JawaPos.com – Pernah merasa sudah membuat daftar pekerjaan, tapi ujung-ujungnya tetap menunda hingga detik terakhir? Fenomena ini disebut procrastination atau kebiasaan menunda pekerjaan. Meski terlihat sepele, menunda tugas ternyata punya alasan psikologis yang cukup kompleks dan bisa berdampak pada kualitas hidup.
Menurut kanal edukasi Satu Persen – Indonesia Life School, procrastination bukan sekadar malas, melainkan bentuk mekanisme pertahanan diri. Otak cenderung menghindari rasa tidak nyaman dari tugas yang terasa sulit, membosankan, atau berisiko gagal. Akibatnya, seseorang lebih memilih aktivitas lain yang memberi kepuasan instan, seperti scrolling media sosial atau menonton film.
Psikolog Indah SJ, M.Psi. juga menjelaskan hal serupa. Dalam salah satu kontennya di TikTok, ia menyebut menunda pekerjaan sering dipicu oleh rasa takut salah atau takut menghadapi penilaian orang lain. “Banyak orang lebih memilih menunda daripada langsung mengerjakan, karena ada ketakutan tidak mampu menghasilkan sesuatu yang sempurna,” katanya.
Sifat Orang yang Sering Menunda Pekerjaan
Konten kreator @judithyapitana di TikTok menambahkan, orang yang sering menunda biasanya memiliki pola perfeksionis. Mereka ingin hasil terbaik, tetapi justru menunda karena cemas tidak bisa mencapainya. Selain itu, faktor kurang percaya diri dan kebiasaan overthinking juga memperparah siklus ini.
Senada, akun @unmasking.human menjelaskan bahwa procrastination berkaitan dengan emotional regulation. Artinya, menunda adalah cara seseorang menghindari emosi negatif, meskipun dampaknya justru menambah stres ketika deadline semakin dekat.
Mengapa Procrastination Berbahaya?
Psikolog klinis Marissa Medi menegaskan, kebiasaan menunda pekerjaan tidak hanya menurunkan produktivitas, tetapi juga memengaruhi kesehatan mental. Rasa bersalah, cemas, hingga rendah diri bisa muncul setelah seseorang menunda terlalu lama. Dalam jangka panjang, hal ini membuat orang kehilangan peluang penting, baik dalam karier maupun kehidupan pribadi.
Satu Persen menambahkan, procrastination yang tidak ditangani bisa berkembang menjadi kebiasaan kronis. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa menghambat pertumbuhan diri karena seseorang terbiasa menghindari tantangan dan kenyataan.
Bagaimana Cara Mengatasinya?
Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi kebiasaan menunda:
-
Bagi pekerjaan besar menjadi langkah kecil. Psikolog menyarankan agar tugas dipecah menjadi bagian yang lebih sederhana agar terasa ringan untuk dikerjakan.
-
Gunakan teknik manajemen waktu. Misalnya metode Pomodoro, yaitu fokus selama 25 menit lalu istirahat sebentar.
-
Kelola ekspektasi diri. Belajar menerima hasil yang cukup baik (good enough) lebih baik daripada menunggu sempurna namun tidak selesai.
-
Kenali emosi yang muncul. Sadari bahwa menunda seringkali berasal dari rasa takut atau cemas, bukan sekadar malas.
-
Kurangi distraksi. Batasi akses ke media sosial atau hal lain yang bisa mengalihkan perhatian.
Menunda pekerjaan adalah fenomena umum, tapi bukan berarti wajar untuk dibiarkan. Dengan memahami penyebab psikologis di baliknya, setiap orang bisa belajar mengelola kebiasaan ini. Disiplin kecil sehari-hari, teknik pengelolaan waktu, serta keberanian menghadapi ketakutan bisa menjadi langkah awal untuk melawan procrastination. Pada akhirnya, menyelesaikan pekerjaan tepat waktu bukan hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga menjaga kesehatan mental tetap stabil.
Menghadapi kebiasaan menunda memang tidak mudah, namun langkah kecil yang konsisten akan membawa perubahan besar. Mulailah dengan mengenali pola pribadi, lalu perlahan ubah cara pandang terhadap pekerjaan yang terasa berat. Dukungan dari lingkungan, motivasi diri, dan penerapan strategi sederhana bisa menjadi kunci keberhasilan. Ingat, setiap tindakan kecil yang dilakukan hari ini adalah investasi untuk masa depan yang lebih teratur, produktif, dan bebas stres.