← Beranda
Quarter Life Crisis di Usia 20-an: Kenapa Banyak yang Mengalaminya dan Bagaimana Cara Mengatasi Fase Sulit Ini?
Aria Maulana SatriyoSenin, 22 September 2025 | 03.48 WIB
Ilustrasi quarter life crisis. (Pexels/Andrea Piacquadio)

JawaPos.com – Sering merasa hidupmu mandek di usia 20-an? Atau tiba-tiba panik saat lihat teman seangkatan sudah melangkah lebih jauh? 

Fenomena ini dikenal sebagai quarter life crisis, fase di mana banyak anak muda merasa bingung, cemas, dan mempertanyakan arah hidup. 

Biasanya terjadi di usia 20 sampai awal 30-an, ketika tanggung jawab mulai menumpuk tapi tujuan masih samar. 

Rasanya seperti respawn di hutan belantara tanpa persediaan apa apa dan tidak tahu pasti ke mana harus melangkah, tapi sadar harus bertahan hidupi. 

Kondisi ini bukan sekadar drama anak muda, melainkan bagian dari perkembangan psikologis yang nyata. 

Di Indonesia sendiri, fenomena ini cukup tinggi. Sebuah studi di Surabaya menemukan 55,6% anak muda mengaku mengalami mid-life crisis lebih awal, 

Sedangkan penelitian di Makassar menunjukkan 59% mahasiswa tingkat akhir merasakan gejala quarter life crisis, mulai dari kecemasan hingga ketakutan soal masa depan (Hasyim et al., 2024). 

Artinya, krisis seperempat abad bukan sekadar "fase”", tapi sesuatu yang nyata dialami banyak orang di usia 20-an.

Nah, biar lebih jelas, mari kita bahas beberapa tanda dan penyebab quarter life crisis di usia 20-an yang mungkin juga sedang kamu rasakan.

Langsung saja simak penjelasan berikut dari beberapa studi di jurnal National Library of Medicine dan Newport Institute.

Penyebab Quarter Life Crisis

1. Transisi dari Dunia Kampus ke Dunia Nyata

Banyak anak muda merasakan quarter life crisis ketika baru saja lulus kuliah atau sedang menapaki awal karier. 

Dari yang tadinya dunia terasa “aman” dengan jadwal kuliah dan tugas, tiba-tiba realita menuntut tanggung jawab lebih besar. 

Seperti mencari pekerjaan, menghidupi diri sendiri, bahkan menyiapkan masa depan. 

Perubahan mendadak ini sering menimbulkan kebingungan, kecemasan, dan rasa tidak siap menghadapi hidup orang dewasa.

2. Tekanan Usia dan Ekspektasi Sosial

Rentang usia 25–33 tahun sering disebut sebagai fase paling rawan quarter life crisis. Di fase ini, ekspektasi sosial mulai menekan. 

Contohnya harus punya pekerjaan tetap, harus menikah, bahkan harus punya rumah sendiri. 

Di Indonesia, tekanan ini semakin kuat karena adanya budaya malu (shame culture), di mana hidup sering dibandingkan dengan standar keluarga atau masyarakat. 

Akhirnya, banyak yang merasa gagal jika belum bisa memenuhi ekspektasi tersebut.

3. Faktor Gender dan Hubungan Pribadi

Menariknya, penelitian menunjukkan bahwa perempuan lebih rentan mengalami quarter life crisis karena faktor hubungan romantis dan tekanan menuju pernikahan. 

Sementara itu, laki-laki lebih banyak menghadapi krisis terkait pekerjaan dan karier. 

Pada intinya, baik laki-laki maupun perempuan sama-sama membawa beban yang besar, hanya saja bentuknya berbeda. 

Hubungan yang tidak stabil atau dukungan sosial yang lemah juga memperparah krisis ini.

4. Masalah Keuangan dan Kemandirian

Keinginan untuk kemandirian finansial sering kali menjadi pemicu quarter life crisis, karena realita yang ada tidak sesuai dengan ekspektasi.

Banyak yang baru lulus kuliah lalu dihadapkan dengan kenyataan sulitnya mencari pekerjaan tetap, gaji yang tidak sesuai harapan, atau kebutuhan hidup yang terus meningkat. 

Hal ini menciptakan kecemasan yang berlapis terutama pada sandwich generation seperti takut tidak bisa mencukupi kebutuhan diri sendiri, apalagi membantu keluarga atau menabung untuk masa depan.

5. Ketidakpastian Tujuan Hidup

Di usia 20-an, banyak orang merasa “tersesat” karena belum tahu mau jadi apa di kemudian hari bahkan saat itu juga. 

Ada yang bingung memilih karier, ada yang gelisah soal pasangan, bahkan ada yang merasa kuliahnya tidak sesuai passion. 

Penelitian menunjukkan, 43% responden di usia 20-an mengalami frustrasi terkait pilihan profesi dan arah masa depan mereka.

Rasa ragu dan cemas terhadap komitmen jangka panjang—baik pekerjaan maupun hubungan—tentunya bisa membuat quarter life crisis semakin berat. 

