← Beranda
Mengungkap Impostor Syndrome: Mengapa Banyak Orang Merasa Tidak Layak Akan Prestasinya Sendiri​?
Rediva Ananda Putri• Selasa, 9 Desember 2025 | 03.46 WIB
Ilustrasi Impostor Syndrome (Freepik)

JawaPos.com - Pernah merasa bahwa semua pencapaianmu hanyalah kebetulan, bahwa kamu tidak pantas mendapat pujian sampai takut dicap sebagai “penipu”? Perasaan seperti ini dikenal sebagai Impostor Syndrome, fenomena yang membuat seseorang meragukan kemampuan, prestasi, bahkan nilai dirinya sendiri meski bukti kompetensinya sudah jelas.

Fenomena ini juga dijelaskan sebagai pola pikir yang membuat seseorang merasa seolah ia hanya “beruntung” mencapai sesuatu, bukan karena kemampuannya sendiri. Siloam Hospitals menjelaskan bahwa perasaan ini sering muncul pada individu berprestasi, mahasiswa, atau pekerja yang memikul ekspektasi tinggi.

Di sisi lain, Mitra Keluarga menyebut bahwa Impostor Syndrome dapat membuat seseorang terus-menerus takut gagal dan khawatir ketahuan “tidak sepintar yang orang kira”, sehingga tekanan batin yang muncul bisa mengganggu aktivitas sehari-hari.

Penyebab Impostor Syndrome

1. Lingkungan kompetitif dan ekspektasi tinggi

Salah satu pemicu utama Impostor Syndrome adalah berada di lingkungan yang menuntut hasil sempurna seperti sekolah, kampus, organisasi, atau tempat kerja.

Jika setiap tugas atau tanggung jawab dipandang sebagai ujian prestasi, sering muncul rasa bahwa apa pun hasilnya tidak akan cukup. Standar tinggi dan perbandingan dengan orang lain bisa menumbuhkan rasa kurang percaya diri, bahwa kita “tidak sebanding”.

2. Perfeksionisme dan standar diri yang keras

Seseorang dengan kecenderungan perfeksionis ingin melakukan segalanya dengan sempurna dan lebih rentan merasakan Impostor Syndrome. Karena standar sendiri terlalu tinggi, bahkan pencapaian yang valid pun bisa dianggap “kurang”. Jika terjadi kesalahan kecil, malah muncul perasaan bersalah dan takut dianggap tidak kompeten.

3. Kurangnya internalisasi pencapaian dan kebiasaan meremehkan diri

Bagi banyak yang mengalami Impostor Syndrome, setiap keberhasilan sering dianggap kebetulan, hasil bantuan orang lain, atau “beruntung saja”. Menginternalisasi prestasi dengan benar sulit dilakukan sehingga meskipun ada bukti nyata, rasa “tidak pantas” tetap membayangi.

 

Cara Menghadapi dan Mengelola Impostor Syndrome

1. Catat dan akui pencapaian secara konkret

Salah satu cara efektif untuk melawan keraguan adalah dengan membuat “daftar pencapaian”. Tuliskan setiap keberhasilan entah itu besar atau kecil serta pujian atau umpan balik positif yang kamu terima. Ketika rasa tidak percaya muncul, kamu bisa melihat kembali bukti konkret bahwa kamu layak.

2. Ubah pola pikir dengan menerima bahwa kesempurnaan tidak realistis

Sadari bahwa semua orang bisa membuat kesalahan, dan bahwa kesalahan bukan berarti kamu “penipu”. Gantilah pikiran negatif seperti “Saya pasti gagal” atau “Saya tidak pantas” dengan afirmasi realistis seperti “Saya belajar” atau “Saya tumbuh setiap hari.” Dengan membuka ruang untuk ketidaksempurnaan, rasa beban akan berkurang.

3. Berbagi dan mencari dukungan sosial dengan membuka ruang bicara

Jangan dipendam sendiri. Bicara dengan teman, mentor, anggota keluarga, atau profesional bisa sangat membantu. Sering kali, ketika kita ungkapkan perasaan “tidak pantas”, kita justru menemukan bahwa banyak orang lain merasakan hal sama. Mendengarkan sudut pandang lain bisa memberi perspektif baru dan melegakan.

Impostor Syndrome bukan sekadar rasa malu atau minder sesaat, hal ini bisa mempengaruhi rasa harga diri, motivasi, dan kesehatan mental secara mendalam. Tetapi, mengetahui penyebab dan cara untuk mengatasinya memberikan kita kekuatan untuk menghadapi rasa itu dengan lebih bijak.

Dengan mencatat pencapaian, mengubah cara kita melihat kesalahan, dan berbagi beban dengan orang lain, rasa tidak layak bisa pelan-pelan tergantikan oleh kepercayaan diri dan penghargaan terhadap diri sendiri.

Kalau kamu merasa terus terjebak dalam rasa ragu dan takut itu, kamu tidak sendirian. Banyak orang mengalami hal sama. Memberi ruang untuk diri sendiri, serta dukungan dari orang dekat atau profesional, bisa menjadi langkah awal menuju penerimaan diri dan kebebasan dari bayang-bayang impostor. (*)

EDITOR: Siti Nur Qasanah