← Beranda
Orang yang Tumbuh Besar dengan Orang Tua Generasi Boomer Biasanya Langsung Mengenali 7 Perilaku Ini Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahKamis, 26 Maret 2026 | 16.04 WIB
seseorang yang tidak terlalu ekspresif. (Freepik/syda_productions)

 

JawaPos.com - Hubungan antara orang tua dan anak selalu dipengaruhi oleh konteks zaman. Orang tua dari generasi yang berbeda memiliki cara berpikir, nilai, dan gaya pengasuhan yang berbeda pula. Salah satu generasi yang sering menjadi sorotan dalam diskusi tentang pola asuh adalah generasi baby boomer—generasi yang lahir setelah Perang Dunia II dan tumbuh dalam masa pembangunan ekonomi yang pesat serta nilai sosial yang relatif konservatif.

Banyak orang yang dibesarkan oleh orang tua generasi boomer sering mengatakan bahwa mereka bisa langsung mengenali pola-pola perilaku tertentu dalam keluarga mereka. Hal ini bukan sekadar stereotip. Dalam kajian psikologi perkembangan dan psikologi keluarga, pola asuh memang sering dipengaruhi oleh kondisi sosial, budaya, dan pengalaman hidup suatu generasi.

Dilansir dari Expert Editor, terdapat tujuh perilaku yang sering dikenali oleh orang yang tumbuh besar dengan orang tua generasi boomer, berdasarkan perspektif psikologi.

1. Menghargai Kerja Keras sebagai Nilai Utama

Generasi boomer tumbuh pada masa ketika stabilitas ekonomi harus diperjuangkan dengan kerja keras. Banyak dari mereka dibesarkan dengan keyakinan bahwa kesuksesan datang dari disiplin, ketekunan, dan pengorbanan.

Akibatnya, anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua boomer sering mendengar kalimat seperti:

“Kerja dulu yang keras.”

“Jangan manja.”

“Hidup itu harus diperjuangkan.”

Dalam psikologi, nilai ini berkaitan dengan work ethic yang kuat. Nilai tersebut bisa membentuk anak menjadi pribadi yang tangguh dan bertanggung jawab. Namun, di sisi lain, sebagian anak juga tumbuh dengan tekanan untuk selalu produktif dan merasa bersalah ketika beristirahat.

2. Tidak Terlalu Ekspresif Secara Emosional

Banyak orang tua dari generasi boomer dibesarkan dalam budaya yang tidak terlalu mendorong ekspresi emosi secara terbuka. Ungkapan kasih sayang sering kali tidak disampaikan melalui kata-kata, melainkan melalui tindakan.

Misalnya:

Membelikan kebutuhan anak

Bekerja keras demi keluarga

Mengutamakan pendidikan anak

Dalam psikologi keluarga, ini disebut sebagai love through responsibility—kasih sayang yang ditunjukkan melalui tanggung jawab. Anak-anak yang tumbuh dalam pola ini sering memahami bahwa cinta tidak selalu harus diucapkan, tetapi juga bisa diwujudkan melalui tindakan nyata.

3. Mengutamakan Stabilitas dan Keamanan

Bagi banyak orang tua boomer, stabilitas adalah tujuan hidup yang sangat penting. Mereka cenderung mendorong anak-anak untuk memilih jalur yang dianggap aman, seperti:

pekerjaan tetap

pendidikan formal yang jelas

karier yang stabil

Dari sudut pandang psikologi, hal ini muncul dari pengalaman hidup generasi tersebut yang pernah menghadapi ketidakpastian ekonomi. Karena itu, mereka sering memprioritaskan keamanan jangka panjang dibandingkan eksplorasi atau risiko.

4. Pendekatan Disiplin yang Tegas

Banyak orang yang tumbuh dengan orang tua boomer mengenali gaya disiplin yang relatif tegas. Dalam beberapa keluarga, aturan dibuat jelas dan harus dipatuhi tanpa banyak perdebatan.

Contoh yang sering muncul:

jadwal belajar yang ketat

aturan rumah yang tidak bisa ditawar

hukuman ketika aturan dilanggar

Dalam teori psikologi pengasuhan, gaya ini sering dikaitkan dengan authoritarian parenting atau kadang authoritative parenting, tergantung bagaimana aturan tersebut dijelaskan dan diterapkan.

Pendekatan ini bisa membentuk kedisiplinan yang kuat, tetapi juga bisa membuat anak merasa kurang dilibatkan dalam pengambilan keputusan.

5. Percaya Bahwa Pengorbanan Orang Tua adalah Bukti Cinta

Orang tua generasi boomer sering menekankan pentingnya pengorbanan dalam keluarga. Banyak anak yang tumbuh dengan narasi seperti:

“Orang tua sudah berkorban banyak untukmu.”

“Semua ini demi masa depanmu.”

Dalam psikologi sosial, hal ini berkaitan dengan nilai kolektivisme keluarga. Anak didorong untuk menghargai perjuangan orang tua dan merasa memiliki tanggung jawab moral untuk membalasnya.

Hal ini bisa menciptakan hubungan keluarga yang kuat, tetapi juga kadang membuat sebagian anak merasa terbebani oleh ekspektasi yang tinggi.

6. Komunikasi yang Lebih Hierarkis

Dalam banyak keluarga boomer, struktur keluarga cenderung lebih hierarkis. Orang tua berada di posisi otoritas utama, sementara anak diharapkan menghormati dan mengikuti arahan mereka.

Kalimat seperti:

“Orang tua lebih tahu.”

“Dengar dulu kata orang tua.”

sering menjadi bagian dari dinamika komunikasi.

Dari perspektif psikologi keluarga, pola ini mencerminkan budaya yang menekankan otoritas orang tua dan penghormatan terhadap senioritas.

7. Bangga pada Ketahanan dan Kemandirian Anak

Meski kadang terlihat keras, banyak orang tua boomer sebenarnya memiliki tujuan yang sama: membesarkan anak yang kuat dan mandiri.

Mereka sering merasa bangga ketika anak:

mampu mengatasi masalah sendiri

tidak mudah menyerah

bertanggung jawab atas hidupnya

Dalam psikologi perkembangan, hal ini berkaitan dengan pembentukan resilience—kemampuan untuk bangkit dari kesulitan.

Banyak orang dewasa yang dibesarkan oleh orang tua boomer akhirnya menyadari bahwa ketahanan mental mereka terbentuk dari pengalaman hidup dan nilai-nilai yang diajarkan sejak kecil.

Penutup

Setiap generasi memiliki cara sendiri dalam memandang dunia, termasuk dalam mengasuh anak. Orang tua generasi boomer dibentuk oleh pengalaman hidup yang berbeda dari generasi sekarang, sehingga gaya pengasuhan mereka pun mencerminkan nilai-nilai zaman tersebut.

Bagi banyak orang, tumbuh besar dengan orang tua boomer berarti belajar tentang kerja keras, tanggung jawab, dan ketahanan. Meskipun beberapa pendekatan mungkin terasa berbeda dengan pola pengasuhan modern, banyak nilai yang tetap relevan hingga hari ini.

Memahami latar belakang generasi orang tua tidak hanya membantu kita melihat masa lalu dengan lebih jernih, tetapi juga membangun hubungan keluarga yang lebih saling memahami di masa kini.***

EDITOR: Novia Tri Astuti