JawaPos.com – Pengalaman hidup yang kurang nyaman dapat membentuk batasan diri sehingga seseorang tidak suka disentuh menurut psikologi.
Tidak semua orang mampu menerima sentuhan karena pengalaman emosional itu meninggalkan jejak dalam psikologi.
Psikologi menjelaskan bahwa pengalaman pahit sering memengaruhi reaksi seseorang ketika disentuh.
Pengalaman yang berkaitan dengan disentuh menghasilkan respons psikologi yang berbeda untuk setiap individu.
Dilansir dari geediting.com pada Senin (24/11), bahwa ada tujuh pengalaman pahit orang yang tidak suka disentuh menurut psikologi.
- Kurangnya sentuhan kasih sayang di tahun-tahun awal
Regina Pally, psikiater terkemuka dari UCLA School of Medicine, menyatakan bahwa ketiadaan sentuhan penuh kasih sayang berdampak serius pada perkembangan anak.
Anak-anak yang tidak mendapatkan cukup sentuhan hangat dan penuh cinta di masa bayi dan balita cenderung menganggap sentuhan sebagai hal asing.
Kondisi ini kemudian membuat mereka merasa tidak nyaman ketika harus bersentuhan dengan orang lain di masa dewasa.
Bahkan sentuhan ringan seperti pelukan atau tepukan di lengan bisa memicu kecemasan atau perasaan seperti diinvasi.
Baca Juga: 20 Tempat Makan Keluarga di Surabaya yang Enak, Nyaman, dan Cocok untuk Semua Usia
Hal ini bukan soal sikap dingin atau tidak ramah, melainkan akar masalah yang terbentuk dari minimnya sentuhan afektif sejak dini.
- Trauma masa kecil yang melibatkan kontak fisik kasar
Ada hubungan mendalam antara trauma masa kecil dan penolakan terhadap sentuhan di kemudian hari.
Sigmund Freud pernah mengatakan bahwa manusia paling rentan terhadap penderitaan saat mereka mencintai, termasuk dalam konteks hubungan keluarga.
Anak-anak yang mengalami kontak fisik kasar atau agresif, meski dalam bentuk permainan, bisa mengembangkan ketakutan terhadap sentuhan.
Kontak fisik yang seharusnya menjadi ungkapan kasih sayang malah berubah menjadi sumber kecemasan dan ketidaknyamanan.
Akibatnya, mereka tumbuh dengan persepsi bahwa sentuhan fisik adalah sesuatu yang mengancam, bukan menenangkan atau menyenangkan.
- Pola penelantaran emosional yang konsisten
Anak-anak yang tumbuh dengan penelantaran emosional sering kali tidak mendapat pengakuan atau validasi atas perasaan mereka.
Dr. Jonice Webb, penulis buku tentang penelantaran emosional masa kecil, menjelaskan bahwa anak belajar menyembunyikan perasaan sejak dini.
Tanpa ada orang yang memahami kebutuhan emosional mereka, anak-anak ini membangun tembok pelindung yang mencakup penghindaran terhadap kontak fisik.
Sentuhan sering kali menjadi representasi dari koneksi emosional yang mereka tidak pernah alami dengan layak.
Baca Juga: Malas tapi Rezeki Deras: Ada 5 Weton yang Punya Jalan Hidup Terbilang Mudah
Penolakan terhadap sentuhan menjadi mekanisme perlindungan diri yang tidak disadari untuk menjaga kondisi emosional mereka yang rapuh.
- Lingkungan keluarga yang kacau dan penuh konflik
Rumah tangga yang diwarnai pertengkaran, kekerasan, atau ketidakstabilan menciptakan dampak jangka panjang pada persepsi anak terhadap sentuhan.
Dalam lingkungan di mana sentuhan dikaitkan dengan agresi atau konflik, anak akan memandang semua bentuk kontak fisik sebagai berbahaya.
Sebuah studi dari University of Toronto tahun 2014 menemukan bahwa anak yang menyaksikan kekerasan domestik lebih mungkin membenci sentuhan.
Para peneliti menjelaskan bahwa anak-anak ini menginterpretasikan isyarat emosional yang menyertai sentuhan sebagai tanda ancaman atau bahaya.
Ketika sentuhan terus-menerus dikaitkan dengan momen negatif di rumah, anak akan menghindari semua bentuk kontak fisik hingga dewasa.
- Tidak adanya ruang pribadi selama masa kecil
Abraham Maslow, tokoh dalam hierarki kebutuhan manusia, menekankan bahwa manusia membutuhkan ruang pribadi baik secara fisik maupun psikologis.
Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga besar atau lingkungan yang ramai sering kali tidak pernah memiliki ruang pribadi.
Ketiadaan privasi dan kebebasan dari campur tangan berlebihan ini membuat mereka mendambakan ruang personal di masa dewasa.
Mereka kemudian mempersepsikan sentuhan sebagai invasi terhadap ruang pribadi yang selama ini tidak pernah mereka miliki.
Orang-orang ini bereaksi dengan cara yang tidak biasa ketika zona nyaman mereka dilanggar, termasuk dengan menghindari kontak fisik.
- Sentuhan fisik yang berlebihan di masa kanak-kanak
Paradoksnya, terlalu banyak sentuhan fisik di masa kecil juga bisa menciptakan penolakan terhadap kontak fisik di masa dewasa.
Anak-anak bisa menjadi tidak peka terhadap sentuhan jika hal itu terlalu mendominasi kehidupan mereka sejak kecil.
Freud dalam teori psikoanalisisnya menyatakan bahwa terlalu banyak sesuatu tidak selalu bermanfaat dan kadang kita harus menjauh untuk menghargainya.
Ketika kehadiran sentuhan menjadi berlebihan dan tidak diinginkan, anak-anak mungkin menjadi terlepas dari koneksi emosional melalui kontak fisik.
Sentuhan kehilangan komponen emosionalnya dan malah dianggap sebagai gangguan atau pemicu stres ketika mereka tumbuh dewasa.
- Interaksi negatif di lingkungan sekolah
Sekolah menjadi arena penting untuk perkembangan sosial anak, namun juga bisa menjadi sumber trauma terkait sentuhan fisik.
B.F. Skinner, ahli perilaku terkemuka, mencatat bahwa cara penguatan positif dilakukan lebih penting daripada jumlahnya, termasuk dalam hal sentuhan.
Beberapa anak mengalami sentuhan invasif dari teman sekelas, baik dalam bentuk perundungan atau interaksi yang tidak menyenangkan lainnya.
Hal ini menumbuhkan rasa takut atau ketidaksukaan terhadap kontak fisik yang terbawa hingga mereka tumbuh dewasa.
Bahkan ruang yang dirancang untuk mendorong pertumbuhan bisa secara tidak sengaja berperan dalam membentuk penghindaran terhadap sentuhan jika tidak dikelola dengan hati-hati.