← Beranda
7 Perilaku Halus Orang Dewasa yang Jarang Merasa Aman Saat Melewati Masa Kanak-kanak
Aunur Rahman• Selasa, 11 November 2025 | 18.50 WIB
Ilustrasi seseorang dewasa yang duduk sendirian di rumah./Freepik

JawaPos.com - Pengalaman masa kanak-kanak akan membentuk perilaku kita saat dewasa secara signifikan.

Khususnya, perasaan tidak aman di masa kecil dapat memicu serangkaian respons halus yang dibawa hingga dewasa.

Perilaku-perilaku ini sering kali tidak disadari, namun sangat memengaruhi cara kita berinteraksi dengan dunia.

Menurut psikologi, orang dewasa yang dibesarkan tanpa rasa aman yang stabil belajar untuk tetap waspada secara ekstrem.

Mereka mengembangkan mekanisme pertahanan diri yang menjadi kebiasaan sehari-hari, melansir dari Geediting.com Senin (10/11).

Mengenali tujuh perilaku halus ini dapat membuka jalan menuju pemahaman diri dan proses penyembuhan yang lebih mendalam.

1. Selalu Memindai Ruangan Secara Konstan

Orang-orang ini cenderung memindai wajah dan bahasa tubuh setiap orang saat memasuki ruangan.

Kebiasaan ini dikenal sebagai kewaspadaan berlebihan atau hypervigilance. Otak mereka belajar bahwa mendeteksi bahaya lebih awal adalah kunci untuk bertahan hidup.

2. Meminta Maaf Atas Keberadaan Diri

Mereka sering meminta maaf bahkan untuk hal-hal kecil, seperti mengambil tempat duduk atau mengirim surel singkat.

Perilaku ini menunjukkan bahwa mereka merasa tidak pantas untuk "mengambil ruang" di dunia ini. Mereka berusaha keras untuk "memperhalus" suasana agar tidak menimbulkan konflik.

3. Mengharapkan Penolakan dan Memilih untuk Pergi Duluan

Mereka sering merasa yakin bahwa mereka akan ditolak, sehingga memilih untuk mengakhiri hubungan atau interaksi terlebih dahulu.

Ini adalah mekanisme perlindungan diri yang mencegah rasa sakit penolakan. Mereka mengendalikan rasa sakit dengan mengantisipasinya.

4. Mengendalikan Jadwal Harian untuk Mengendalikan Ketakutan

Baca Juga: Ramalan Zodiak Sagitarius 11 November 2025: Mulai dari Cinta, Karier, Kesehatan, dan Keuangan

Seseorang yang masa kecilnya tidak stabil cenderung menyusun jadwal yang sangat ketat. Mengendalikan setiap detail rutinitas harian memberikan ilusi keamanan bagi mereka. Rasa takut dan cemas dapat dikelola melalui pengendalian lingkungan.

5. Menolak Bantuan karena Bantuan Selalu Disertai "Imbalan"

Mereka cenderung menolak bantuan, bahkan ketika sangat membutuhkannya. Mereka belajar bahwa bantuan dari figur pengasuh di masa lalu selalu disertai dengan harga, seperti rasa bersalah. Mereka memilih kemandirian yang berlebihan daripada berutang budi.

6. Mengabaikan Perasaan dan Mengubahnya Menjadi Lelucon

Ketika mengekspresikan emosi adalah hal yang berisiko, orang dewasa ini belajar menyembunyikan perasaan mereka dengan humor.

Mereka sering melontarkan lelucon tentang masalah serius, seperti insomnia atau beban kerja. Humor dijadikan perisai agar orang lain tidak melihat kerentanan mereka.

7. Berusaha Keras dalam Beristirahat

Mereka yang jarang merasa aman saat kecil menganggap kewaspadaan adalah sebuah nilai.

Istirahat terasa asing dan bahkan menimbulkan rasa bersalah bagi mereka. Mereka menjadwalkan waktu luang mereka dan merasa bersalah jika bangun telat.

Kebiasaan-kebiasaan ini adalah respons yang sangat wajar terhadap lingkungan masa kecil yang tidak aman.

Meskipun bahaya aslinya sudah lama berlalu, pola-pola bertahan hidup itu tetap ada. Namun, dengan kesadaran dan latihan, kita bisa secara perlahan menggantikan kebiasaan lama ini.

Proses penyembuhan membutuhkan waktu, tetapi mengenali asal usul perilaku ini adalah permulaan. Pada akhirnya, kita dapat mengajarkan tubuh kita bahwa lingkungan saat ini adalah tempat yang aman.

EDITOR: Hanny Suwindari