← Beranda
Memahami 7 Frasa yang Digunakan Saat Seseorang Malu dengan Asal-usulnya
Aunur Rahman• Rabu, 22 Oktober 2025 | 19.05 WIB
Ilustrasi seseorang yang mencoba mengubah dialek bicaranya sambil menghindari kontak mata, mencerminkan ketidaknyamanan akan asal-usul./Freepik

JawaPos.com - Setiap orang membawa cerita unik dari tempat asalnya, namun tidak semua orang merasa bangga untuk membaginya.

Beberapa individu cenderung merasa malu atau minder dengan latar belakang geografis maupun sosial mereka. Rasa malu ini sering kali muncul akibat adanya bias sosial atau stereotip tertentu.

Melansir dari Geediting.com Senin (20/10), perasaan tersebut biasanya diungkapkan melalui frasa-frasa yang terkesan meremehkan.

Ungkapan-ungkapan ini digunakan sebagai mekanisme pertahanan untuk menghindari sorotan pada akar mereka.

Mari kita cermati tujuh frasa yang sering digunakan untuk menutupi rasa malu ini.

1. "Saya bukan dari tempat yang istimewa"

Frasa klasik ini terkesan merendah, padahal secara halus menyiratkan rasa malu akan asal-usulnya. Orang yang mengatakannya sering mencoba mengalihkan perhatian dari kampung halaman mereka. Mereka merasa tempat asalnya tidak pantas untuk dibicarakan atau dipertimbangkan.

2. "Itu hanya kota kecil"

Ungkapan ini digunakan untuk mengecilkan signifikansi tempat tinggal mereka saat ini. Mereka mencoba mengurangi ekspektasi orang lain terhadap tempat asalnya. Seringkali, ini dilakukan untuk menghindari pembicaraan lebih lanjut.

3. "Tidak ada di peta"

Ini adalah frasa yang sering dipakai untuk meremehkan kota asal mereka. Hal ini menunjukkan tempat itu kecil atau tidak dikenal banyak orang. Ungkapan ini menjadi cara untuk menjaga jarak dari latar belakang mereka.

4. "Bukan tempat yang populer"

Ungkapan ini juga digunakan untuk mengelola ekspektasi tentang tempat mereka berasal. Biasanya, frasa ini diucapkan oleh mereka yang berasal dari lokasi kurang terkenal atau kurang glamor. Mereka berharap orang lain tidak terlalu menghiraukan tempat tersebut.

5. "Saya sering pindah-pindah"

Frasa ini sering digunakan untuk menutupi ketidaknyamanan tentang asal-usul, bukan sekadar riwayat tempat tinggal. Kadang, mereka mengatakannya karena malu berasal dari keluarga berpenghasilan rendah. Ini adalah cara halus untuk tidak menyebutkan tempat tinggal tertentu.

6. "Itu tempat yang biasa saja"

Ini merupakan upaya untuk menutupi rasa malu atau ketidaknyamanan yang dirasakan seseorang tentang asal-usulnya. Frasa ini bertindak sebagai sebuah kepura-puraan sosial. Mereka menganggap tempat itu tidak menarik untuk dibahas.

7. "Saya adalah warga dunia"

Ungkapan ini cenderung digunakan oleh mereka yang merasa terhambat oleh asal-usulnya. Ini menjadi cara untuk memproyeksikan identitas yang lebih universal dan tanpa batas geografis. Mereka ingin menghilangkan segala keterkaitan dengan tempat tertentu.

Akar dan latar belakang seseorang merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas mereka. Rasa malu akan asal-usul ini sering kali muncul dari tekanan sosial atau ketidakpercayaan diri. Penting untuk menyadari bahwa setiap tempat memiliki keunikan.

Dengan bersikap empati dan tidak terlalu ingin tahu, kita dapat menciptakan ruang komunikasi yang lebih aman. Hal ini memungkinkan setiap individu untuk merasa lebih nyaman menerima jati diri mereka. Akar membentuk kita, dan tidak ada yang perlu disembunyikan.

EDITOR: Hanny Suwindari