JawaPos.com – Perilaku yang tampak normal bagi kelas atas sering kali dipandang berbeda ketika dilihat dari sudut kelas sosial lainnya.
Bagi kelas atas, perilaku tertentu dianggap biasa saja, tetapi oleh kelas sosial lain justru dicap sok-sokan.
Kesenjangan kelas sosial membuat persepsi terhadap perilaku kelas atas selalu penuh dengan penilaian yang beragam.
Kelas atas menjalani gaya hidup yang bagi mereka normal, namun di mata kelas sosial lain sering tampak berlebihan.
Fenomena perilaku kelas atas ini menunjukkan betapa kelas sosial memengaruhi cara menilai sesuatu sebagai normal atau sok-sokan.
Dilansir dari geediting.com pada Kamis (9/10), bahwa ada tujuh perilaku yang dianggap normal oleh kelas atas tapi disebut sok-sokan oleh kelas sosial lain.
Baca Juga: Mengapa Pikiran Sering Kosong saat Diajak Bicara Langsung? Otakmu Mengirim Pesan Penting
- Menyebut nama tokoh terkenal dengan santai
Dalam percakapan sehari-hari, orang-orang dari kalangan berada sering menyinggung nama-nama besar seperti sedang bercerita tentang tetangga sebelah.
Mereka akan berkata "kemarin makan siang dengan Jeff" tanpa menjelaskan bahwa Jeff yang dimaksud adalah Jeff Bezos, seolah-olah semua orang sudah tahu siapa yang mereka maksud.
Bagi mereka, ini bukan bentuk pamer melainkan cara alami menceritakan aktivitas mereka karena memang bergerak di lingkungan yang sama dengan para pemimpin bisnis, politikus, dan selebriti.
Kebiasaan ini muncul sebagai cara mereka menempatkan diri dalam peta sosial yang mereka jalani, bukan sebagai upaya mengesankan orang lain.
Namun bagi orang di luar lingkaran tersebut, cara berbicara seperti ini terdengar seperti pertunjukan prestasi ketimbang obrolan biasa.
Kebanyakan dari mereka tidak menyadari betapa mengagumkannya koneksi mereka di telinga orang lain yang menghabiskan akhir pekan dengan mencuci baju dan menonton Netflix.
Baca Juga: Tumbuh Kembang Kelas Menengah ke Bawah Ditandai 8 Kebiasaan Belanja Orang Tua Ini
- Menganggap kemewahan sebagai kebutuhan dasar
Kalangan wealthy memiliki pandangan yang sangat berbeda tentang apa yang dianggap sebagai kebutuhan versus keinginan.
Hal-hal seperti penerbangan kelas bisnis, keanggotaan country club, pengiriman bunga segar mingguan, dan lemari pakaian bermerek bukanlah kemewahan bagi mereka, melainkan logistik dasar kehidupan.
Standar "biasa" mereka bergeser drastis ketika dikelilingi oleh kemakmuran, sehingga yang dianggap mewah oleh kebanyakan orang menjadi hal rutin bagi mereka.
Masalahnya muncul ketika rutinitas ini menjadi bahan percakapan, karena bisa terdengar tidak peka atau bahkan arogan bagi mereka yang berada di luar lingkaran tersebut.
Ini bukan hanya soal uang yang dihabiskan, tetapi asumsi yang tertanam dalam tindakan tersebut.
Kebanyakan orang menganggap kemewahan sebagai bonus sesekali, sementara bagi golongan ini kemewahan sudah menjadi standar hidup yang membuat kontras dengan kehidupan normal terasa sangat mencolok.
- Berbicara dalam terminologi warisan keluarga
Di keluarga-keluarga kaya raya, percakapan sehari-hari sering kali berkisar pada konsep warisan dan kelestarian kekayaan lintas generasi.
Mereka akan membicarakan tentang "mempertahankan rumah leluhur keluarga", menjaga properti tertentu dalam perwalian, atau "melindungi nama baik keluarga" seolah ini adalah topik normal.
Ketika kekayaan sudah turun-temurun atau setidaknya mapan sejak lama, wajar jika mereka memandang hidup dalam konteks warisan dan legacy.
Pola pikir ini meresap ke dalam kehidupan sehari-hari, membuat referensi tentang "apa yang selalu dilakukan keluarga kami" atau "apa yang akan kami wariskan" terdengar kasual bahkan jelas dalam percakapan.
Namun bagi seseorang yang merupakan generasi pertama kuliah atau masih berjuang membayar sewa, mendengar bahasa seperti itu bisa terasa berat dan tidak relevan.
Alih-alih terdengar tradisional, cara bicara ini justru terkesan pretentious seperti seseorang yang membanggakan keuntungan yang memang sudah mereka dapatkan sejak lahir.
