← Beranda
Jika Orang yang Berusia Lebih dari 40 Tahun Masih Sering Bersitegang dengan Customer Service, Biasanya Mereka Memiliki 7 Kepribadian Ini
Irfan FerdiansyahRabu, 22 Oktober 2025 | 05.13 WIB
seseorang yang lebih cocok menjadi pemimpin./Freepik/dusanpetkovic

JawaPos.com - Dalam keseharian, kita sering menjumpai orang yang mudah tersulut emosi saat berhadapan dengan layanan pelanggan—entah di bank, toko online, restoran, atau call center.

Namun, jika seseorang sudah melewati usia 40 tahun dan masih sering bersitegang dengan customer service, psikologi memandang hal ini bukan sekadar soal “pelayanan buruk”, tetapi mencerminkan pola kepribadian dan cara berpikir yang lebih dalam.

Usia 40 sejatinya adalah masa ketika seseorang sudah matang secara emosional.

Namun, jika konflik kecil terus muncul dalam interaksi sosial, terutama dengan petugas layanan, ada kemungkinan beberapa aspek kepribadian yang belum seimbang.

Dilansir dari Geediting pada Minggu (19/10), terdapat tujuh karakter yang biasanya dimiliki oleh orang-orang tersebut, menurut kacamata psikologi.

1. Perfeksionis Tingkat Tinggi: Sulit Toleransi pada Kesalahan Kecil

Orang dengan kecenderungan perfeksionis memiliki standar yang sangat tinggi terhadap segala hal, termasuk pelayanan.

Mereka menginginkan segala sesuatu berjalan rapi, cepat, dan tanpa cela.

Saat customer service sedikit saja melakukan kesalahan atau lambat merespons, mereka langsung merasa terganggu.

Menurut psikologi kepribadian, tipe perfeksionis sering kali merasa kehilangan kendali bila lingkungan tidak sesuai ekspektasi.

Akibatnya, mereka mudah mengkritik atau berdebat, meski sebenarnya masalahnya sepele.

2. Rendah dalam Empati Sosial: Kurang Mampu Melihat dari Sudut Pandang Orang Lain

Salah satu penyebab utama konflik dengan petugas layanan adalah rendahnya empati.

Orang yang berusia matang tapi masih sering marah kepada customer service biasanya kesulitan menempatkan diri pada posisi lawan bicara.

Mereka tidak memikirkan tekanan yang dialami petugas—seperti aturan perusahaan, antrian panjang, atau keterbatasan sistem.

Kurangnya empati membuat mereka cenderung menuntut dan merasa paling dirugikan, tanpa berusaha memahami konteks yang lebih luas.

3. Ego Tinggi: Merasa Status dan Usia Harus Dihormati

Faktor usia sering kali memunculkan kebutuhan akan penghargaan sosial.

Di usia 40-an, banyak orang merasa sudah berpengalaman dan pantas dihormati.

Ketika customer service yang lebih muda tampak “kurang sopan” atau tidak cepat menuruti kemauan mereka, ego ini bisa terluka.

Psikologi sosial menyebut ini sebagai status defensiveness, yaitu mekanisme pertahanan diri ketika seseorang merasa posisinya tidak dihargai.

Maka muncullah ledakan emosi atau nada bicara yang tinggi untuk “mengembalikan” rasa superioritasnya.

4. Rendahnya Regulasi Emosi: Sulit Mengelola Marah dan Frustrasi

Tak semua orang belajar mengelola emosi dengan baik meski usianya bertambah.

Beberapa individu terbiasa memendam stres, sehingga ketika ada pemicu kecil—seperti sistem error atau jawaban template dari CS—mereka meledak tanpa sadar.

Psikologi klinis menekankan bahwa rendahnya emotional regulation bisa muncul dari pola masa kecil yang terbiasa reaktif atau kurang diajarkan cara menenangkan diri.

Orang seperti ini bukan tidak tahu mereka marah, tapi sulit menghentikannya begitu emosi sudah naik.

5. Kepribadian Dominan dan Kontroling: Harus Merasa Berkuasa dalam Situasi Apa Pun

Beberapa orang memiliki karakter dominan: mereka ingin mengatur, memimpin, dan merasa paling benar.

Ketika berhadapan dengan customer service yang bertugas mengikuti prosedur, mereka merasa kehilangan kendali.

Mereka tidak suka “disuruh menunggu” atau “mengikuti aturan”.

Dari perspektif psikologi kepribadian, tipe ini sering kali memiliki kecenderungan authoritarian trait—yaitu kebutuhan tinggi untuk menguasai situasi dan menunjukkan otoritas.

6. Sisa Luka Psikologis dari Rasa Tidak Dianggap

Menariknya, sebagian besar kemarahan yang muncul bukan karena pelayanan itu sendiri, tetapi karena luka batin lama.

Orang yang sering merasa diabaikan di masa lalu (baik oleh keluarga, pasangan, atau lingkungan kerja) akan lebih sensitif terhadap situasi yang membuat mereka “tidak didengar”.

Saat CS berbicara datar, menunda respon, atau tampak tidak memerhatikan, luka itu kembali terbuka.

Maka, emosi pun muncul dalam bentuk protes keras—padahal akar emosinya jauh lebih dalam dari sekadar salah kirim barang.

7. Kurangnya Kecerdasan Emosional dalam Komunikasi Modern

Di era digital, interaksi dengan customer service sering dilakukan lewat chat atau telepon.

Orang yang tidak terbiasa membaca nuansa komunikasi nonverbal kadang salah tafsir.

Mereka menganggap balasan singkat berarti “tidak sopan”, padahal itu format sistem.

Psikologi komunikasi menilai bahwa kecerdasan emosional dalam memahami konteks modern sangat penting.

Tanpa kemampuan ini, individu mudah merasa tersinggung atau mempersepsikan sesuatu secara negatif—dan akhirnya, konflik pun tidak terhindarkan.

Kesimpulan: Matang Usia Belum Tentu Matang Emosi

Bersitegang dengan customer service bukan dosa besar, tapi bisa menjadi cermin diri yang jujur.

Bila seseorang berusia lebih dari 40 tahun masih sering terlibat dalam konflik semacam ini, mungkin saatnya berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: “Apakah masalahnya benar di luar sana, atau di dalam diri saya?”

Kematangan sejati bukan diukur dari usia, jabatan, atau banyaknya pengalaman, melainkan dari kemampuan mengelola emosi dan menghargai sesama—terutama mereka yang sedang bekerja melayani.

Orang bijak tahu kapan harus menuntut hak, dan kapan cukup dengan memahami bahwa tidak semua hal harus diselesaikan dengan kemarahan.

EDITOR: Hanny Suwindari