← Beranda
Bukan Egois! Studi Ungkap Sifat Langka Orang yang Memilih Hidup Tanpa Anak 'Childfree'
Ryandi ZahdomoSelasa, 31 Maret 2026 | 20.54 WIB
Ilustrasi- Pasangan yang bahagia dengan hidup child free

 

JawaPos.com - Selama puluhan tahun, stereotip "egois" sering kali disematkan kepada orang dewasa yang memutuskan untuk tidak memiliki anak (childfree). Namun, sebuah studi terbaru justru mematahkan anggapan negatif tersebut dengan temuan yang mengejutkan mengenai kepribadian mereka.

Penelitian mengungkapkan bahwa individu yang memilih untuk tidak memiliki anak biasanya memiliki sifat langka yang membuat hidup mereka jauh lebih berwarna. Sifat ini bukan tentang mementingkan diri sendiri, melainkan tentang kapasitas mental yang luas untuk menyerap pengalaman hidup dari berbagai sudut pandang.

Bagi Anda yang merasa lebih nyaman hidup tanpa membesarkan anak, tidak perlu lagi merasa harus bersembunyi di balik tekanan sosial. Ternyata, kecintaan alami Anda dalam mencoba hal-hal baru adalah aset berharga yang diakui secara ilmiah sebagai faktor pendukung hidup yang berkualitas.

Dilansir dari YourTango, keterbukaan terhadap pengalaman adalah kunci utama yang membedakan kelompok ini dengan mereka yang sudah berkeluarga. Berikut adalah ulasan mendalam mengenai mengapa pilihan hidup ini justru bisa membuat seseorang menjadi individu yang lebih unik dan menarik.

1. Keterbukaan Terhadap Pengalaman: Sifat Langka yang Memukau

Penelitian menemukan bahwa mayoritas orang yang memilih tidak memiliki anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat kuat. Mereka bukan orang yang egois, melainkan individu yang haus akan penjelajahan, baik secara fisik melalui perjalanan ke tempat baru maupun secara intelektual melalui ide-ide segar.

Baca Juga: Wanita Tanpa Anak Paling Sulit Sukses di Kantor? Pakar Ungkap Fakta Pahit di Baliknya

Jeffrey Davis, MA., seorang peneliti dan profesor, memberikan penjelasan mendalam mengenai hal ini. Menurutnya, sifat ini mencakup minat yang terukur terhadap seni, keindahan, serta perhatian tinggi terhadap sensasi dan perasaan pribadi.

"Dalam bidang psikologi, keterbukaan terhadap pengalaman mengacu pada minat individu kita yang terukur terhadap seni dan keindahan, perhatian kita terhadap sensasi dan perasaan kita, rasa ingin tahu intelektual kita, preferensi kita terhadap keragaman, dan imajinasi aktif kita. Sederhananya, ini adalah dorongan untuk mengeksplorasi aspek-aspek baru dari pengalaman manusia dan kemauan untuk mempertimbangkan perspektif yang berbeda dari perspektif kita sendiri," jelas Davis.

Dorongan untuk mengeksplorasi ini membuat mereka menjadi pribadi yang sangat adaptif. Mereka lebih berani mengambil risiko untuk mencoba gaya hidup yang tidak konvensional demi mendapatkan pemahaman yang lebih kaya tentang dunia dan seisinya.

2. Memandang Dunia dengan Cara yang Berbeda

Para peneliti di Universitas Melbourne, Australia, menemukan fakta unik bahwa orang yang terbuka terhadap pengalaman memiliki persepsi visual dasar yang berbeda. Mereka cenderung lebih kreatif dan lebih lihai dalam memproses informasi, baik yang bersifat abstrak maupun konkret.

Ketajaman persepsi ini membuat mereka lebih menghargai estetika dan keindahan di sekitar mereka. Imajinasi mereka yang aktif memungkinkan mereka untuk menciptakan solusi inovatif dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari karier hingga hubungan sosial.

Kecenderungan untuk mengejar hal-hal yang tidak dikenal menjadikan hidup mereka seperti petualangan tanpa henti. Mereka tidak hanya terjebak pada rutinitas, tetapi selalu mencari cara untuk memperluas cakrawala berpikir dan merasakan koneksi yang lebih dalam dengan realitas.

Keterbukaan ini juga mencerminkan sikap toleransi yang tinggi terhadap perbedaan. Orang-orang dengan sifat ini biasanya lebih mampu menghargai keberagaman budaya dan pendapat, karena mereka memang didorong oleh keinginan alami untuk memahami spektrum luas pengalaman manusia.

3. Perbedaan Realitas Antara Orang Tua dan Kelompok Childfree

Lantas, apakah ini berarti orang yang memiliki anak memiliki pikiran yang sempit? Tentu tidak. Namun, para peneliti mencatat bahwa fokus orang tua secara alami akan menyempit demi kesejahteraan buah hati mereka. Hal ini adalah tuntutan biologis dan sosial yang tak terelakkan.

Baca Juga: Tutup Layanan Siaga Idul Fitri, Jasa Raharja Catat Salurkan Santunan Senilai Rp 38,06 Miliar

Dunia orang tua harus berputar di sekitar detail-detail kecil seperti mengajar anak mengikat tali sepatu atau memastikan mereka makan sayur. Fokus intens ini membuat energi untuk mengeksplorasi dunia luar secara bebas menjadi berkurang secara signifikan.

Sebaliknya, mereka yang tidak memiliki anak memiliki realitas yang jauh berbeda. Tanpa tanggung jawab pengasuhan, mereka memiliki keleluasaan waktu dan mental untuk memproses informasi global dan mengejar minat personal tanpa hambatan domestik yang besar.

Perbedaan fokus ini menciptakan dua cara pandang hidup yang berbeda. Jika orang tua menemukan kebahagiaan dalam tumbuh kembang anak, kelompok tanpa anak menemukan kepuasan dalam keluasan pengalaman dan kemampuan untuk terus belajar hal-hal baru tanpa batas waktu.

4. Kepuasan Hidup: Bukan Soal Ada Tidaknya Anak

Sebuah studi tahun 2021 menegaskan bahwa tidak ada perbedaan signifikan dalam tingkat kepuasan hidup antara orang tua dan mereka yang memilih tidak memiliki anak. Kepuasan hidup sepenuhnya bergantung pada apakah seseorang berhasil mewujudkan keinginan pribadinya atau tidak.

Meskipun kualitas hidup secara umum setara, ada satu perbedaan kepribadian yang mencolok. Memiliki anak terbukti mengakibatkan tingkat keterbukaan terhadap pengalaman yang lebih rendah karena adanya keterikatan pada rutinitas keluarga yang stabil dan aman.

Dr. Rachel Chrastil, seorang ahli sejarah perempuan tanpa anak, memberikan perspektif menarik mengenai pencapaian kebahagiaan. Menurutnya, kemampuan untuk menentukan jalannya sendiri tanpa intervensi pengasuhan sering kali memberikan rasa agensi yang lebih tinggi bagi individu tersebut.

"Kepuasan hidup, dan kemampuan untuk mewujudkan keinginan seseorang dalam hidupnya, lebih tinggi bagi orang-orang yang tidak pernah memiliki anak," ungkap Dr. Chrastil. Pada akhirnya, kepuasan hidup adalah tentang kecocokan antara pilihan yang diambil dengan nilai-nilai yang diyakini oleh setiap individu.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan