← Beranda
Mengapa Kita Suka Belanja Saat Stres? Psikologi di Balik Retail Therapy dan Cara Mengatasinya
Aria Maulana SatriyoKamis, 25 September 2025 | 17.53 WIB
Ilustrasi retail therapy./Freepik.

JawaPos.com – Mengapa kita suka belanja dikala stres adalah pertanyaan yang sering muncul ketika melihat orang (atau bahkan diri sendiri) tiba-tiba checkout keranjang penuh barang setelah hari yang melelahkan. 

Belanja memang sering dianggap cara instan untuk menghibur diri, memberi rasa lega, atau sekadar melupakan masalah sejenak.

Fenomena ini ternyata bukan hal sepele. Data menunjukkan sekitar 74% orang pernah melakukan “stress shopping”, dan 40% di antaranya mengaku berbelanja untuk menenangkan diri. 

Menariknya, generasi muda (16–24 tahun) lebih rentan dengan angka mencapai 62%, dan perempuan 12% lebih mungkin melakukannya dibanding pria. 

Bahkan, penelitian menemukan sekitar 6% populasi AS mengalami compulsive buying disorder, dengan hampir 90% kasus dialami perempuan. 

Kondisi ini tidak hanya soal kebiasaan konsumtif, tapi juga terkait dengan depresi, kecemasan, hingga gangguan kesehatan mental lainnya.

Lalu, apa yang sebenarnya membuat kita terdorong untuk belanja saat stres, dan apa dampak psikologis di baliknya?

Simak penjelasannya berikut ini yang dilansir dari HCL Healthcare dan New York Post.

Baca Juga: 5 Kebiasaan yang Dilakukan Wisatawan Tanpa Sadar Terlihat Berbeda di Luar Negeri

Mengapa Kita Suka Belanja Saat Stres?

Belanja sering dianggap sebagai “obat instan” ketika hati sedang tidak tenang. 

Setelah menghadapi tekanan kerja, masalah keuangan, atau bahkan sekadar bad mood, tak sedikit orang yang tiba-tiba checkout keranjang online. 

Fenomena ini dikenal sebagai retail therapy, dan di baliknya ada alasan psikologis yang cukup dalam.

Menurut survei, lebih dari 50% orang pernah belanja impulsif untuk mengatasi stres, cemas, atau depresi. Sayangnya, 8 dari 10 orang kemudian menyesal setelahnya. 

Di Indonesia sendiri, budaya “healing” lewat belanja online semakin terasa, terutama sejak pandemi dan maraknya e-commerce dengan promo harian. 

Pertanyaannya, mengapa belanja bisa terasa menenangkan?

Baca Juga: Kenapa Banyak Orang Sulit Belajar di Malam Hari? Fakta Ilmiah tentang Tidur, Memori, dan Risiko Begadang

1. Dopamin yang Membuat Kita “Ketagihan” 

Saat berbelanja, otak melepaskan dopamin atau zat kimia yang menimbulkan rasa senang. 

Inilah mengapa membeli sesuatu bisa membuat kita merasa lebih bahagia, walau hanya sementara. 

Sama seperti makan comfort food atau menonton film favorit, belanja memberi “reward” instan yang menenangkan pikiran. 

Masalahnya, efek ini cepat hilang, sehingga muncul keinginan untuk mengulanginya lagi dan lagi.

2. Rasa Kendali di Tengah Kekacauan 

Hidup sering kali penuh ketidakpastian, dan belanja bisa menjadi cara untuk memulihkan rasa kendali. 

Dengan memutuskan barang apa yang akan dibeli, kita merasa memiliki kuasa atas sesuatu di saat aspek lain terasa tidak bisa diatur. 

Misalnya, setelah hari kerja yang berat, membeli sepatu baru bisa terasa seperti pencapaian kecil yang memberi kepuasan tersendiri.

3. Visualisasi Masa Depan yang Lebih Cerah 

Saat memilih barang, sering kali kita membayangkan hasil positif dari pembelian tersebut. 

Sebagai contoh membeli pakaian baru akan membuat lebih percaya diri dan gadget baru akan membuat hidup lebih produktif. 

Proses membayangkan ini saja sudah bisa mengurangi kecemasan, meski kenyataannya tidak selalu sesuai ekspektasi.

