← Beranda
8 Kebiasaan Orang Tua yang Bikin Anak Sensitif dan Emosional Menurut Psikologi, Apa Saja?
Setyo Adi Nugroho• Selasa, 24 Maret 2026 | 21.02 WIB
Ilustrasi hubungan anak dan orang tua. (Freepik)

JawaPos.com - Membesarkan anak adalah tugas yang penuh tantangan. Menurut psikologi, beberapa gaya pengasuhan dapat menyebabkan anak-anak menjadi terlalu sensitif dan emosional. 

Memahami perilaku anak adalah hal yang penting dalam pengasuhan tumbuh kembang mereka. 

Untuk itu, sebagai orang tua, cobalah untuk melihat kembali kebiasaan di rumah yang biasa diperhatikan oleh anak. 

Sebab, melansir dari Blog Herald, ada delapan kebiasaan orang tua yang mampu membuat anak menjadi sensitif dan emosional.

Baca Juga: 6 Kebiasaan Ini Dilakukan oleh Orang yang Selalu Kirim Pesan Dulu Sebelum Menelepon Menurut Psikologi, Apa Saja?

Apa saja itu? Simak penjelasan lengkap tentang kebiasaan tersebut di bawah ini!

  1. Penularan emosi

Anak-anak mudah meniru emosi orang tuanya. Ketika orang tua sering cemas, marah, atau sedih, anak juga akan mengikuti.

Untuk itu, penting bagi orang tua menjaga emosinya agar tidak menular kepada anak. Terlebih jika itu emosi amarah dan karakter sensitif. 

  1. Tidak ada batasan emosional

Orang tua perlu memberi batasan emosi pada anak. Jangan terlalu larut dalam emosi anak, tetapi tetap memberikan empati. 

Hal ini dilakukan agar anak mampu mengatur emosinya dengan baik. Seperti penjelasan psikolog John Bowlby, “Bagi anak, seolah-olah perasaannya ditangkap dengan lembut dan disampaikan kembali kepadanya.”

  1. Terlalu melindungi

Orang yang terlalu melindungi akan membuat anak tidak memiliki kesempatan untuk belajar menghadapi kesulitan. 

Akhirnya, anak akan mudah sensitif dan tidak memiliki ketahanan. Penting untuk menemukan keseimbangan yang tepat dalam melindungi anak, tanpa menghambat perkembangan emosional mereka. 

  1. Pengasuhan yang tak konsisten

Anak sangat membutuhkan konsistensi dari orang tua. Ketika orang tua sering berubah-ubah, anak akan menjadi bingung dan emosinya tidak stabil.

Albert Bandura, seorang psikolog terkenal, pernah berkata, “Anak-anak lebih banyak belajar dari apa adanya Anda, daripada apa yang Anda ajarkan.”

  1. Terlalu banyak pujian

Pujian berlebihan akan membuat anak terus mencari validasi. Mereka akan mudah emosional ketika tidak mendapatkan pujian. 

Untuk itu, ajari anak untuk menerima kegagalan. Psikolog Erik Erikson mengingatkan bahwa penting untuk memberikan pujian bermakna dan seimbang. 

  1. Mengabaikan perasaan anak

Jangan pernah bilang perasaan anak bukan masalah besar. Ini hanya akan membuat anak merasa tidak didengar sama sekali. 

Maka dari itu, bantu anak untuk memahami dan mengungkapkan emosinya dengan sehat. Daniel Goleman, seorang psikolog, menekankan pentingnya mengakui dan mengelola emosi. 

  1. Pendidikan emosi yang diabaikan

Pendidikan emosi sama pentingnya dengan akademik. Orang tua perlu mengajari anak untuk mengatur emosi mereka agar mereka bisa tumbuh menjadi pribadi yang tangguh. 

Abraham Maslow menjelaskan, “Seseorang dapat memilih untuk kembali ke arah keamanan atau maju ke arah pertumbuhan.”

  1. Menghindari obrolan sulit 

Obrolan soal kehilangan, kekecewaan, atau kegagalan itu penting untuk membangun ketahanan emosi anak. 

Upayakan untuk mengajak anak membicarakan masalahnya meski itu sulit dan berat. 

Ingat, menjadi orang tua adalah proses belajar yang terus berjalan. Jangan takut melakukan kesalahan, sebab ini adalah perjalanan untuk tumbuh bersama anak. 

EDITOR: Setyo Adi Nugroho