← Beranda
7 Kepribadian Berkualitas Orang yang Masih Mencatat dengan Pena dan Kertas, Kata Psikologi
Mohammad Maulana IqbalSenin, 22 September 2025 | 06.24 WIB
kepribadian berkualitas orang yang masih mencatat dengan pena dan kertas kata psikologi./Freepik.

JawaPos.com – Di era digital yang serba cepat, ada sebagian orang yang masih setia mencatat dengan pena dan kertas sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari.

Pilihan sederhana ini kerap dianggap mencerminkan kepribadian berkualitas yang berbeda dibandingkan mereka yang sepenuhnya bergantung pada teknologi.

Dalam pandangan psikologi, kebiasaan mencatat manual menghadirkan kedekatan emosional dengan tulisan serta meningkatkan daya ingat dan fokus.

Di balik goresan pena di atas kertas, tersimpan nilai disiplin, kesabaran, dan refleksi diri yang menjadikan karakter seseorang semakin menonjol.

Keterhubungan antara kepribadian, berkualitas, mencatat, psikologi, pena, dan kertas membuat kebiasaan ini tetap relevan meski zaman terus berubah.

Baca Juga: 5 Alasan Kebanyakan Orang Milih Curhat ke ChatGPT daripada ke Manusia

Dilansir dari geediting.com pada Minggu (21/9), bahwa ada tujuh ciri kepribadian berkualitas orang yang masih mencatat dengan pena dan kertas menurut psikologi.

  1. Mengutamakan kedalaman dibanding kecepatan

Mengetik memang lebih cepat, namun menulis tangan memaksa kamu untuk lebih selektif dalam memilih kata dan kalimat.

Kecepatan yang lebih lambat ini justru memberikan waktu bagi otak untuk memproses informasi secara lebih mendalam.

Ketika menulis tangan, kamu tidak hanya menyalin kata-kata tetapi juga merangkum, mengubah kalimat, dan menghubungkannya dengan pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya.

Penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang menulis tangan lebih unggul dalam menjawab pertanyaan konseptual dibanding mereka yang mengetik di laptop.

Meskipun pengguna laptop berhasil menangkap lebih banyak kata, mereka cenderung menyalin secara verbatim tanpa memahami makna.

Sebaliknya, penulis tangan lebih fokus pada esensi dan mampu menjelaskan ide dengan lebih baik di kemudian hari.

Baca Juga: Duet Cristiano Ronaldo dan Joao Felix Bawa Al-Nassr Raih Kemenangan Besar atas Al-Riyadh dengan Skor 5-1

  1. Melindungi fokus perhatian dengan efektif

Laptop mengundang multitasking yang dapat mengganggu konsentrasi, sementara buku tulis tidak memberikan notifikasi yang mengganggu.

Sebuah studi di ruang kelas menunjukkan bahwa mahasiswa yang menggunakan laptop untuk multitasking memperoleh nilai lebih rendah dalam tes pemahaman.

Yang lebih mengkhawatirkan, gangguan perhatian ini ternyata menular kepada mahasiswa lain di sekitarnya yang juga ikut terganggu.

Buku tulis memberikan batasan alami yang membosankan namun sangat efektif untuk menjaga fokus pada tugas utama.

Dengan menulis tangan, kamu secara tidak langsung menciptakan lingkungan bebas gangguan yang memungkinkan memori kerja berkonsentrasi penuh pada proses berpikir.

Kebiasaan ini menunjukkan bahwa kamu menghargai single-tasking dan mampu menciptakan pagar pembatas untuk melawan godaan.

  1. Berpikir secara visual dan spasial

Menulis tangan memudahkan kamu untuk membuat margin, panah, kotak, dan coretan kecil yang berfungsi sebagai jangkar visual untuk membantu ide "menempel" di ingatan.

Hal ini sejalan dengan teori dual-coding yang menyatakan bahwa informasi dikodekan dalam sistem verbal dan visual, dan penggabungan keduanya meningkatkan daya ingat.

Bukti kuat menunjukkan bahwa peta konsep dan pengorganisasi visual lainnya memberikan keuntungan belajar yang dapat diandalkan di berbagai usia dan mata pelajaran.

Meta-analisis menemukan bahwa belajar dengan diagram node-link yang menunjukkan hubungan antar ide menghasilkan peningkatan pembelajaran yang signifikan.

Bahkan sketsa sederhana saat menulis tangan dapat meningkatkan daya ingat dibanding hanya menulis saja, fenomena yang dikenal sebagai drawing effect.

