← Beranda
Mengapa Ada Orang yang Mudah Jatuh Cinta? Mengenal Emophilia, Fenomena Psikologi yang Bisa Bikin Hubungan Rumit
Aria Maulana SatriyoRabu, 24 September 2025 | 00.52 WIB
Ilustrasi seseorang yang jatuh cinta terlalu cepat

JawaPos.com – Mengapa seseorang dapat jatuh cinta dengan cepat sering menjadi pertanyaan yang muncul ketika kita melihat orang yang baru kenal sebentar, tapi sudah merasa “klik” seolah dunia berputar lebih indah. 

Fenomena ini tak hanya kisah di film romansa, tetapi nyata dialami banyak orang. 

Dalam psikologi, hal ini bahkan memiliki istilah khusus, salah satunya dikenal sebagai emophilia. 

Baca Juga: Psikologi Ungkap Alasan Orang Gampang Jatuh Cinta Cepat, Ternyata Bukan Hanya Soal Perasaan

Emophilia adalah kecenderungan seseorang untuk mudah jatuh cinta dan sering kali terlibat dalam hubungan berulang.

Menariknya, sebuah riset lintas 33 negara terhadap 808 orang muda berusia 18–25 tahun menemukan bahwa pria rata-rata jatuh cinta lebih cepat dibandingkan wanita. 

Pria membutuhkan waktu sekitar 0,98 bulan (kurang dari sebulan) untuk merasakan cinta, sementara wanita butuh hampir dua kali lipatnya, yakni 1,92 bulan. 

Baca Juga: Selalu Jatuh Cinta Terlalu Cepat, 3 Zodiak yang Jatuh Cinta Pada Pandangan Pertama

Para peneliti menafsirkan perbedaan ini bisa jadi terkait faktor evolusi maupun sosial. 

Pria secara historis perlu menunjukkan komitmen lebih awal agar dapat menarik pasangan. 

Namun, meskipun pria lebih cepat dan lebih sering jatuh cinta (2,6 kali vs. 2,3 kali), mereka justru cenderung kurang intens secara emosional. 

Sangat berbeda dan tidak sedalam wanita dalam hal komitmen maupun pikiran obsesif tentang pasangan.

Fenomena ini membuka ruang diskusi menarik. Apakah mudah jatuh cinta menandakan kepribadian tertentu, atau justru sebuah kerentanan emosional yang perlu dikenali lebih dalam?

Simak penjelasannya berikut yang dilansir dari Verywell Mind dan Therapy Tips.

Ciri-Ciri Orang dengan Emophilia

Fenomena emophilia bukan sekadar “baper berlebihan”, tetapi sebuah kecenderungan psikologis di mana seseorang bisa jatuh cinta terlalu cepat dan terlalu sering. 

Berikut adalah beberapa tanda yang paling umum:

1. Mudah Merasa “Dia adalah The One”

Orang dengan emophilia sering merasakan sensasi jatuh cinta seolah-olah sudah menemukan belahan jiwa, bahkan sebelum benar-benar mengenal orang tersebut. 

Rasa klik ini datang cepat dan intens, meski hubungan masih seumur jagung. 

Akibatnya, mereka bisa berulang kali berpindah dari satu pasangan ke pasangan lain dengan keyakinan yang sama.

2. Terlalu Cepat Melekat Secara Emosional

Menurut Dr. Patrice Le Goy, tanda utama emophilia adalah ketika seseorang langsung melekat secara emosional pada pasangan sebelum ada bukti nyata bahwa orang tersebut layak mendapatkannya. 

Dalam praktiknya, mereka bisa menunjukkan komitmen, perhatian, atau bahkan ketergantungan emosional jauh lebih awal daripada yang dianggap sehat dalam sebuah hubungan.

3. Mengabaikan Tanda Bahaya atau Red Flags

Karena lebih fokus pada perasaan jatuh cinta dibandingkan mengenal siapa sebenarnya pasangan mereka, orang dengan emophilia rentan mengabaikan tanda-tanda bahaya. 

Misalnya, sikap manipulatif, sifat egois, atau bahkan kecenderungan narsistik pasangan sering kali tidak disadari. 

Hal ini bisa berisiko membuat mereka terjebak dalam hubungan yang tidak sehat atau bahkan berbahaya.

4. Lebih Rentan Mengambil Keputusan Berisiko

Rasa yakin berlebihan bahwa “hubungan ini akan langgeng selamanya” dapat mendorong perilaku berisiko, seperti berhubungan seksual tanpa perlindungan sejak awal hubungan. 

Dorongan emosional yang kuat membuat mereka merasa aman dan percaya, padahal belum tentu pasangan tersebut benar-benar bisa dipercaya.

5. Obsesi pada Perasaan Jatuh Cinta Itu Sendiri

Orang dengan emophilia sering kali lebih terpikat pada sensasi jatuh cinta dibandingkan sosok orang yang dicintai. 

Dengan kata lain, yang mereka kejar bukan hanya individu, tetapi juga perasaan intens yang datang saat hubungan baru dimulai. 

Obsesi pada perasaan berbunga-bunga ini bisa menutup mata dari realitas hubungan jangka panjang.

Mengapa Seseorang Bisa Mengalami Emophilia?

Emophilia, atau kecenderungan untuk jatuh cinta terlalu cepat dan terlalu sering, tidak memiliki satu penyebab tunggal yang pasti. 

