JawaPos.com – Seseorang yang telah dewasa dalam hubungan akan membuat relasi terbangun dengan baik.
Menurut psikologi, terdapat beberapa sikap yang menunjukkan seseorang telah dewasa dalam sebuah hubungan.
Beberapa sikap ini menjelaskan tanpa pembuktian bahwa seseorang memang telah dewasa dalam hubungan yang dijalani.
Dilansir dari geediting.com pada Selasa (21/10), bahwa ada tujuh sikap ini benar-benar telah dewasa dalam hubungan menurut psikologi.
- Nyaman dengan perasaan sendiri
Kemampuan untuk mengenali dan mengelola perasaan dengan baik menjadi fondasi utama dalam kematangan emosional seseorang.
Setiap manusia memiliki berbagai macam perasaan yang terkadang sangat membingungkan dan sulit dikendalikan.
Namun, orang yang matang secara emosional mampu menavigasi perasaan-perasaan tersebut tanpa kehilangan kendali atau merusak keharmonisan bersama pasangan.
Carl Rogers, seorang ahli terkenal, pernah mengatakan bahwa paradoks yang menarik terjadi ketika seseorang menerima dirinya apa adanya, barulah ia bisa berubah menjadi lebih baik.
Ini berarti kamu tidak menekan perasaan yang muncul atau justru meledakkannya dengan cara yang merusak, melainkan menerima dan menghadapinya secara konstruktif.
Baca Juga: 7 Ciri Kepribadian Orang yang Masih Menyetrika Pakaian, Begini Kata Psikologi!
- Mampu berempati pada pasangan
Empati adalah kemampuan untuk memahami dan merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, bukan sekadar simpati belaka.
Daniel Goleman menyebutkan bahwa empati dan keterampilan sosial merupakan bagian dari kecerdasan emosional yang berhubungan dengan kemampuan interpersonal.
Ketika pasangan menghadapi masalah atau situasi sulit, kamu berusaha menempatkan diri di posisinya untuk memahami perasaannya secara mendalam.
Kemampuan ini bukan hanya tentang mendengarkan keluhan pasangan, tetapi benar-benar memahami sudut pandang dan perasaan yang ia alami.
Dengan empati, kamu dapat memberikan dukungan yang tepat dan membuat pasangan merasa dimengerti serta tidak sendirian dalam menghadapi masalahnya.
- Tidak takut menghadapi konflik
Banyak orang menganggap konflik sebagai sesuatu yang negatif dan harus dihindari dalam interaksi dengan pasangan.
Namun kenyataannya, konflik adalah bagian yang tidak terhindarkan dan justru bisa menjadi peluang untuk tumbuh bersama.
Albert Ellis pernah menyatakan bahwa seni dalam mencintai sebagian besar adalah seni untuk bertahan dan tidak menyerah.
Konflik tidak berarti hilangnya cinta atau keharmonisan, melainkan kesempatan untuk memperkuat ikatan melalui komunikasi yang terbuka.
Jika kamu adalah orang yang menghadapi konflik secara langsung dan mendiskusikan masalah dengan jujur alih-alih mendiamkannya, maka ini menunjukkan kematangan emosional yang kuat dalam dirimu.
- Bertanggung jawab atas tindakan sendiri
Mengakui kesalahan dan belajar dari pengalaman adalah indikasi nyata dari kematangan emosional seseorang.
Sebuah studi dari Universitas Toronto menemukan bahwa orang yang cenderung merasa bersalah saat melakukan kesalahan ternyata adalah individu yang lebih dapat dipercaya dan memiliki empati tinggi.
Bukan berarti kamu harus terus-menerus merasa bersalah tanpa alasan, tetapi lebih kepada keberanian untuk mengakui ketika kamu berbuat salah.
Meminta maaf dengan tulus dan berusaha memperbaiki kesalahan adalah tindakan yang memerlukan keberanian dan kejujuran diri.
Ketika kamu mampu mengambil tanggung jawab penuh atas tindakanmu, bahkan saat itu terasa sulit, kamu menunjukkan kedewasaan emosional yang sejati.
- Bisa menetapkan dan menghormati batasan
Batasan dalam interaksi dengan pasangan adalah tentang menghargai kebutuhan diri sendiri dan juga kebutuhan pasangan.
Memahami bahwa kamu dan pasangan adalah dua individu terpisah dengan keinginan serta kebutuhan yang berbeda merupakan hal yang penting.
Brene Brown, seorang pakar terkemuka, mengatakan bahwa keberanian untuk menetapkan batasan adalah tentang keberanian untuk mencintai diri sendiri, bahkan ketika hal itu berisiko mengecewakan orang lain.
Menetapkan batasan pribadi bukanlah tindakan egois, melainkan bentuk cinta pada diri sendiri yang sehat dan diperlukan.
Jika kamu dapat mendefinisikan batasan personal dan menghormati batasan yang ditetapkan pasangan, ini adalah tanda kuat bahwa kamu adalah pribadi yang matang secara emosional.
- Tahu cara melepaskan
Kemampuan untuk melepaskan seringkali dianggap sebagai kelemahan atau tanda menyerah, padahal sebenarnya ini adalah tanda kematangan emosional.
Baik itu melepaskan dendam, kesalahan masa lalu, atau ekspektasi yang tidak realistis, kemampuan ini sangat berkontribusi pada kesehatan jangka panjang interaksi dengan pasangan.
Carl Jung pernah mengatakan bahwa ia bukan ditentukan oleh apa yang terjadi padanya, melainkan oleh apa yang ia pilih untuk menjadi.
Kutipan ini menegaskan kekuatan dari melepaskan, di mana kamu memilih untuk tidak didefinisikan oleh kejadian masa lalu tetapi fokus pada apa yang bisa kamu capai di masa depan.
Jika kamu sering mempraktikkan seni melepaskan dalam interaksi dengan pasangan, kamu menunjukkan salah satu tanda terpenting dari kematangan emosional.
- Mempraktikkan mendengarkan secara aktif
Mendengarkan secara aktif adalah komponen vital namun sering diabaikan dalam kematangan emosional seseorang.
Ini bukan sekadar mendengar kata-kata yang diucapkan pasangan, tetapi benar-benar fokus memahami pesan yang ingin disampaikan dan merespons dengan penuh pertimbangan.
Stephen Covey pernah mengatakan bahwa kebanyakan orang tidak mendengarkan dengan niat untuk memahami, melainkan mendengarkan dengan niat untuk menjawab.
Perbedaan ini sangat signifikan karena mendengarkan untuk memahami membutuhkan empati dan kesabaran yang lebih besar.
Jika kamu menemukan diri sendiri benar-benar mendengarkan untuk memahami pasangan, bukan hanya menunggu giliran untuk berbicara, maka kamu menampilkan tanda terakhir dari kematangan emosional dalam interaksi bersama pasangan.