← Beranda
Orang yang Jarang Berbagi Apa yang Mereka Rasakan Biasanya Memiliki 7 Pengalaman Masa Kecil Ini Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahKamis, 20 November 2025 | 17.28 WIB
seseorang yang jarang berbagi apa yang mereka rasakan./Freepik/freepik

JawaPos.com - Tidak semua orang tumbuh menjadi pribadi yang mudah bercerita, mudah menangis, atau mudah mengakui bahwa mereka sedang tidak baik-baik saja.

Sebagian orang terlihat tenang, kuat, bahkan “dewasa”, tetapi sesungguhnya mereka menyimpan begitu banyak hal di dalam hati.

Mereka bukan tidak punya perasaan—mereka hanya terbiasa memproses semuanya sendirian.

Psikologi perkembangan dan pola asuh menunjukkan bahwa kecenderungan seseorang untuk memendam atau sulit mengekspresikan perasaan sering kali berakar dari pengalaman masa kecil.

Bukan karena masa kecil mereka buruk, tetapi karena ada pola tertentu yang membentuk cara mereka memahami emosi, kelekatan, dan keamanan dalam hubungan.

Dilansir dari Geediting pada Rabu (19/11), terdapat 7 pengalaman masa kecil yang biasanya dimiliki orang yang tumbuh menjadi pribadi sulit berbagi perasaan.

1. Mereka Dibesarkan dalam Lingkungan yang Mengutamakan “Kuat, Jangan Cengeng”

Di banyak keluarga, ekspresi emosi dianggap tanda kelemahan.

Menangis diminta berhenti, marah dianggap tidak sopan, sedih disuruh tahan.

Anak akhirnya belajar bahwa perasaan adalah sesuatu yang harus sembunyikan, bukan dibicarakan.

Saat dewasa, mereka sudah sangat ahli terlihat baik-baik saja meski hatinya penuh badai.

2. Mereka Sering Menjadi Penengah Konflik dalam Keluarga

Anak yang tumbuh di tengah pertengkaran orang tua atau anggota keluarga lain sering mengambil peran sebagai “penjaga ketenangan”.

Ia belajar bahwa mengungkapkan perasaan justru menambah masalah.

Maka ia memilih menahan semuanya, berusaha menjaga suasana tetap damai, dan saat dewasa ia membawa pola ini: menenangkan orang lain, mengabaikan diri sendiri.

3. Mereka Terbiasa Mengurus Emosi Orang Lain Sebelum Emosi Sendiri

Baca Juga: Enam Weton Berkasta Tertinggi! Miliki Aura Kemakmuran yang Meninggi Menurut Primbon Cirebon

Beberapa anak tumbuh dengan orang tua yang emosional, sensitif, atau mudah tersinggung.

Mereka belajar membaca situasi, menyesuaikan diri, dan “mengalah” agar tidak memicu reaksi berlebihan.

Akibatnya, mereka jadi mahir menyembunyikan apa yang sebenarnya mereka rasakan karena fokus utamanya adalah menjaga perasaan orang lain.

4. Mereka Jarang Mendapat Validasi Emosi

Anak yang sering mendengar, “Ah, cuma gitu aja,” “Lebay banget sih,” atau “Harusnya kamu nggak merasa gitu,” tumbuh dengan keyakinan bahwa perasaannya tidak penting.

Ketika dewasa, mereka terbiasa diam karena tak yakin ada orang yang benar-benar mau memahami mereka.

5. Mereka Pernah Menyampaikan Perasaan tetapi Tidak Didengarkan

Dalam psikologi trauma kecil (micro-trauma), pengalaman yang tampak sepele seperti dicueki saat sedang sedih atau tidak didengarkan saat bercerita bisa membentuk kepercayaan negatif: “Berceritapun percuma.”

Pola ini mengikuti hingga dewasa—bukan karena tidak mau jujur, tetapi mereka sudah pernah mencoba, dan hasilnya mengecewakan.

6. Mereka Sering Dipuji Saat Bersikap Mandiri

Sebagian besar dari mereka tumbuh sebagai “anak pintar”: tidak merepotkan, tidak banyak menangis, bisa menyelesaikan semuanya sendiri.

Mereka menerima banyak apresiasi saat mandiri, tetapi tidak terbiasa menerima pelukan atau ruang untuk bercerita.

Maka saat dewasa, mereka tetap mandiri—begitu mandiri hingga sulit meminta bantuan dan sulit terbuka.

7. Mereka Belajar bahwa Emosi = Beban untuk Orang Lain

Anak yang melihat orang tua stres, sibuk, atau kelelahan cenderung menahan diri untuk tidak menambah beban.

Mereka belajar bahwa membagikan perasaan berarti membuat orang lain rumit.

Hingga dewasa, mereka takut dianggap menyusahkan, sehingga memilih menyimpan semuanya dalam hati.

Kesimpulan: Menjadi Pemendam Bukanlah Kelemahan, tetapi Jejak dari Cara Kita Bertahan

Orang yang jarang berbagi perasaan bukanlah pribadi yang dingin atau tidak mau dekat.

Sebaliknya, mereka justru sensitif—hanya saja mereka tumbuh dalam lingkungan yang membentuk mereka untuk memendam, bukan menceritakan.

Psikologi mengingatkan bahwa pola masa kecil bukan takdir.

Semua orang bisa belajar membuka diri, setahap demi setahap: mengenali emosi, memberi nama, membiarkan orang tepercaya masuk, dan membiarkan diri merasakan tanpa rasa bersalah.

Pada akhirnya, setiap hati butuh ruang untuk pulih.
Dan berbagi bukan tanda lemah—itu tanda bahwa kita siap tumbuh, bukan lagi sekadar bertahan.

EDITOR: Hanny Suwindari