← Beranda
6 Jenis Teman Toxic yang Harus Kamu Waspadai Menurut Psikologi
Intan PuspitasariJumat, 26 September 2025 | 14.05 WIB
6 Jenis Teman Toxic yang Harus Kamu Waspadai Menurut Psikologi (Freepik)

JawaPos.com - Pernahkah kamu merasa lelah setelah berinteraksi dengan seorang teman? Atau mulai bertanya-tanya apakah sahabatmu benar-benar tulus atau justru merugikanmu?

Persahabatan seharusnya menjadi tempat untuk saling mendukung, tetapi tidak semua hubungan berjalan sehat.

Dalam dunia psikologi, ada istilah toxic friends atau teman toxic, yaitu orang-orang yang justru menguras energi, menjatuhkan, bahkan merusak rasa percaya diri kita.

Bayangkan lingkaran sosialmu seperti sebuah taman. Terkadang ada “gulma” yang menyamar sebagai bunga indah.

Mereka terlihat baik di awal, tetapi perlahan menyerap energi positif sampai akhirnya membuat tamanmu layu.

Jika tidak disadari sejak dini, teman toxic bisa membuat kita terjebak dalam lingkaran yang melelahkan secara emosional.

Baca Juga: Cara Menghadapi Teman Palsu, Panduan Agar Hidup Lebih Tenang dan Sehat

Pada salah satu video dari kanal youtube psikologi populer yakni Psych2go dijelaskan bahwa beruntungnya, para ahli psikologi telah mengidentifikasi pola-pola umum yang bisa membantu kita mengenali tipe teman toxic sejak awal.

Berikut adalah 6 jenis teman toxic yang paling sering ditemui dan mengapa mereka berbahaya.

1. Si Tukang Gosip

Awalnya seru ketika merasa menjadi bagian dari “inner circle” dengan informasi terbaru. Namun, lama-kelamaan kamu mulai bertanya: kalau mereka selalu membicarakan orang lain, apa mereka juga membicarakanmu di belakang?

Tukang gosip menjadikan kehidupan pribadi orang lain sebagai bahan cerita. Padahal, teman sejati akan menjaga rahasia, bukan menjadikannya hiburan.

2. Si Tidak Konsisten (Flaky Friend)

Baca Juga: Pemain Muda Chichester City Meninggal Usai Cedera Kepala Parah, Ini Perjalanan Karier Billy Vigar Bersama Arsenal

Pernah ditinggal menunggu karena janji dibatalkan mendadak? Atau rencana bertemu selalu gagal karena mereka lupa?

Itulah ciri teman yang tidak konsisten. Sekilas terlihat sepele, tapi jika terjadi terus-menerus, hal ini bisa membuatmu merasa tidak penting dalam persahabatan. Seiring waktu, rasa percaya pun terkikis.

3. Si Pesaing Terselubung (Underminer)

Alih-alih mendukung, mereka menjadikan persahabatan sebagai arena kompetisi. Saat kamu berhasil, mereka meremehkan pencapaianmu.

Saat kamu kesulitan, mereka mengklaim masalah mereka lebih berat. Persahabatan yang sehat seharusnya saling memberi semangat, bukan membuatmu merasa kalah setiap saat.

4. Si Manipulator Ulung (Master Manipulator)

Inilah tipe yang paling berbahaya. Di awal, mereka tampak menawan dan suportif, seolah memahami kamu lebih dari siapa pun. Namun perlahan, mereka mulai menarik “benang” tak terlihat dan melakukan hal-hal seperti:

  1. Menggunakan guilt-tripping atau membuatmu merasa bersalah.

  2. Gaslighting, yaitu memanipulasi emosimu agar ragu pada dirimu sendiri.

  3. Mengisolasi dari teman lain agar kamu lebih bergantung pada mereka.

  4. Menggunakan kebaikan sebagai senjata, memberi sesuatu lalu menagih dengan kalimat, “Aku sudah melakukan ini, masa kamu enggak balas budi?”

Hubungan seperti ini sangat melelahkan karena kamu dikendalikan tanpa sadar.

5. Si Penyedot Energi (Energy Vampire)

Setiap kali bertemu, bukannya bahagia malah merasa kelelahan. Semua obrolan hanya tentang masalah mereka, tanpa peduli bagaimana kabarmu. Mereka menjadikanmu “tempat sampah emosional”, melepaskan beban pada dirimu, lalu pergi dengan lega, sementara kamu ditinggalkan dengan energi terkuras.

6. Si Korban (The Victim)

Hampir mirip dengan energy vampire, tetapi yang satu ini selalu berperan sebagai korban. Tidak peduli situasi apa pun, mereka tidak pernah bertanggung jawab. Semua salah orang lain, semua masalah lebih berat dari milikmu. Setiap saranmu ditolak karena sebenarnya mereka tidak ingin solusi, hanya ingin simpati. Lama-lama, kamu jadi seperti terikat dalam peran konselor gratis yang tidak pernah dihargai.

Sebagai penutup, sekali lagi tidak semua teman toxic terlihat jelas sejak awal. Ada yang berubah seiring waktu, ada juga yang baru memperlihatkan wajah aslinya setelah lama dekat denganmu. Karena itu, penting untuk selalu jujur pada diri sendiri: apakah persahabatan ini membuat hidupmu lebih baik atau justru melelahkan?

Jika jawabannya yang kedua, mungkin sudah saatnya pergi dan memberi ruang hanya untuk hubungan yang sehat. Teman sejati tidak menguras energi, melainkan memberi dukungan, kebahagiaan, dan rasa aman.

Ingat, kualitas jauh lebih penting daripada kuantitas. Lebih baik punya satu teman tulus yang selalu ada di sisi, daripada sepuluh teman toxic yang merusak kesehatan mentalmu. Dengan mengenali tanda-tanda ini, kamu bisa lebih selektif dalam menjaga lingkaran sosial dan memastikan hidupmu tetap penuh energi positif.

EDITOR: Hanny Suwindari