Jika kamu secara alami mengubah poin-poin menjadi kotak dan garis, itu bukan "tambahan" tetapi strategi cerdas.

  1. Menjadi pembelajar generatif yang aktif

Orang mengingat informasi dengan lebih baik ketika mereka menghasilkannya sendiri daripada hanya membaca secara pasif.

Ini disebut generation effect, temuan yang kuat sejak tahun 1970-an yang menunjukkan bahwa memproduksi jawaban, contoh, atau frasa memperkuat memori lebih dari sekadar membaca.

Menulis tangan mendorong generasi karena kamu terus-menerus memutuskan apa yang akan ditulis dan bagaimana merumuskannya.

Konsep terkait yang powerful adalah self-explanation, yaitu berhenti sejenak untuk mengungkapkan ide dengan kata-kata sendiri.

Eksperimen menunjukkan bahwa mendorong pembelajar untuk menjelaskan sendiri meningkatkan pemahaman di berbagai domain, tidak hanya pemecahan masalah.

Kebiasaan ini menunjukkan bahwa kamu tidak menyalin informasi melainkan menyusunnya, membangun pengetahuan fleksibel yang dapat digunakan dalam situasi baru.

  1. Merangkul kesulitan yang menguntungkan

Pembelajaran yang terasa mudah seringkali tidak bertahan lama dalam ingatan.

Robert dan Elizabeth Bjork menyebut konsep ini sebagai desirable difficulties, yaitu sejumlah kecil gesekan yang membuat pembelajaran lebih tahan lama.

Menulis tangan memaksa selektivitas dan sintesis, memberikan usaha yang efektif dengan cara yang baik.

Gesekan produktif yang sama inilah yang membuat penulis tangan cenderung lebih baik dalam tes konseptual karena otak bekerja lebih keras saat encoding.

Kerja keras ini akan terbayar kemudian saat proses retrieval atau mengingat kembali informasi.

Sifat ini menunjukkan bahwa kamu nyaman menukar kemudahan jangka pendek dengan keuntungan jangka panjang, bersedia menanggung sedikit perjuangan sekarang untuk mengingat lebih baik nanti.

  1. Memiliki kesadaran metakognitif dan membangun otak eksternal

Aktivitas menulis membantu dalam dua cara: encoding yang dilakukan saat mendengar atau membaca, dan penyimpanan eksternal yang dapat ditinjau kemudian.

Penelitian klasik Kenneth Kiewra memisahkan kedua fungsi tersebut dan menunjukkan bahwa keduanya sama pentingnya.

Penulis tangan cenderung memanfaatkan keduanya dengan menulis untuk berpikir, kemudian mengunjungi kembali, mereorganisasi, dan merangkum setelahnya.

Langkah review ini memanfaatkan self-regulated learning yaitu merencanakan cara belajar, memantau apa yang diketahui, dan menyesuaikan sesuai kebutuhan.

Tinjauan luas tentang teknik pembelajaran menempatkan self-testing dan spaced practice di antara strategi paling efektif, dan tulisan tangan mudah ditutup untuk pemeriksaan retrieval cepat.

Kamu juga pragmatis tentang memori dengan melakukan cognitive offloading, menyimpan informasi di luar kepala untuk membebaskan bandwidth mental melalui daftar tugas, kotak centang di margin, atau "cheat sheet" yang dibuat ulang setiap minggu.

  1. Pemikir yang mewujudkan ide dalam bentuk fisik

Menulis tangan bukan sekadar "media lama" tetapi merupakan tindakan fisik yang lebih kaya dibanding menekan tombol keyboard.

Studi EEG kepadatan tinggi menunjukkan bahwa menulis atau menggambar dengan tangan melibatkan jaringan otak yang lebih luas dan terkoordinasi dibanding mengetik.

Para peneliti berpendapat bahwa gerakan motorik halus ini dapat menciptakan pola yang mendukung memori dan pemahaman.

Hal ini tidak berarti laptop buruk secara keseluruhan, tetapi cara kamu berinteraksi dengan informasi sangatlah penting.

Kamu lebih suka alat yang memungkinkan untuk membentuk, menandai, dan secara literal menelusuri struktur ide.

Preferensi ini menunjukkan bahwa kamu adalah pemikir yang mewujudkan konsep abstrak menjadi sesuatu yang dapat dirasakan secara fisik.

EDITOR: Hanny Suwindari