JawaPos.com - Pernahkah Anda merasa sangat terganggu, bahkan marah atau gelisah, hanya karena mendengar suara orang mengunyah, menyeruput, atau mengecap makanan?
Bagi sebagian orang, ini bukan sekadar “tidak suka” atau “terlalu sensitif”. Dalam dunia psikologi, reaksi berlebihan terhadap suara tertentu bisa menjadi sinyal adanya pola kecemasan yang tersembunyi.
Fenomena ini sering dikaitkan dengan misophonia, yaitu kondisi ketika suara tertentu memicu respons emosional negatif yang kuat.
Namun di balik itu, psikologi melihat bahwa ketidakmampuan menoleransi suara mengunyah sering berhubungan dengan cara seseorang mengelola emosi, stres, dan rasa aman.
Dilansir dari Geediting pada Jumat (9/1), jika Anda termasuk orang yang langsung tegang saat mendengar suara tersebut, bisa jadi Anda memiliki satu atau lebih dari tujuh pola kecemasan berikut ini.
1. Kecemasan Berbasis Kontrol Lingkungan
Orang yang terganggu oleh suara mengunyah sering kali memiliki kebutuhan tinggi akan keteraturan. Dalam psikologi, ini berkaitan dengan control-based anxiety, yaitu kecemasan yang muncul ketika lingkungan terasa tidak bisa dikendalikan.
Suara mengunyah dianggap sebagai “gangguan tak terduga” yang merusak rasa aman. Ketika kontrol hilang, tubuh bereaksi dengan stres: jantung berdebar, otot menegang, dan pikiran ingin segera menjauh dari sumber suara.
Bukan karena Anda tidak sopan, tetapi karena sistem saraf Anda sedang berusaha mempertahankan stabilitas.
2. Sensitivitas Sensorik yang Tinggi
Sebagian orang memiliki sensory processing sensitivity yang lebih tinggi dari rata-rata. Ini berarti otak memproses rangsangan suara, cahaya, atau tekstur dengan intensitas lebih kuat.
Suara mengunyah yang bagi orang lain biasa saja, bagi Anda bisa terdengar sangat keras, dekat, dan mengganggu. Kondisi ini sering dikaitkan dengan kecemasan karena otak cepat kewalahan oleh stimulus kecil.
Psikologi melihat ini bukan sebagai kelemahan, melainkan karakter sistem saraf yang lebih responsif.
3. Kecemasan Sosial Tersembunyi
Menariknya, ketidaknyamanan terhadap suara mengunyah sering muncul di situasi sosial: saat makan bersama, rapat, atau kumpul keluarga. Ini bisa menandakan social anxiety tersembunyi.
Bukan berarti Anda takut orang, tetapi Anda cemas terhadap situasi di mana Anda merasa “terjebak” dan tidak bisa pergi tanpa terlihat tidak sopan. Suara mengunyah menjadi pemicu yang memperparah perasaan tertekan tersebut.
Akibatnya, emosi negatif diarahkan pada suara, padahal akarnya adalah kecemasan sosial.
4. Pola Overthinking dan Kewaspadaan Berlebihan
Orang yang tidak tahan suara tertentu sering memiliki pola hypervigilance, yaitu kewaspadaan berlebihan terhadap lingkungan. Otak selalu siaga, memindai hal-hal kecil yang berpotensi mengganggu.
Dalam psikologi kecemasan, ini sering dialami oleh individu yang terbiasa mengantisipasi masalah, berpikir jauh ke depan, dan sulit benar-benar rileks. Suara mengunyah menjadi “alarm kecil” yang membuat pikiran semakin tegang.
Bukan suaranya yang besar, tetapi perhatian Anda yang terlalu fokus.
5. Ketegangan Emosional yang Tidak Tersalurkan
Reaksi emosional berlebihan terhadap suara mengunyah kadang merupakan bentuk emosi terpendam. Stres, marah, lelah, atau cemas yang tidak tersalurkan mencari jalan keluar melalui hal-hal sepele.
Psikologi menyebut ini sebagai displacement, yaitu pemindahan emosi dari sumber utama ke objek yang lebih aman. Anda mungkin tidak bisa marah pada pekerjaan atau situasi hidup, tetapi secara tidak sadar melampiaskannya pada suara kecil di sekitar.
Itulah sebabnya reaksi bisa terasa “tidak masuk akal”, bahkan bagi diri sendiri.
6. Trauma Kecil atau Pengalaman Masa Lalu
Beberapa orang mengaitkan suara mengunyah dengan pengalaman tidak menyenangkan di masa lalu, seperti konflik keluarga, suasana makan yang penuh tekanan, atau kritik berulang saat kecil.
Meskipun terdengar sepele, otak menyimpan memori emosional ini. Ketika suara serupa muncul, tubuh bereaksi seolah sedang menghadapi ancaman lama. Inilah yang dalam psikologi disebut conditioned anxiety response.
Reaksinya otomatis, cepat, dan sulit dikendalikan.
7. Perfeksionisme dan Standar Internal yang Tinggi
Orang dengan kecenderungan perfeksionis sering sensitif terhadap hal-hal yang dianggap “tidak ideal”, termasuk etika makan. Suara mengunyah dipersepsikan sebagai sesuatu yang tidak rapi, tidak tertib, atau tidak sesuai standar.
Dalam psikologi, perfeksionisme sering berjalan beriringan dengan kecemasan karena adanya tekanan internal yang konstan. Ketika orang lain tidak memenuhi standar tersebut, muncul rasa tidak nyaman yang intens.
Masalahnya bukan pada orang lain, melainkan pada standar yang terlalu keras terhadap diri sendiri dan lingkungan.
Kesimpulan: Tubuh Anda Sedang Berbicara, Bukan Bereaksi Berlebihan
Tidak tahan mendengar suara orang mengunyah bukan berarti Anda aneh, manja, atau tidak toleran. Menurut psikologi, reaksi tersebut sering kali merupakan sinyal adanya pola kecemasan tertentu, mulai dari kebutuhan akan kontrol, sensitivitas sensorik, hingga emosi yang belum terselesaikan.
Alih-alih menyalahkan diri sendiri, penting untuk memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan tubuh dan pikiran Anda: apakah istirahat, batasan yang sehat, atau cara baru mengelola stres.
Ketika Anda mulai mengenali pola kecemasan ini, suara yang dulu terasa menyiksa perlahan bisa menjadi pengingat bahwa kesehatan mental juga perlu didengarkan—setenang atau sekecil apa pun sinyalnya.