← Beranda
Jika Seseorang Menampilkan 9 Kebiasaan Ini di Pertemuan Keluarga, Biasanya Mereka Tampak Tak Bahagia
Wahyu Eka Putra• Selasa, 7 Oktober 2025 | 15.23 WIB
Ilustrasi kebiasaan yang ditampilkan seseorang tak bahagia di pertemuan keluarga. Freepik

JawaPos.com - Kumpul keluarga seharusnya jadi momen yang membahagiakan, kan? 

Mungkin malam malam di hari raya, perayaan ulang tahun. Hal ini seharusnya jadi momen-momen ini untuk mempererat hubungan dan menciptakan kenangan.

Namun terkadang, jika diperhatikan lebih dalam, Anda akan menyadari perilaku tertentu dari seseorang yang tak bahagia di pertemuan keluarga.

Mengapa ini penting? Dilansir dari Geediting, karena mengenali tanda-tanda ini dapat membantu Anda menjangkau seseorang yang membutuhkannya. 

Atau mungkin Anda akan mengenali diri Anda dalam beberapa perilaku ini dan menyadari sudah waktunya untuk mengatasi apa yang telah mengganggu Anda.

1. Datang Terlambat dan Pulang Awal

Ingat sepupu yang selalu datang satu jam setelah makan malam dimulai dan pergi sebelum hidangan penutup? Atau mungkin Anda.

Ketika seseorang terus-menerus melakukan acara keluarga dengan cara ini, mereka biasanya berusaha meminimalkan paparan mereka terhadap sesuatu yang terasa membebani. 

Mereka hanya ingin menunjukkan muka, mungkin karena kewajiban atau untuk menghindari pertanyaan yang tak ingin didengar.

2. Selalu Menjadi Badut Keluarga

Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana beberapa orang yang paling lucu juga bisa jadi yang paling menyedihkan? 

Ketika seseorang terus-menerus mengalihkan perhatian dengan humor, mengubah setiap percakapan menjadi rutinitas komedi, mereka mungkin menggunakan tawa sebagai tameng. 

Membuat orang lain tertawa lebih mudah daripada membiarkan mereka melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam diri.

Orang yang tidak pernah membiarkan momen serius terjadi, yang selalu menyiapkan lelucon ketika keadaan menjadi serius, mereka mungkin adalah orang yang paling membutuhkan dukungan.

3. Berkelahi Karena Hal Sepele

Kenapa seseorang harus berdebat soal resep salad kentang atau marah-marah soal tempat duduk orang lain? 

Hal itu adalah emosi yang terpendam yang mencari alasan untuk melarikan diri mereka yang sebetulnya tidak ingin ditampilkan.

4. Terpaku Pada Ponselnya

Waspadalah terhadap orang yang tidak pernah melihat pertemuan keluarga, yang menanggapi pertanyaan langsung sambil tetap menggulir ponsel.

Atau tampaknya memiliki interaksi yang lebih bermakna dengan ponsel daripada dengan orang-orang di dalam ruangan.

Seringkali, mereka tidak sekadar bersikap kasar, mereka melarikan diri. Dunia digital menawarkan tempat berlindung ketika dunia nyata terasa terlalu berat. 

Dunia digital adalah tempat di mana mereka dapat mengendalikan narasi, memilih interaksi, dan bersantai saat dibutuhkan.

5. Minum Lebih Banyak

Alkohol menjadi penopang ketika menghadapi keluarga terasa tak sesuai dengan harapan mereka. 

Alkohol membuat hati terasa mati rasa, membuat percakapan yang dipaksakan terasa lebih mudah, dan menjadi alasan jika emosi meluap. 

Jika hubungan seseorang dengan alkohol pada acara keluarga, ada baiknya Anda memperhatikannya dan bersikap baik.

6. Terlalu Memilih Berbagi Cerita

Pernahkah Anda dipojokkan oleh seorang kerabat yang tiba-tiba menceritakan seluruh kisah hidupnya kepada Anda, lengkap dengan segala kekecewaan dan penyesalan? 

Atau sebaliknya, seseorang yang hanya menjawab satu kata untuk setiap pertanyaan yang dilemparkan?

Kedua ekstrem ini seringkali bermula dari tempat yang sama. Orang yang terlalu banyak berbagi sangat menginginkan koneksi, tetapi tidak tahu bagaimana mengaturnya. 

Orang yang kurang berbagi telah membangun tembok yang begitu tinggi sehingga mereka lupa bagaimana cara menerima siapa pun.

7. Fokus dengan Orang Lain

Ini mungkin mengejutkan Anda, tetapi terkadang orang yang paling peduli dan penuh perhatian dalam suatu pertemuan adalah orang yang paling kesepian.

Ketika seseorang menghabiskan seluruh acara dengan bertanya tentang orang lain, mengingat setiap detail hidupmu, meributkan hal kecil.

8. Perubahan Suasana Hati Tiba-tiba

Semenit kemudian mereka tertawa mendengar cerita tentang cucu-cucu mereka, semenit kemudian mereka melamun. 

Mereka tampak asyik mengobrol, lalu tiba-tiba pamit ke kamar mandi dan kembali dengan mata merah.

Lonjakan emosi ini bukan kebetulan. Lonjakan emosi ini terjadi ketika seseorang hampir tak mampu menahan diri dan sesuatu.

9. Merendahkan Diri

Dengarkan orang yang tidak bisa menerima pujian, yang mengubah setiap pencapaian menjadi lelucon tentang kegagalannya, yang terlebih dahulu merendahkan dirinya sendiri sebelum orang lain bisa melakukannya.

Pekerjaanku? Biasa saja, malah membosankan. Atau, anak-anak? Mereka baik-baik saja meskipun aku orang tuanya.

Ini bukan contoh kerendahan hati. Ini bukti seseorang yang dipenuhi narasi tidak dihargai. Ketika Anda benar-benar yakin tidak pantas mendapatkan hal-hal baik, Anda menolak karena sudah tau akhirannya.

 
EDITOR: Setyo Adi Nugroho