JawaPos.com - Kebanyakan dari kita suka berpikir bahwa kita berbelas kasih hingga kita menghadapi momen yang menguji keyakinan itu.
Kita mudah untuk bersikap baik ketika semua orang merasa nyaman dan hidup berjalan lancar.
Namun ujian sesungguhnya datang ketika kita merasa dirugikan, kecewa atau sepenuhnya disalahpahami.
Jika Anda dapat memilih belas kasih saat hal itu mengorbankan sesuatu, saat kesombongan, kemarahan, atau ego berbisik lebih keras, Anda mengungkapkan sesuatu yang langka dan indah.
Karena kenyataannya, siapapun bisa berbuat baik saat nyaman. Namun, ketika kebaikan terasa tidak nyaman dan kita tetap memilihnya, saat itulah jiwa kita benar-benar bersinar.
Dilansir dari Geediting, berikut adalah 7 hal yang benar-benar diungkapkan oleh seseorang memiliki nurani baik menurut psikologi. Simak penjelasannya!
1. Ketika Seseorang Menyakiti
Hanya sedikit hal yang lebih menguji hati kita daripada diperlakukan tidak adil. Dorongan untuk membalas, untuk membuat seseorang merasakan sengatan yang mereka berikan kepada kita, hampir merupakan hal yang primitif.
Memilih welas asih bukan berarti membenarkan perilaku buruk. Melainkan, menyadari bahwa setiap orang bertindak atas dasar rasa sakit, rasa tidak aman, atau ketakutan mereka sendiri.
Ketika Anda memilih untuk merespons dengan penuh belas kasih alih-alih membalas, Anda melindungi kedamaian Anda.
Anda juga membebaskan diri dari belenggu rasa sakit itu. Jiwa yang paling indah bukanlah mereka yang tak pernah merasa marah. Mereka adalah mereka yang merasakannya dan tetap memilih kebaikan.
2. Ketika Seseorang Mengecewakan
Ekspektasi adalah kontrak diam yang kita buat tanpa menandatangani apa pun. Kita percaya, kita berharap, kita berasumsi.
Namun ketika seseorang mengingkari janji, rasanya menyakitkan. Mungkin seorang teman tak muncul saat kita sangat membutuhkannya, atau pasangan kita mengabaikan sesuatu yang penting.
Semua orang tahu, menarik diri itu menyebalkan, memendam kekecewaan dalam diam juga sama halnya.
Namun, jika Anda memiliki jiwa yang sungguh indah, Anda dapat menggali jauh di dalam hati dan tetap memutuskan untuk berbelas kasih.
Anda dapat mengatakan hal-hal seperti, kamu mengecewakanku, tapi aku tetap peduli. Pada intinya, ingatlah bahwa tidak ada yang menang ketika rasa dendam mengakar.
3. Ketika Tidak Setuju
Di dunia saat ini, Anda dapat kehilangan persahabatan karena perbedaan pendapat untuk hampir semua hal.
Media sosial telah menjadikan semua orang sebagai penyiar pandangan, dan rasa welas asih dapat tenggelam oleh amarah.
Namun, ketika Anda sungguh-sungguh mendengarkan untuk memahami, alih-alih untuk berdebat, sesuatu akan berubah.
Terlebih kalimat, "Kurasa kita berdua menginginkan hal yang sama, hanya saja kita melihat jalan yang berbeda."
Kalimat itu mengingatkan bahwa belas kasih tidak membutuhkan persetujuan. Kasih sayang membutuhkan rasa ingin tahu.
Anda tidak perlu mengencerkan nilai-nilai Anda untuk bersikap baik. Anda hanya perlu mengingat bahwa di balik setiap keyakinan terdapat sebuah kisah, dan terkadang kisah itu menjelaskan segalanya.
4. Ketika Seseorang Menghakimi
Sebagai seseorang yang telah disalahpahami berkali-kali, pastinya akan sungguh sulit untuk membalas rasa belas kasih tersebut.
Mungkin rumor menyebar, atau seseorang menafsirkan diamnya Anda sebagai kesombongan. Anda ingin membela diri, membuktikan niat Anda baik.
Namun, belas kasih menuntut kita untuk diam sejenak sebelum bereaksi. Berbelas kasih di saat-saat seperti ini berarti tetap membumi, bahkan ketika orang lain salah menilai Anda.
Anda tidak bisa mengendalikan persepsi, tetapi Anda bisa mengendalikan respons hati Anda.
5. Ketika Dijadikan Pelampiasan
Kita semua pernah merasakan frustrasi yang tak pada tempatnya. Mungkin teman membentak Anda, rekan kerja yang tampak mustahil atau anak remaja Anda memutar bola matanya mendengar setiap kata yang Anda ucapkan.
Kita tak pernah tahu pertempuran diam apa yang sedang dihadapi seseorang. Dan jika ide ini selalu muncul ketika bertemu seseorang yang menguji kesabaran, sungguh indah jiwamu.
6. Ketika Diri Membuat Kesalahan
Memilih untuk berbelas kasih kepada diri sendiri mungkin yang tersulit. Kebanyakan dari kita jauh lebih pemaaf terhadap orang lain daripada terhadap diri sendiri.
Ketika kita gagal, kita mengulang kejadian itu seperti film buruk yang tak bisa berhenti kita tonton.
Namun, rasa welas asih terhadap diri sendiri memungkinkan kita belajar tanpa menghancurkan diri kita sendiri.
Ketika kamu memberikan dirimu sendiri rahmat yang sama seperti yang kamu berikan kepada seorang teman, kamu akan tumbuh lebih kuat, alih-alih lebih keras.
Jiwa yang indah tahu bahwa kelembutan terhadap diri sendiri memicu kelembutan terhadap orang lain.
7. Ketika Dunia Berasa Kejam
Jujur saja ada hari-hari di mana rasa welas asih terasa menyakitkan. Berita-berita menyayat hati, orang-orang mengecewakan, dan hidup seolah memberi tahu kepada kita yang paling lantang bukanlah yang paling baik.
Anda mungkin bertanya-tanya apakah empati Anda penting dalam dunia yang kejam ini, di mana setiap orang tampaknya hanya mementingkan diri sendiri.
Namun setiap tindakan kasih sayang kecil akan menimbulkan dampak, entah Anda menyadarinya atau tidak.
Ketika Anda terus peduli, bahkan ketika itu melelahkan, saat itulah kasih sayang Anda menjadi luar biasa.
Mudah untuk bersikap baik ketika segalanya terasa ringan. Sungguh luar biasa untuk bersikap baik ketika dunia terasa berat.