6. Kesehatan Mental yang Rapuh Sejak Remaja

Setengah dari masalah kesehatan mental orang dewasa sebenarnya sudah muncul sejak remaja. 

Jadi, wajar kalau di usia 20-an, masalah lama seperti kecemasan, rasa tidak percaya diri, atau trauma masa kecil ikut memicu quarter life crisis. 

Hal ini sering membuat seseorang mudah merasa tertekan, kesepian, bahkan mengalami gejala depresi setelah lulus kuliah atau masuk dunia kerja.

7. Penurunan Religiusitas dan Krisis Spiritualitas

Penelitian juga menunjukkan bahwa masa awal dewasa sering ditandai dengan menurunnya apresiasi terhadap agama atau spiritualitas. 

Di saat yang sama, justru banyak beban hidup baru muncul saat meninggalkan tiang agama yang harusnya menjadi secercah harapan. 

Perpaduan keduanya membuat anak muda rentan kehilangan arah, merasa hampa, atau mempertanyakan makna hidupnya. 

Hal ini tentu saja berbaha karena jika dibiarkan, ini bisa berkembang menjadi krisis eksistensial yang serius.

Cara Mengatasi Quarter Life Crisis di Usia 20-an

1. Luangkan Waktu untuk Refleksi Diri

Kadang kita terlalu sibuk mengejar apa yang “seharusnya” dicapai, sampai lupa bertanya “sebenarnya apa sih yang penting buat diri sendiri?” 

Coba tulis hal-hal kecil yang bikin kamu merasa hidup entah itu musik, traveling, olahraga, atau sekadar nongkrong bareng sahabat. 

Lalu, bandingkan dengan kehidupan yang kamu jalani sekarang. Dari sana kamu bisa lebih jelas melihat mana yang perlu dipertahankan dan mana yang bisa diubah. 

Journaling atau ngobrol deep talk dengan teman dekat bisa jadi titik awal yang bagus untuk memahami arah hidupmu.

2. Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Tidak hanya pada realita, scrolling media sosial sering membuat quarter life crisis semakin parah. 

Teman kelihatan sudah punya pekerjaan mapan, pasangan ideal, atau liburan mewah padahal yang ditampilkan hanyalah highlight hidup mereka. 

Kalau terus-terusan dibandingkan, kamu hanya akan merasa kurang. Alih-alih sibuk melihat “rumput tetangga”, lebih baik fokus memperkaya hidup sendiri. 

Patut diIngat, perjalanan setiap orang itu berbeda. Apa yang cocok untuk orang lain belum tentu jalan yang pas buatmu.

3. Bangun Resiliensi di Tengah Tekanan

Hidup di usia 20-an memang penuh gejolak. Karena itu, membangun ketahanan diri atau resilience jadi kunci. 

Latihan mindfulness, teknik pernapasan, atau sekadar rutin olahraga bisa membantu menurunkan stres. 

Jangan lupakan juga kebiasaan kecil seperti menulis daftar rasa syukur. Dengan begitu, kamu punya energi ekstra untuk menghadapi naik-turunnya hidup tanpa mudah goyah.

4. Belajar Menerima Diri Apa Adanya

Banyak anak muda merasa harus selalu sempurna. Karier lancar, hubungan stabil, keuangan aman. 

Padahal sangat tidak apa-apa kalau hidupmu belum “sempurna” di usia 20-an. Wajar kalau kamu ganti pekerjaan, putus hubungan, atau merasa bingung soal masa depan. 

Itu bukan kegagalan, tapi bagian dari proses menjalani hidup. Belajarlah memberi ruang untuk menyayangi diri sendiri. 

Hidup bukan lomba tentang kecepatan, tapi perjalanan panjang yang dengan terus berkembang.

5. Cari Dukungan dan Bangun Koneksi Nyata

Quarter life crisis bisa terasa lebih ringan ketika kamu punya orang-orang yang bisa dipercaya untuk berbagi. 

Entah itu sahabat, pasangan, keluarga, atau komunitas, koneksi yang autentik membantu kita merasa tidak sendirian. 

Kadang hanya dengan tahu bahwa orang lain juga sedang bergulat dengan kecemasan yang sama, rasa tertekan jadi berkurang. 

Bahkan riset menunjukkan, keterhubungan dengan komunitas bisa melindungi dari depresi dan perilaku berisiko.

6. Pertimbangkan Konseling Profesional

Kalau krisis terasa terlalu berat ditanggung sendiri, jangan ragu mencari bantuan profesional. 

Konselor atau psikolog bisa memberikan ruang aman untuk mengenali dirimu lebih dalam, memproses ketakutan lama, dan menemukan strategi coping yang sehat. 

Di Indonesia, stigma pergi ke psikolog memang masih ada, seolah-olah hanya untuk “orang gila”. 

Padahal, faktanya tidak begitu. Terapi justru bisa membantu anak muda menemukan harapan baru dan keluar dari quarter life crisis dengan bekal mental yang lebih kuat. (Aria Maulana Satriyo)

EDITOR: Novia Tri Astuti