- Menerapkan etiket sosial yang sangat formal
Dalam budaya golongan mapan, etiket diperlakukan sebagai semacam tata bahasa sosial yang harus dikuasai dengan sempurna.
Segala hal mulai dari berdiri ketika seseorang memasuki ruangan, menulis kartu ucapan terima kasih dengan tangan, hingga mengenakan pakaian formal untuk makan malam bukanlah "tambahan" melainkan sesuatu yang diharapkan.
Orang-orang yang dibesarkan dalam lingkungan ini sering mempelajari perilaku tersebut dengan cara yang sama seperti orang lain belajar naik sepeda.
Formalitas ini bukan permainan kekuasaan bagi mereka, melainkan memori otot yang sudah tertanam sejak kecil.
Namun bagi mereka yang tidak terendam dalam dunia ini, tingkat formalitas tersebut bisa terasa kaku atau bahkan merendahkan.
Sementara sebagian orang melihatnya sebagai keanggunan, yang lain merasakannya sebagai pertunjukan seperti seseorang yang bermain dengan aturan yang kebanyakan orang tidak pernah mendapat salinannya.
- Mengoleksi hobi-hobi bergengsi
Ketika bertanya tentang hobi seseorang, jawaban yang diharapkan biasanya adalah membaca, berlari, atau mungkin melukis.
Tetapi di antara kelompok wealthy, kamu akan sering mendengar tentang regatta berlayar, pertandingan polo, berkuda, atau mengoleksi wine yang memiliki asosiasi berabad-abad dengan kekayaan dan prestise.
Bagi mereka yang berada dalam dunia itu, hobi-hobi ini sama biasanya dengan bowling atau basket jalanan karena sudah tertanam dalam budaya rumah musim panas, sekolah swasta, dan destinasi liburan eksklusif.
Seringkali anak-anak diperkenalkan pada aktivitas ini sejak usia muda, sehingga tidak terasa seperti kepura-puraan melainkan seperti tradisi keluarga.
Tentu saja dari luar, hobi-hobi ini bisa terlihat seperti penanda eksklusivitas yang sengaja dipamerkan.
Seseorang yang dengan santai menyebut "menghabiskan akhir pekan di istal kuda" mungkin tidak menyadari betapa asing dan pretentious hal itu terdengar bagi orang-orang yang aktivitas santainya jarang melibatkan pelatih hewan atau kapal yacht.
- Membicarakan uang secara tidak langsung
Di kalangan golongan mapan, orang jarang berbicara tentang uang dalam istilah yang langsung dan tegas.
Gaji tidak pernah disebutkan, harga dihindari, dan "kekayaan" itu sendiri sering disiratkan melalui frasa seperti "old money" atau "family office kami" sebagai bahasa sinyal halus ketimbang pernyataan blak-blakan.
Ketidaklangsungan ini mungkin terasa alami di lingkaran mereka, tetapi bisa membuat orang luar merasa seperti sedang bermain teka-teki atau permainan asap dan cermin.
Kebanyakan orang terbiasa dengan angka-angka polos seperti sewa, gaji, dan tagihan, sehingga ketika uang menjadi sesuatu yang diselimuti eufemisme, rasanya aneh dan mengada-ada.
Cara berbicara seperti ini sebenarnya dianggap sebagai cara yang tepat untuk membahas kekayaan tanpa terkesan vulgar dalam pandangan mereka.
Namun bagi orang di luar lingkaran tersebut, pendekatan tidak langsung ini justru bisa terasa evasif atau bahkan pretentious karena terkesan seperti menyembunyikan sesuatu yang sebenarnya sederhana.
- Menunjukkan eksklusivitas tanpa usaha
Ada sesuatu yang surreal ketika menyaksikan seseorang melewati antrean restoran selama dua jam karena maître d' mengenal mereka secara personal.
Di kalangan wealthy, perlakuan seperti ini tidak dianggap istimewa melainkan normal dan wajar.
Memiliki meja pribadi yang menunggu, mengenal staf dengan nama, atau tidak pernah perlu mengantri hanyalah produk sampingan dari koneksi dan status mereka.
Mereka tidak selalu memamerkannya secara sengaja, ini hanya cara kerja dalam dunia mereka yang sudah terstruktur sedemikian rupa.
Tetapi bagi orang lain, menyaksikan seseorang meluncur melalui hidup dengan privilege tak terlihat bisa terasa seperti hak istimewa yang dipamerkan.
Apa yang terlihat biasa dari dalam gelembung mereka terlihat seperti favoritisme luar biasa dari luar, menciptakan kesenjangan persepsi yang sangat kontras antara dua dunia yang berbeda.