4. Distraksi yang Menyenangkan dari Emosi Negatif 

Belanja juga berfungsi sebagai distraksi. Alih-alih memikirkan masalah, kita fokus mencari promo, memilih warna, atau menunggu paket datang. 

Aktivitas ini mengalihkan perhatian dari rasa sedih, kesepian, atau stres. Namun, begitu selesai, emosi negatif itu bisa kembali, bahkan lebih kuat karena muncul penyesalan.

5. Belanja sebagai Pelarian dari Stres dan Kesepian 

Banyak orang mengaku belanja membantu mereka melupakan perasaan negatif, entah itu kecemasan, rasa hampa, atau kesepian. 

Aktivitas ini terasa seperti “teman” yang memberikan hiburan cepat. Tetapi, sama seperti pelarian lainnya, dampaknya sementara dan sering meninggalkan masalah baru.

6. Efek Jangka Panjang: Utang dan Stres Baru

Sayangnya, rasa lega dari stress shopping hanya sesaat. Setelah itu, banyak orang justru menghadapi masalah finansial yang lebih berat. 

Utang kartu kredit, uang tabungan yang menipis, hingga rasa menyesal menjadi konsekuensi nyata. Siklus ini akhirnya menciptakan stres baru, membuat lingkaran setan yang sulit diputus.

7. Hubungan dengan Kesehatan Mental

Banyak penelitian menunjukkan bahwa perilaku ini sering kali berakar pada tantangan kesehatan mental yang lebih kompleks. 

Misalnya, pada orang dengan kecemasan, aktivitas berbelanja bisa terasa seperti cara untuk mengalihkan pikiran sekaligus menciptakan ilusi kontrol. 

Saat hidup terasa kacau, memilih barang atau memutuskan apa yang akan dibeli menghadirkan sensasi kuasa yang menenangkan.

Bagi mereka yang mengalami depresi, belanja bisa menjadi momen singkat yang memberi secercah “cahaya” di hari-hari gelap. 

Ada rasa bahagia yang nyata saat membeli sesuatu, meskipun kebahagiaan itu hanya bertahan sebentar dan sering kali diikuti rasa bersalah atau penyesalan. 

Hal serupa juga terjadi pada orang dengan harga diri rendah. 

Membeli pakaian baru, gadget, atau produk kecantikan kerap dianggap sebagai cara memperbaiki citra diri, seolah-olah barang tersebut dapat menambal kekurangan yang dirasakan dalam diri.

Selain itu, stres berat atau pengalaman traumatis pun sering mendorong seseorang menjadikan belanja sebagai mekanisme coping. 

Aktivitas membeli barang memang mampu memberi distraksi dari rasa sakit emosional, namun tidak benar-benar menyelesaikan akar masalah.

Akhir Kata

Belanja memang bisa memberi rasa lega sesaat, tetapi jika menjadi pelarian utama saat stres, dampaknya justru bisa memperburuk keadaan finansial maupun mental. 

Psikolog Judith Miller Burke mengingatkan, langkah pertama adalah mengenali pemicu stres kita. 

Apakah karena tekanan di kantor, konflik rumah tangga, atau hal lain? Dengan memahami sumbernya, kita bisa mencari solusi yang lebih sehat dan ramah di dompet.

Beberapa orang menemukan caranya lewat aktivitas fisik, seperti berjalan kaki, hiking, atau olahraga ringan. 

Ada juga yang memilih membaca, menulis, atau sekadar berbicara dengan teman dekat untuk menyalurkan emosi. 

Prinsipnya, cari distraksi yang membangun, bukan yang menambah beban.

Selain itu, praktik slow buy juga bisa membantu. Jangan langsung membeli saat tergoda, beri jeda waktu untuk mengevaluasi apakah kebutuhan itu nyata atau hanya dorongan karena stres. 

Jika pada akhirnya tetap membeli, simpan struk belanja agar masih ada pilihan untuk mengembalikannya. 

Cara sederhana ini bisa menjadi “rem darurat” agar kita tidak terjebak lebih jauh dalam lingkaran stres dan pengeluaran berlebihan.

Akhirnya, menyadari pola belanja saat stres bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah awal menuju kontrol diri yang lebih baik. 

Dengan strategi yang tepat, kita tetap bisa menikmati belanja, tanpa harus mengorbankan kesehatan mental maupun masa depan finansial.

EDITOR: Hanny Suwindari