← Beranda
10 Ungkapan Lama Generasi Boomer yang Diam-diam Membuat Anak Muda Kesal
Aunur RahmanJumat, 31 Oktober 2025 | 13.36 WIB
Ilustrasi dialog antara dua generasi (satu lebih tua, satu lebih muda)/Freepik

JawaPos.com - Kesenjangan antargenerasi sering kali menciptakan gesekan dalam berkomunikasi, terutama dalam pemilihan bahasa yang sensitif.

Generasi Baby Boomer dibesarkan dengan norma bahasa yang berbeda. Hal ini membuat beberapa frasa yang mereka gunakan sering kali dianggap tidak sesuai secara politik oleh generasi muda. Kesenjangan ini menciptakan komunikasi yang canggung, di mana maksud baik sering diartikan sebagai sikap tidak peka, seperti yang ditelaah oleh Geediting.com Kamis (30/10).

Sikap yang sering mereka tunjukkan adalah meremehkan perubahan sosial dan mental yang dialami oleh generasi saat ini. Penting untuk memahami mengapa sepuluh ungkapan ini dapat menimbulkan reaksi negatif dari Generasi Y atau Z. Mari kita bedah lebih lanjut ungkapan-ungkapan yang sering mereka gunakan ini.

1. "Aku tidak melihat warna (kulit)."

Frasa ini sering digunakan oleh Boomer untuk menunjukkan bahwa mereka sama sekali bukan seorang rasis. Namun, bagi anak muda, ini terdengar seperti mengabaikan keragaman identitas. Ini secara tidak langsung mengabaikan perjuangan yang dihadapi oleh komunitas minoritas.

2. "Dulu di zamanku, orang tidak punya rasa cemas."

Ungkapan ini meremehkan masalah kesehatan mental yang sangat nyata dan dialami oleh generasi muda. Kalimat ini mengabaikan kemajuan dalam pemahaman mengenai masalah psikologis saat ini. Mendengar ini membuat mereka merasa perasaannya tidak diakui.

3. "Kamu sangat cerdas dalam berbicara!"

Meskipun terdengar seperti pujian, ungkapan ini sering kali memiliki bias rasial. Pujian ini menyiratkan bahwa kecerdasan verbal adalah suatu kejutan yang tidak terduga. Itu dapat dianggap sebagai pernyataan yang merendahkan secara diam-diam.

4. "Kamu terlihat bagus untuk usiamu."

Pujian ini sebenarnya membawa perbandingan yang tidak perlu, menyoroti usia sebagai suatu kelemahan. Hal ini dapat membuat yang mendengar merasa bahwa penampilannya hanya bagus jika dibandingkan dengan orang yang lebih tua. Pujian tulus tidak perlu menyertakan kualifikasi usia.

5. "Kalian..."

Frasa seperti "Kalian selalu sibuk dengan ponsel" dapat langsung menciptakan garis pemisah antara mereka dan generasi yang lebih muda. Kalimat ini mendorong perspektif "kami versus kalian" yang kurang bersahabat. Perilaku ini dapat membuat yang mendengar merasa dinilai secara keseluruhan oleh Anda.

6. "Tenang saja."

Mengatakan "Tenang saja" kepada seseorang yang sedang emosional dapat terasa meremehkan dan tidak sensitif. Frasa ini menyiratkan bahwa emosi mereka tidak valid atau terlalu berlebihan. Anak muda lebih menghargai dukungan dan pengakuan atas emosi yang mereka rasakan.

7. "Mengapa sekarang orang tidak bisa diajak bercanda lagi?"

Ungkapan ini sering muncul setelah Boomer membuat lelucon yang bersifat ofensif kepada orang lain. Kalimat ini digunakan untuk menghindari pertanggungjawaban atas komentar yang mereka lontarkan. Anak muda melihat ini sebagai penolakan untuk berempati.

8. "Kamu terlalu sensitif."

Kalimat ini mengesankan bahwa emosi seseorang adalah masalah besar, bukan hal yang harus diakui dan dipahami. Bagi generasi yang menghargai keterbukaan emosional, kalimat ini terasa sebagai penolakan. Ini meremehkan upaya mereka dalam menjaga kesehatan mental.

9. "Bertingkah seperti laki-laki sejati (Man up)."

Ini adalah contoh yang jelas dari toxic masculinity yang menghambat pria untuk menunjukkan kerentanan emosional. Ungkapan ini mendesak seseorang untuk menekan perasaan yang mereka rasakan. Generasi muda lebih menghargai kemampuan untuk mengungkapkan emosi.

10. "Anak-anak perempuan zaman sekarang..."

Frasa ini sering digunakan untuk mengkritik cara hidup perempuan di zaman modern. Komentar ini dapat merendahkan kemandirian dan pilihan pribadi yang mereka ambil saat ini. Ungkapan ini secara tidak langsung mengkritik pilihan hidup anak muda.

Meskipun niat di baliknya mungkin baik, bahasa yang digunakan oleh Boomer sering kali kurang sesuai dengan perkembangan zaman. Perbedaan bahasa ini berakar pada kerangka berpikir mental yang berbeda antar generasi. Memahami perubahan dalam bahasa adalah kunci penting untuk menjembatani kesenjangan tersebut.

Memilih kata-kata dengan lebih bijak dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan saling menghormati bagi semua pihak. Ini adalah proses berkelanjutan untuk menumbuhkan pemahaman antar generasi.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho