JawaPos.com – Pernahkah Anda merasa tidak sepenuhnya cocok dengan kelompok mana pun, meskipun tetap bisa berhubungan baik dengan orang lain secara personal?
Fenomena inilah yang kini mulai dikenal dengan istilah keperibadian otrovert.
Berbeda dengan introvert maupun ekstrovert, otrovert menggambarkan individu yang nyaman hidup di luar arus mayoritas, tanpa merasa perlu beradaptasi dengan norma kelompok.
Menariknya, konsep otrovert ini punya kaitan erat dengan teori lama dalam filsafat dan ilmu sosial, yaitu otherness atau “keberlainan”.
Dalam teori tersebut, identitas seseorang sering dipahami dengan membedakan diri dari “yang lain”.
Bedanya, jika otherness kerap dipandang sebagai label yang diberikan dari luar, otrovert justru menginternalisasikan perbedaan itu sebagai bagian dari identitas pribadi.
Dengan memahami hubungan antara otrovert dan otherness, kita bisa melihat bahwa menjadi “berbeda” bukanlah sebuah kelemahan.
Justru di sanalah muncul ruang untuk orisinalitas, kemandirian, dan cara pandang yang lebih segar terhadap dunia.
Mungkin kalian bertanya-tanya: otrovert dan other? Apa hubungannya? Nah lebih lanjut, simak penjelasan berikut yang dilansir dari Institute for The Future Of Education, Other Sociologist dan The Otherness Institute.
1. Apa Itu Otrovert?
Istilah otrovert pertama kali diperkenalkan oleh psikiater Dr. Rami Kaminski, diambil dari kata “otro” dalam bahasa Spanyol yang berarti “lain” atau “other”.
Berbeda dengan introvert dan ekstrovert yang biasanya dikategorikan berdasarkan cara mereka berinteraksi dengan kelompok sosial, otrovert justru tidak merasakan keterikatan pada kelompok mana pun.
Mereka cenderung mandiri secara emosional, lebih suka berpikir dengan caranya sendiri, dan merasa lebih hidup dalam percakapan mendalam dua arah ketimbang dalam dinamika kelompok besar.
Baca Juga: Resep Sayur Bening Bayam Sederhana, Cocok Jadi Menu Harian Bergizi
Secara luar, otrovert sering tampak sopan, ramah, bahkan karismatik.
Namun di balik itu, mereka tidak tertarik pada basa-basi, tren populer, atau kebutuhan untuk menjadi pusat perhatian.
Alih-alih mencari validasi dari orang banyak, mereka merangkul individualitasnya.
Tidak heran jika otrovert sering dianggap sebagai pengamat atau pemikir orisinal yang lebih nyaman menempuh jalannya sendiri.
2. Memahami Konsep Otherness
Dalam kajian sosiologi dan filsafat, istilah otherness atau “keberlainan” menggambarkan bagaimana identitas sosial terbentuk.
Sejak awal, manusia adalah makhluk sosial yang membangun kelompok demi bertahan hidup. Dari sini muncul batas antara “kami” dan “mereka” (other).
Identitas tidak hanya ditentukan oleh siapa diri kita, tetapi juga oleh siapa yang dianggap berbeda.
Profesor Fred Dervin dari University of Helsinki menjelaskan bahwa identitas personal seseorang sering kali menjadi alasan mengapa pada level sosial ia dilabeli sebagai the other.
Artinya, otherness bukan sekadar perbedaan, melainkan proses sosial, psikologis, dan kultural yang membuat suatu kelompok merasa utuh dengan cara menegaskan perbedaan dari kelompok lain.
Zuleyka Zevallos, sosiolog dari Australia, menambahkan bahwa keanggotaan sebuah kelompok ibarat masuk klub eksklusif.
Harus ada kriteria tertentu untuk menjadi bagian, dan siapa pun yang tidak memenuhi syarat otomatis berada di luar.
Konsep ini bisa berdampak ganda. Di satu sisi, otherness membuka ruang dialog tentang keragaman dan bagaimana perbedaan dapat dipandang sebagai peluang belajar dan saling melengkapi.
Namun, di sisi lain, otherness juga menjadi dasar diskriminasi dan fenomena apartheid.
Sejarah mencatat, pembedaan antara “kami” dan “mereka” kerap berubah menjadi hierarki sosial, penindasan, bahkan konflik antar kelompok.
Dengan kata lain, otherness adalah kunci untuk memahami akar ketidaksetaraan maupun eksklusi dalam masyarakat.
Di sinilah kaitannya dengan fenomena otrovert. Jika otherness umumnya dilekatkan dari luar—dilabeli oleh kelompok mayoritas—otrovert justru menghidupi keberlainan itu dari dalam dirinya.
Mereka tidak menolak relasi personal, tetapi juga tidak merasa perlu larut dalam identitas kelompok.
Dengan merangkul posisinya sebagai “yang lain”, otrovert menunjukkan bahwa keberlainan bisa menjadi sumber orisinalitas, kebebasan, sekaligus cara pandang segar terhadap dunia sosial.
3. Dari “Kita vs. Mereka” ke Identitas yang Dipilih
Konsep otherness dalam teori sosial biasanya dipahami sebagai cara sebuah kelompok membentuk identitas dengan menandai siapa yang “kita” dan siapa yang “lain”.
Selama ini, label “yang lain” kerap lahir dari luar diri individu, seolah masyarakatlah yang menentukan siapa yang pantas masuk lingkaran dan siapa yang berada di pinggir.
Tetapi ketika bicara tentang otrovert, otherness tidak lagi hanya dipaksakan dari luar ia justru dihayati sebagai bagian dari identitas yang dipilih.
Otrovert memang tidak merasa perlu melebur dalam kelompok mana pun. Mereka nyaman berdiri di posisi “lain” karena di situlah mereka merasa paling otentik.
Ini membuat hubungan mereka dengan otherness berbeda. Bukan sekadar korban pengkategorian sosial, melainkan individu yang secara sadar merawat keberlainan itu sebagai fondasi jati dirinya.
4. Empati Personal vs. Keterasingan Kolektif
Ada paradoks menarik yang muncul. Seorang otrovert bisa sangat hangat, penuh empati, bahkan cepat dekat bila berbicara secara personal dengan seseorang.
Namun, begitu berada dalam kelompok besar, dinamika sosial justru terasa asing.
Mereka lebih mudah lelah mengikuti arus obrolan kelompok, karena kebutuhan mereka bukanlah validasi sosial, melainkan ruang untuk berpikir dengan cara sendiri.
Secara psikologis, ini menggambarkan program sosial yang berbeda seperti kepekaan interpersonal tinggi, tetapi dorongan untuk berafiliasi rendah.
Bagi sebagian orang, ini bisa tampak aneh, bahkan membuat otrovert disalahpahami sebagai “dingin” atau “antisosial”.
Padahal, kenyataannya mereka justru mampu membangun relasi mendalam hanya saja tidak dengan cara konvensional yang menuntut keterlibatan di banyak lingkaran sekaligus.
5. Otherness dan Otrovert dalam Struktur Sosial
Dalam teori sosial, otherness sering dikaitkan dengan marginalisasi: kelompok dominan menyingkirkan yang berbeda.
Pada otrovert, situasinya lebih halus dan tak terlihat di mata banyak orang.
Mereka memang tidak secara eksplisit ditindas, tetapi sering dihadapkan pada ekspektasi bahwa “normalnya manusia” adalah ingin berkelompok.
Ketika ekspektasi ini tidak bisa mereka penuhi, muncullah rasa asing—bukan karena ditolak, tetapi karena ritme hidupnya tidak selaras dengan mayoritas.
Di titik ini, otrovert mengalami ketegangan ganda. Pada satu sisi, mereka ingin mempertahankan otonomi dan orisinalitas.
Di sisi lain, mereka tetap hidup dalam masyarakat yang dibentuk oleh aturan kolektif.
Relasi ini membuat otrovert sering dianggap “berbeda” atau “aneh”, padahal yang sebenarnya terjadi adalah cara mereka memaknai kebersamaan tidak sama dengan kebanyakan orang.
6. Kenapa Penting untuk Dipahami
Melihat otrovert lewat kacamata otherness memberi kita perspektif baru. Selama ini, diskusi soal kepribadian sering hanya berhenti pada dikotomi introvert vs. ekstrovert atau mungkin Ambivert.
Dengan munculnya istilah otrovert, kita diajak memahami bahwa ada cara lain menjadi manusia.
Seseorang bisa ramah, empatik, dan berfungsi sosial, tetapi tetap memilih untuk tidak melebur dalam identitas kolektif.
Pemahaman ini juga penting secara praktis. Dalam pekerjaan, misalnya, otrovert lebih produktif bila diberi ruang otonom ketimbang dipaksa terus-menerus bekerja dalam kelompok besar.
Dalam relasi personal, mereka lebih menghargai kedekatan mendalam ketimbang sekadar ikut kumpul ramai-ramai.
Dalam kesehatan mental, penting untuk membedakan antara pilihan identitas dengan gangguan sebab keberlainan sosial bukan selalu tanda patologi.
Akhir Kata
Otrovert pada akhirnya memberi kita cermin baru tentang bagaimana manusia bisa berada di luar kerangka “kita” dan “mereka” tanpa merasa terasing dari dirinya sendiri.
Mereka hidup dalam keseimbangan unik dengan tetap hangat secara personal, tapi tidak pernah sepenuhnya larut dalam kolektivitas.
Di sinilah keterhubungan dengan konsep otherness menemukan bentuk nyatanya sebuah keberlainan yang bukan beban, melainkan identitas yang dipilih dan dijalani.
Dengan memahami hal ini, kita bisa melihat bahwa berbeda bukan berarti salah, dan tidak mengikuti arus bukan berarti menolak dunia.
Justru dari posisi “lain” inilah sering lahir perspektif segar, ide orisinal, dan cara pandang baru yang memperkaya kehidupan bersama.