarnya tidak signifikan.

Ini merupakan bentuk self-enhancement bias, yaitu kecenderungan untuk menggambarkan diri secara lebih positif dari kenyataan.

7. Tidak Transparan soal Kondisi Finansial

Ketika ditanya secara lebih spesifik tentang pekerjaan atau kondisi keuangan, mereka cenderung menghindar, memberikan jawaban samar, atau mengalihkan topik.

Hal ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara citra yang ditampilkan dan kenyataan yang ingin disembunyikan.

8. Mengejar Validasi melalui Media Sosial

Media sosial menjadi “panggung utama” bagi mereka untuk menunjukkan gaya hidup mewah—foto liburan, barang mahal, atau tempat eksklusif.

Dalam psikologi modern, ini berkaitan dengan digital self-presentation, di mana seseorang membangun identitas ideal di dunia online untuk mendapatkan pengakuan dan validasi.

Kesimpulan

Berpura-pura memiliki lebih banyak uang daripada yang sebenarnya sering kali bukan sekadar soal gaya hidup, tetapi berakar pada kebutuhan psikologis seperti rasa tidak aman, keinginan diterima, dan tekanan sosial.

Memahami tanda-tanda ini bukan untuk menghakimi, melainkan untuk lebih bijak dalam melihat orang lain—dan juga diri sendiri. Pada akhirnya, kestabilan finansial yang sehat jauh lebih penting daripada citra semu yang hanya bertahan di permukaan.

***

 

EDITOR: Novia Tri Astuti