Para peneliti masih berusaha memahami mengapa sebagian orang begitu mudah merasakan getaran cinta yang intens hanya dalam waktu singkat. 

Namun, ada sejumlah teori menarik yang bisa membantu kita memahami fenomena ini.

Dari sisi biologis, emophilia kemungkinan berkaitan dengan kerja hormon otak. 

Dr. Patrice Le Goy menjelaskan bahwa kondisi ini bisa terhubung dengan ketidakseimbangan hormon “feel good” seperti dopamin dan serotonin. 

Kedua hormon ini berperan penting dalam menciptakan rasa bahagia, euforia, dan dorongan untuk terus mengejar pengalaman yang menyenangkan. 

Tak heran jika orang dengan emophilia kerap mencari kembali sensasi “jatuh cinta pertama” yang memabukkan, bahkan ketika hubungannya belum tentu sehat atau berkelanjutan.

Selain itu, peneliti Daniel N. Jones juga mengaitkan emophilia dengan sensitivitas terhadap oksitosin, hormon yang berhubungan dengan ikatan emosional dan rasa percaya. 

Individu dengan respons otak yang lebih peka terhadap hormon ini bisa jadi lebih cepat merasa dekat dan terikat pada pasangan baru. 

Dari perspektif evolusi, ada spekulasi bahwa emophilia mungkin pernah memberi keuntungan. 

Misalnya dengan memfasilitasi hubungan dengan banyak pasangan dan memperluas peluang reproduksi. 

Meski begitu, teori ini masih bersifat spekulatif dan belum ada bukti empiris yang kuat.

Menariknya, emophilia juga sering dibandingkan dengan anxious attachment style atau gaya keterikatan cemas. 

Bedanya, anxious attachment biasanya muncul dari rasa takut ditinggalkan dan kebutuhan akan kepastian, sedangkan emophilia lebih didorong oleh rasa ingin dan kegembiraan emosional. 

Namun, keduanya bisa menghasilkan pola yang mirip yaitu sering menjalin hubungan baru dengan cepat dan jarang berada dalam kondisi lajang.

Beberapa riset terbaru bahkan menemukan kaitan antara emophilia dan Dark Triad atau kombinasi sifat narsisme, Machiavellianisme, dan psikopati. 

Meski tidak semua orang dengan emophilia memiliki kepribadian tersebut, penelitian menunjukkan adanya tumpang tindih tertentu. 

Bisa jadi, orang dengan emophilia tertarik pada pasangan yang memiliki sifat dominan atau manipulatif karena terbawa oleh intensitas emosi, bukan logika.

Pada akhirnya, emophilia tampaknya berada dalam sebuah spektrum. Ada yang mengalaminya dalam bentuk ringan, sekadar sering jatuh cinta dan cepat move on. 

Namun, ada pula yang merasakannya dalam bentuk ekstrem hingga berisiko merusak kesehatan emosional dan membuat mereka terjebak dalam hubungan yang tidak sehat. 

Dengan kata lain, meskipun sains belum memberikan jawaban final, kita sudah tahu bahwa gabungan faktor biologis, kepribadian, dan pengalaman hidup bisa berperan besar dalam munculnya fenomena ini.

Dampak Emophilia pada Hubungan Romantis

Seperti yang bisa diduga, emophilia tidak selalu membawa kabar baik bagi kehidupan cinta. 

Orang dengan kecenderungan ini sering kali melompat dari satu hubungan ke hubungan lain dalam waktu yang singkat. 

Di awal, ledakan hormon bahagia membuat hubungan terasa sangat intens dan penuh gairah.

Namun, sensasi ini biasanya tidak bertahan lama, sehingga sulit dijadikan pondasi hubungan jangka panjang.

Masalahnya, keputusan untuk jatuh cinta sering terjadi terlalu cepat, sebelum ada waktu untuk benar-benar mengenal pasangan. 

Akibatnya, risiko terjebak dalam hubungan dengan orang yang tidak cocok—atau bahkan memiliki sifat toksik—menjadi lebih besar. 

Dr. Patrice Le Goy menegaskan bahwa mereka yang mengalami emophilia bisa saja berakhir dengan pasangan yang narsistik atau egois, hanya karena tergoda pada versi ideal yang mereka bayangkan, bukan pada realitas pasangan tersebut.

Selain memengaruhi kualitas, emophilia juga berdampak pada durasi hubungan. 

Ada yang kandas terlalu cepat karena tidak tahan dengan penurunan intensitas, ada pula yang bertahan terlalu lama meski jelas-jelas tidak sehat, hanya karena sulit melepaskan diri dari ikatan emosional yang sudah terbentuk. 

Dalam kedua kasus, kedalaman hubungan sering kali tidak pernah tercapai. 

Hubungan berjalan dalam ilusi koneksi instan, tetapi kehilangan ruang untuk membangun keaslian, kepercayaan, dan komitmen yang sejati.

Jika pola ini terus berlanjut tanpa disadari atau diatasi, seseorang dengan emophilia bisa terjebak dalam lingkaran berulang.

Berkali-kali jatuh cinta, terjebak dalam hubungan yang dangkal atau bahkan merugikan, pada akhirnya membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk merasakan hubungan yang sehat, stabil, dan penuh makna dengan orang yang benar-benar sejalan dengannya. (Aria Maulana Satriyo)

EDITOR: Setyo Adi Nugroho