← Beranda
Menurut Ahli, Pria yang Tidak Punya Sahabat Dekat dalam Hidupnya Biasanya Memiliki 9 Kebiasaan Ini
Mellyna Putri DiniarKamis, 5 Maret 2026 | 19.55 WIB
Ilustrasi pria yang mengalami kesepian sosial di tengah minimnya hubungan pertemanan dekat dalam kehidupannya. (Your Tango)

JawaPos.com — Di tengah meningkatnya fenomena kesepian sosial, banyak peneliti mulai menyoroti kondisi yang kerap disebut sebagai “male loneliness epidemic”, atau epidemi kesepian pada pria. 

Istilah ini menggambarkan semakin banyaknya pria—terutama generasi muda—yang merasa terisolasi karena minimnya hubungan pertemanan yang dekat dan suportif dalam kehidupan mereka.

Berbeda dengan perempuan yang umumnya memiliki ruang emosional dalam persahabatan, sebagian pria justru tumbuh dalam lingkungan sosial yang menekan ekspresi perasaan.

Baca Juga: 6 Kebiasaan Ini Dapat Membuat Metabolisme Tubuh Melambat, Apa Saja?

Norma maskulinitas konvensional sering kali mengajarkan bahwa kerentanan adalah tanda kelemahan. Akibatnya, banyak pria memilih menutup emosi, menjaga jarak secara sosial, atau mengalihkan perhatian pada hal lain. 

Para ahli juga mencatat bahwa ketika seorang pria tidak memiliki sahabat dekat, kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi dapat muncul dalam berbagai perilaku sehari-hari. Mulai dari bekerja berlebihan hingga mencari validasi melalui cara-cara yang tidak sehat.

Dilansir dari Your Tango, Kamis (5/3), sejumlah pakar psikologi dan hubungan mengidentifikasi beberapa kebiasaan khas yang sering muncul pada pria yang tidak memiliki teman dekat sebagai tempat berbagi.

Baca Juga: Kerap Dianggap Pendendam, 5 Zodiak Ini Punya Kebiasaan Mudah Memaafkan tapi tidak Lupa

1. Menggunakan Humor untuk Menghindari Kerentanan

Banyak pria terbiasa menggunakan humor sebagai cara mengalihkan pembicaraan ketika topik menjadi terlalu emosional. Mereka cenderung melontarkan candaan ketika percakapan mulai menyentuh perasaan pribadi atau pengalaman mendalam.

Kebiasaan ini sebenarnya berfungsi sebagai mekanisme pertahanan agar tidak terlihat rentan di hadapan orang lain. Namun dalam jangka panjang, humor yang digunakan sebagai tameng dapat menghambat terbentuknya hubungan yang lebih mendalam. 

2. Terlalu Sibuk Agar Tidak Merasa Sepi

Kesibukan sering dijadikan alasan yang tampak produktif untuk menghindari kesepian. Banyak pria mengisi jadwal dengan pekerjaan, lembur, atau aktivitas lain agar tidak menghadapi waktu luang sendirian.

Secara psikologis, kondisi ini berfungsi sebagai distraksi dari pikiran yang terlalu banyak atau perasaan yang tidak nyaman. Namun strategi tersebut sering kali justru membuat seseorang semakin lelah secara emosional. 

3. Mengisolasi Diri Saat Mengalami Tekanan

Ketika menghadapi stres atau masalah pribadi, sebagian pria cenderung menarik diri dari lingkungan sosial. Mereka merasa perlu mempertahankan citra kuat dan tidak ingin terlihat rapuh di hadapan orang lain.

Padahal penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial merupakan salah satu faktor penting bagi kesehatan mental. Tanpa teman dekat yang dapat dipercaya, banyak pria akhirnya memendam masalah sendiri. 

4. Menghabiskan Terlalu Banyak Waktu untuk Doomscrolling 

Media sosial sering memberi ilusi koneksi sosial yang instan. Namun bagi pria yang tidak memiliki lingkaran pertemanan dekat, aktivitas seperti scrolling tanpa henti sering menjadi cara mengisi kekosongan emosional.

Konten digital memang dapat memberikan rasa keterhubungan sementara. Akan tetapi, interaksi daring tidak selalu mampu menggantikan hubungan nyata. Sejumlah penelitian bahkan menunjukkan bahwa penggunaan layar yang tinggi sering berkaitan dengan meningkatnya rasa kesepian.

5. Menjadi Terlalu Mandiri

Kemandirian sering dianggap sebagai simbol kekuatan maskulinitas. Banyak pria dididik untuk menyelesaikan segala hal sendirian tanpa bergantung pada orang lain.

Namun ketika kemandirian berubah menjadi hiper-independensi, kondisi tersebut dapat menjadi respons terhadap pengalaman isolasi sosial. 

Seseorang mulai meyakini bahwa bergantung pada orang lain hanya akan menimbulkan kekecewaan. Padahal, hubungan sosial yang sehat justru memerlukan kepercayaan dan saling dukung.

6. Menggantikan Kedekatan Emosional dengan Sentuhan Fisik

Sebagian pria mencari kedekatan melalui hubungan fisik atau romantis jangka pendek. Hal ini sering terjadi karena mereka kesulitan mengekspresikan emosi secara terbuka.

Sentuhan fisik dapat memberikan rasa diterima dalam jangka pendek. Namun tanpa komunikasi emosional yang sehat, hubungan semacam ini sering tidak mampu memenuhi kebutuhan kedekatan yang sebenarnya.

7. Berbelanja Berlebihan untuk Mengisi Kekosongan

Perilaku konsumtif kadang menjadi cara untuk mendapatkan rasa kontrol atau kepuasan sesaat. Beberapa orang membeli barang untuk meningkatkan suasana hati ketika merasa kesepian atau tertekan.

Masalahnya, kepuasan tersebut biasanya hanya berlangsung sementara. Setelahnya, rasa bersalah atau kekosongan emosional dapat muncul kembali.

8. Terjebak dalam Konten Toksik di Internet

Sebagian komunitas daring memanfaatkan rasa kesepian pria dengan menyebarkan narasi maskulinitas ekstrem. Konten semacam ini sering memperkuat kemarahan, menyalahkan pihak lain, atau menumbuhkan kebencian terhadap perempuan.

Alih-alih membantu, paparan konten toksik justru dapat memperparah isolasi sosial. Individu yang terjebak di dalamnya cenderung semakin jauh dari hubungan yang sehat.

9. Menghindari Merayakan Pencapaian Pribadi

Menariknya, momen bahagia seperti ulang tahun atau keberhasilan karier justru bisa memperkuat rasa kesepian. Tanpa teman dekat untuk berbagi kebahagiaan, pencapaian tersebut terasa kurang bermakna.

Akibatnya, sebagian pria memilih menyembunyikan keberhasilan mereka atau merayakannya sendirian. Ini menjadi tanda bahwa kebutuhan akan komunitas dan persahabatan masih belum terpenuhi.

Kesepian pada pria sering tidak terlihat karena tersamarkan oleh kebiasaan yang tampak normal, seperti bekerja keras, bercanda, atau menyibukkan diri. 

Namun di balik perilaku tersebut, terdapat kebutuhan mendasar manusia untuk memiliki hubungan sosial yang tulus dan suportif. Tanpa ruang untuk berbagi secara emosional, berbagai mekanisme bertahan dapat muncul—meski tidak selalu sehat dalam jangka panjang.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho