← Beranda
Orang yang Sering Mengingkari Janji Biasanya Tunjukkan 7 Ciri Kepribadian yang Mengkhawatirkan Menurut Psikologi
Irfan Ferdiansyah• Selasa, 4 November 2025 | 15.35 WIB
seseorang yang mengingkari janji./Freepik/drobotdean

JawaPos.com - Dalam relasi sosial, janji adalah bentuk komitmen yang merekatkan kepercayaan.

Ia mungkin terdengar sederhana: sekadar ucapan akan hadir, membantu, atau melakukan sesuatu.

Namun, di balik itu, tersimpan bobot moral dan psikologis yang besar.

Ketika seseorang terlalu sering mengingkari janji, bukan hanya reputasinya yang tergores—tapi juga mencerminkan kondisi psikologis yang lebih dalam.

Menurut sejumlah psikolog, kebiasaan mengabaikan janji sering kali bukan sekadar masalah sikap sepele.

Ada pola kepribadian yang mengkhawatirkan yang menyertai perilaku itu.

Mereka yang kerap menunda, mengelak, atau bahkan mengabaikan komitmen tanpa rasa bersalah, biasanya memiliki ciri tertentu yang dapat dirasakan oleh orang di sekelilingnya.

Dilansir dari Geediting pada Minggu (2/11), terdapat tujuh ciri kepribadian mengkhawatirkan yang kerap muncul pada orang yang sering mengingkari janji.

1. Tidak Konsisten dalam Perilaku

Orang yang sering mengingkari janji cenderung menunjukkan perilaku yang tidak konsisten—hari ini tampak penuh semangat, esoknya menghilang.

Di mata psikolog, ketidakkonsistenan ini biasanya menjadi pertanda minimnya kontrol diri dan kurangnya komitmen internal terhadap nilai yang ia ucapkan.

Mereka bisa berjanji untuk hadir, tetapi tanpa dasar keseriusan dalam hati.

2. Egocentrisme: Dunia Berpusat pada Dirinya

Sikap egosentris membuat seseorang lebih memprioritaskan keinginan pribadi dibanding konsekuensi sosial dari tindakan mereka.

Ketika memberi janji, fokus mereka bukan pada tanggung jawab, tetapi pada manfaat sesaat: terlihat baik, disukai, atau menghindari konflik.

Pada akhirnya, mereka mudah mengabaikan janji karena merasa kepentingannya lebih penting daripada kekecewaan orang lain.

3. Kurang Rasa Empati

Bagi sebagian orang, mengingkari janji terasa berat karena membayangkan kekecewaan yang dirasakan orang lain.

Namun, mereka yang sering melanggarnya biasanya memiliki empati yang rendah.

Mereka tidak terlalu memikirkan atau merasakan dampak emosional pada pihak lain.

Dalam kacamata psikologi, rendahnya empati ini menjadi beban besar dalam relasi interpersonal.

4. Cenderung Menghindari Tanggung Jawab

Seseorang yang sering ingkar janji biasanya menolak atau melarikan diri dari tanggung jawab.

Alih-alih menghadapi konsekuensi, mereka memilih mencari alasan, menyalahkan keadaan, atau orang lain.

Dalam jangka panjang, pola penghindaran ini dapat berkembang menjadi kebiasaan manipulatif untuk melindungi diri dari kewajiban sosial.

5. Impulsif

Impulsivitas membuat seseorang mudah bertindak tanpa memikirkan konsekuensinya, termasuk ketika membuat janji.

Mereka bisa saja berjanji spontan, namun menyesal kemudian.

Tanpa refleksi yang matang, ia sulit merencanakan dan memenuhi komitmen.

Dalam psikologi, ciri ini sering terkait dengan kurangnya keterampilan regulasi emosi dan kedewasaan mental.

6. Terbiasa Memakai “Topeng Sosial”

Ada orang yang kerap memberikan janji hanya demi terlihat baik di mata publik—seolah-olah mereka peduli, profesional, atau bertanggung jawab.

Namun itu hanyalah topeng. Sisi gelap kepribadian ini menunjukkan bahwa mereka lebih mementingkan image dibanding integritas.

Ketika situasi berubah, topeng itu ditinggalkan, begitu pula janji.

7. Rendahnya Integritas Pribadi

Sebagian besar psikolog sepakat bahwa seseorang yang berulang kali mengingkari janji memiliki integritas yang rapuh.

Integritas bukan hanya tentang menepati janji, tetapi tentang keselarasan antara kata dan tindakan.

Jika seseorang terbiasa berkata “ya” tapi bertindak sebaliknya, maka fondasi moralnya patut dipertanyakan.

Mengapa Kebiasaan Ini Berbahaya?

Perilaku mengingkari janji tidak hanya merusak kepercayaan, tetapi juga menciptakan keretakan dalam hubungan.

Dalam konteks keluarga, hal ini bisa melahirkan luka emosional.

Dalam dunia profesional, ia menimbulkan penilaian negatif dan merusak reputasi.

Lama-kelamaan, orang dengan ciri ini terasing secara sosial karena sulit dipercaya.

Psikolog menekankan bahwa kebiasaan ini bukan hanya urusan etika sosial—melainkan refleksi dari kepribadian yang perlu diperbaiki.

Tanpa kesadaran diri, impulsivitas dan penghindaran tanggung jawab dapat berkembang menjadi pola disfungsional yang lebih dalam.

Bagaimana Menghadapinya?

Jika kita berhadapan dengan orang yang sering mengingkari janji, langkah terbaik adalah membatasi ekspektasi.

Beri ruang, tetapi tetap tegas. Jangan mudah larut dalam kata-kata manis tanpa tindakan nyata.

Di sisi lain, jika kita menyadari kecenderungan ini pada diri sendiri, penting untuk membiasakan diri berkata jujur: lebih baik menolak daripada berjanji yang tidak akan dipenuhi.

Kesimpulan

Mengucap janji adalah perkara mudah, namun menepatinya mencerminkan kualitas diri yang sesungguhnya.

Mereka yang sering mengingkarinya biasanya menunjukkan tujuh ciri kepribadian mengkhawatirkan: tidak konsisten, egosentris, minim empati, penghindar tanggung jawab, impulsif, penuh topeng sosial, serta memiliki integritas yang lemah.

Sementara dunia menilai seseorang dari kata-katanya, yang benar-benar berbicara adalah tindakan.

Pada akhirnya, karakterlah yang berbicara lebih keras daripada janji.

EDITOR: Hanny Suwindari