JawaPos.com - Beberapa tahun yang lalu, selama musim dingin yang sangat berat, saya menemukan diri saya duduk di lantai ruang tamu, dikelilingi oleh surat-surat yang belum dibuka, proyek-proyek yang belum selesai, dan pikiran yang penuh dengan kebisingan.
Tidak ada yang salah, tapi semuanya terasa berat.
Itulah hal yang menarik tentang ketangguhan. Itu bukan tentang menjadi tangguh atau tidak terpengaruh.
Ini tentang belajar tetap tenang di tengah badai kehidupan yang biasa-biasa saja, yang tidak menjadi headline tapi perlahan-lahan mengikis Anda.
Sejak saat itu, saya menyadari sesuatu. Orang yang benar-benar tangguh jarang memamerkan kekuatan mereka.
Mereka bergerak dengan tenang, penuh keyakinan. Mereka tidak terlihat seperti sedang berjuang, tapi entah bagaimana mereka terus maju.
Dikutip dari geediting pada Minggu (16/11), berikut adalah empat kebiasaan yang saya lihat, baik dalam perjalanan hidup saya sendiri maupun pada orang-orang yang saya kagumi, yang membuat orang-orang tangguh menjadi tak terbendung secara diam-diam.
1) Mereka tetap penasaran saat hidup menjadi rumit
Orang-orang tangguh tidak menyerah saat segala sesuatunya hancur. Mereka malah mengajukan pertanyaan. Apa yang bisa saya pelajari dari ini? Apa yang diajarkan hal ini kepada saya tentang batas-batas atau kemampuan saya?
Rasa ingin tahu menciptakan jarak antara kita dan masalah. Hal itu membantu kita berhenti sejenak daripada terjebak dalam spiral.
Ketika suami saya dan saya mengalami masa ketidakpastian finansial, saya menyadari bagaimana rasa ingin tahu meredakan rasa takut.
Alih-alih bertanya mengapa hal ini terjadi pada kita, saya mulai bertanya apa yang bisa kita lakukan secara berbeda di lain waktu.
Perubahan itu tidak menghapus perjuangan, tetapi mengembalikan kendali kita.
Ketika Anda tetap penasaran, pikiran Anda tetap terbuka. Dan keterbukaan itulah tempat ketahanan dimulai.
2) Mereka tahu cara beristirahat tanpa rasa bersalah
Orang yang tangguh memahami bahwa energi adalah sumber daya, bukan lambang kebanggaan.
Mereka tidak memuja kelelahan.
Mereka tahu kapan harus berhenti, kapan harus beristirahat, dan kapan harus tidur lebih awal tanpa rasa bersalah.
Dulu, saya menganggap istirahat sebagai hadiah. Sekarang, itu bagian dari strategi saya.
Istirahat bukan berarti menyerah. Itu berarti menghormati batas Anda cukup untuk kembali lebih kuat.
Ada keyakinan yang tenang dalam memilih pemulihan daripada gerakan konstan.
Membutuhkan keberanian untuk mengatakan, “Saya butuh istirahat,” terutama di dunia yang memuji kerja keras.
Jika Anda bisa beristirahat tanpa rasa bersalah, Anda akan selalu memiliki kekuatan untuk bangkit kembali.
3) Mereka mempraktikkan kejujuran emosional
Orang yang tangguh tidak berpura-pura semuanya baik-baik saja saat sebenarnya tidak.
Mereka membiarkan diri mereka merasakan seluruh rentang emosi manusia tanpa tersesat di dalamnya.
Ini tidak berarti meluapkan emosi tanpa henti atau mendramatisasi rasa sakit. Itu berarti mengakui apa yang nyata.
Kadang-kadang rasanya seperti mengatakan, “Saya merasa kewalahan.” Kadang-kadang, itu adalah pengakuan, “Saya takut dengan apa yang akan terjadi selanjutnya,” atau berpikir dalam hati, “Saya merindukan bagaimana keadaan dulu.”
Menyebutkan emosi melemahkan kekuatannya.
Ketika kita menyangkal apa yang kita rasakan, kita membangun perlawanan di atas rasa sakit. Tetapi ketika kita menghadapinya, kita memprosesnya.
Itulah yang memungkinkan orang yang tangguh terus bergerak, bukan karena mereka tidak terpengaruh, tetapi karena mereka telah belajar cara memproses hal-hal sulit dengan cara yang sehat.
4) Mereka menjaga dunia mereka tetap sederhana saat diperlukan
Ada masa-masa ketika hidup menuntut kesederhanaan. Orang yang tangguh tahu kapan harus mundur.
Mereka tidak mengacaukan produktivitas dengan kemajuan. Mereka memahami bahwa penyembuhan, refleksi, dan kejernihan sering terjadi di ruang yang tenang, jauh dari kebisingan, perbandingan, dan aktivitas tanpa henti.
Saat saya pulih dari kelelahan, saya berhenti mengisi setiap jam.
Saya menghapus media sosial dari ponsel saya. Saya memperkecil dunia saya agar bisa bernapas lagi.
Itulah saat kekuatan saya kembali.
Terkadang ketahanan berarti melakukan lebih sedikit, bukan lebih banyak.